Like

Selasa, 27 November 2012

VI. 2. Di Paris, acara kumpul-kumpul dan makan-makan yang paling seru!

Ngumpul dan makan-makan adalah perpaduan yang sempurna ;)

Di cerita sebelumnya saya menulis tentang pertemanan di Paris dengan orang-orang Indonesia di Paris, yang akhirnya rasa kebersamaan timbul dengan sendiriya dan akhirnya kita seperti keluarga.

Walaupun di Paris mayoritas warga negara Indonesia lebih sering berkumpul dengan penduduk lokal dan orang asing karena tuntutan kehidupan, pekerjaan dan sekolah, tetapi kebanyakan dari mereka tetap mencari dan berkumpul dengan sesama warga negara Indonesia. Hanya masalah frekuensi dan waktu saja yang membedakan: jarang, kadang-kadang atau sering.

Mayoritas dari mereka malah membuat jadwal pertemuan makan siang bersama. Misalnya seminggu sekali, 2 minggu sekali, sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Bahkan seringkali acara pertemuan secara dadakan, karena kesibukan masing-masing.

Dan ada beberapa komunitas dan asosiasi juga yang mereka bentuk. Tergantung latar belakang masing-masing. Misalnya para mahasiswa yang mempunyai wadah perkumpulan turun temurun: Perkumpulan Pelajar Indonesia. Atau ada pecinta budaya Indonesia yang membentuk perkumpulan di bidang seni dan budaya. Bahkan arisan dan dugem bareng pun ada perkumpulannya.

Bagi saya, banyaknya perkumpulan wajar saja. Karena selain seleksi alam, pertemanan tidak bisa dipaksakan kita harus cocok dengan siapa. Selama masing-masing saling menghargai dan tidak saling mengganggu.

Selain itu juga, berkumpul dengan sesama warga Indonesia banyak serunya. Berbagi suka dan duka merasakan kehidupan di Prancis. Merantau di negara orang sampai harus berusaha secara maksimal menguasai bahasanya yang sulit. Jadi, ketika berkumpul sesama orang Indonesia, bisa dikatakan semacam terapi: boooo…akhirnya berbahasa Indonesia lagi, ya, nek!

Bakso, jadi menu andalan di musim dingin ;)
Dari semua perkumpulan yang dibentuk dan terbentuk, yang paling seru memang acara kumpul-kumpul dan makan-makannya. Yang menarik, mayoritas warga negara Indonesia pintar mengolah bumbu seadanya sampai menjadi masakan lezat. Bila sudah agak ahli, aneka bumbu dapur dan bahan-bahan masakan akan diburu ke China Town di daerah Paris 13, di kantin KBRI atau bahkan belanja ke negara tetangga, Belanda.

Menu makan siang ´seadanya´. Tapi, kalau disantapnya di Paris, terasa istimewa rasanya. 

Walaupun dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas juga memasak masakan Indonesia, dijamin, deh, berkumpul dan makan-makan masakan Indonesia akan jadi beda rasanya karena disantap bersama-sama. Maunya nambah terus. Siap-siap, nih, kalau jadi tuan rumah, harus memasak ekstra nasi, ekstra lauk dan ekstra cemilan, hehe…

Pastel hasi buatan sendiri ;)

Dari segi masakan, mayoritas orang Indonesia yang di Paris menghargai aneka jenis masakan dan cemilan negeri sendiri. Bakwan, risol atau pastel yang nampaknya jadi cemilan biasa di Indonesia, akan terasa luar biasa jika dimasak dan dikonsumsi di Paris. Juga nasi goreng, mi goreng dan sambal terasi akan terasa istimewa rasanya. Kesannya hiperbola, ya? Percaya, deh, jika Anda suatu saat mengalami hidup di luar negeri (tidak hanya di Prancis), aneka jenis masakan dan cemilan Indonesia adalah semacam penemuan  harta karun. Apalagi bagi mereka yang kangen rendang berikut sambal ijo-nya

Cassoulet, masakan dari daerah barat daya Prancis. Populer di  kota Toulouse dan daerah Languedoc.

Sebenarnya, masakan prancis juga tak kalah seru dan lezat, seperti ratatouilles, confit de canard, cassoulet dan aneka salad. Juga aneka pencuci mulut yang beragam, seperti kue-kue yang lezat, macaron atau crepes, tak kalah menarik perhatian untuk dilahap. Tetap saja, lidah orang Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari nasi, ikan asin, sambal terasi, bakso dan mi goreng. 

Aneka dessert yang yummy.

Walaupun demikian, mayoritas lidah orang Indonesia di luar negeri banyak bertoleransi, kok. Misalnya tidak menyantap masakan Indonesia pun, mereka tetap bisa menikmati masakan lokal dan internasional. Jadi, tidak mesti harus memakan masakan Indonesia setiap waktu.
Berkumpul dan menyantap soto ayam di rumah Wida (paling kiri) di Saint-Lo, Prancis. Cewek-cewek yang hadir, tinggal tersebar di beberapa kota di Prancis. Kumpul-kumpul dan makan-makan menyatukan kami ;)
Ki-ka: Siska (Nice), Rose(Clermont-Ferrand), Lisa (Nante), saya, Helene (Jonquiere). Dewi dan Wida.

Sisi lainnya, berkumpul dan memasak masakan dan cemilan asal negeri sendiri mempererat silaturahmi antar sesama warga negara Indonesia yang tidak hanya tinggal di Paris saja, tetapi juga di kota-kota lain di Prancis. Telepon dan email jadi sarana untuk saling bertanya resep suatu masakan.

(Untuk semua teman-teman di Prancis. Jadi rindu masak-masak dan makan bareng lagi).

Foto Bakso dan Menu Makan siang: Koleki Ibu Iin, yang saat ini menetap di Abu Dhabi.
Foto bawah cewek-cewek: Koleksi Rose 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar