Like

Selasa, 13 November 2012

III. 5. Kangen Girlfriends

Di saat-saat waktu melamun yang lebih sering di perpustakaan sekolah sambil sibuk mengerjakan tugas sekolah, dengan kesibukan yang saya miliki saat itu membuat saya tidak banyak bergaul dengan siapapun, termasuk dengan orang-orang Indonesia sekalipun. Ada, sih, beberapa teman Indonesia yang memang sudah saya kenal di Indonesia. Mereka adalah teman-teman penari di Liga Tari UI, teman-teman penari freelance, teman-teman satu kampus tetapi berbeda fakultas yang menikah dengan orang Prancis dan kemudian menetap di Paris.

Tetapi, dengan berbagai kesibukan yang kami miliki, jarang sekali kami berkumpul kecuali ada satu kegiatan yang membuat kami bertemu. Menjadi mahasiswa di Paris memang super sibuk dan harus konsentrasi penuh pada saat masa sekolah sedang padat-padatnya. Tetapi jika ujian sudah selesai dan masa liburan datang, para mahasiswa ini dijamin tidak menyentuh buku. Karena memang mereka bisa membedakan kapan waktunya serius sekolah, kapan waktunya benar-benar menikmati liburan.

Mempunyai dan memiliki teman di Paris bisa dibilang mudah tapi sulit. Seperti halnya dimana saja. Karena untuk menemukan teman yang cocok, bisa dibilang dengan cara hang out bareng atau mengikuti kegiatan yang sama. Dengan begitu, kita bisa mengetahui dan mengerti sosok mereka seperti apa. Lalu juga, dengan berjalannya waktu dan kecocokan yang dimiliki, maka dengan sendirinya, kita berteman tanpa harus meminta dan diminta.

Tipe teman pun ada bermacam-macam. Biasanya yang cocok adalah mereka yang mempunyai latar belakang dan nasib yang kurang lebih sama. Bukannya mencari teman sependeritaan, tetapi keadaan tersebut membuat sikap toleransi menjadi muncul. 

Ada juga teman yang kerjanya hura-hura melulu. Mereka ini tipe yang tidak memikirkan sekolah dan uang didapat dengan meminta dari orang tua. Saya, sih, tidak mempersoalkan selama mereka tidak mengganggu kita. Sikap saling menghargai disini sangat diperlukan. Saya Cuma bisa bergumam dalam hati: beruntung sekali, ya, mereka. Coba diimbangi dengan prestasi, bahasa lokal dikuasai dan sekolah yang benar, pasti masa depannya cerah. Paling tidak, dibikin mahir, deh, bahasanya. Sayang sudah jauh-jauh ke Paris, tetapi bahasa lokal tidak diasah. Lah? Kok malah sibuk mikirin kehidupan orang lain yang lebih beruntung, hehe..

Macam teman lainnya adalah mereka yang mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis atau pemerintah Indonesia. Kebanyakan dari mereka biasanya serius, walaupun ada beberapa yang gokil. Saya menganggap wajar jika mereka serius karena mereka memikul tanggung jawab yang tidak mudah untuk berhasil dalam pendidikannya. Tipe macam ini biasanya enak buat diajak diskusi dalam hal politik, ekonomi atau topik yang sedikit berat. Walaupun kalau diajak dugem dan pesta, pasti mereka ayo aja, sih

Berbagai macam teman yang saya jumpai di Paris memang mempunyai karakteristik sendiri. Karena tujuan berada di Paris bermacam-macam, maka tidak jarang kita berkutat dengan kesibukan masing-masing untuk mencapai tujuan yang tentunya berbeda-beda. 

Persamaan yang membuat kami cocok satu sama lain adalah karena kami sedang berada di Paris pada waktu yang bersamaan. Terkadang kami juga tidak bisa memilih teman yang benar-benar cocok karena memang tidak ada banyak pilihan. Sehingga, berteman selama di Paris bisa dibilang karena keadaan. Dan kalau akhirnya cocok, itu sebagai bonus.

Lain halnya jika saya bercerita tentang teman-teman asing atau teman-teman prancis. Disini saya mempelajari budaya yang berbeda. Di Prancis sendiri, untuk memilih dan memiliki teman kemudian cocok, hal tersebut jarang terjadi. Sulitnya memulai pertemanan adalah kesan pertamanya tidak ingin terlalu dekat, terlalu terbuka. Intinya, sih, curiga dulu. Walaupun kesan pertama sepertinya cocok dan mungkin kita akan melakukan sesuatu bersama-sama, siap-siap kecewa dengan kenyataan, yang lebih berkata tidak. 

Contoh yang pasti, kita tidak mungkin dengan mudah mengucapkan: ¨besok malam gue ke rumah lo, ya¨. Sebaiknya kita menunggu dia untuk mengundang ke rumahnya. Hindari datang secara tiba-tiba ke rumah orang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

Nggak perlu jauh-jauh mencari teman sebenarnya. Misalnya dengan tetangga 1 lantai atau 1 apartemen, inginnya, sih, saya bisa sedikit akrab. Lagi-lagi menganut budaya timur bahwa tetangga adalah keluarga kita yang paling dekat. Setidaknya jika terjadi apa-apa, tetanggalah yang direpotkan nomor satu. Tetapi dalam kasus tinggal di Paris dan 1 gedung. Belum tentu kita saling mengenal atau bertegur sapa. Apalagi misalnya dibilang tetangga di 1 lingkungan. Belum tentu lagi mengenal. Fenomena masyarakat kota besar, terutama di Paris memang sudah sedemikian sendiri-sendiri menjalankan hidup. Jadi jangan harap saling menegur dengan tetangga dekat.

Pertama-tama, sih, saya kaget. Apalagi dibandingkan dengan budaya timur yang cepat sekali akrab dan terbuka dengan orang lain. Budaya ini tidak bisa saya terapkan di Paris. Karena orang akan cepat salah sangka. Dikiranya kita menginginkan sesuatu atau malah ingin mengambil keuntungan darinya. Ih, serem, ya. Menyebalkan sekali mempunyai kehidupan sosial yang seperti itu. Tetapi lama kelamaan saya menjadi terbiasa. Mungkin karena faktor lingkungan juga.

Hal lain yang saya pelajari dalam kehidupan bersosialisasi adalah jika kita benar-benar berteman dengan orang Prancis, belum bisa dibilang kita akrab atau berteman baik selama mereka belum mengundang kita makan atau sekedar ngopi dan minum teh di rumahnya dan memperkenalkan kita ke keluarganya. Kalau kita sudah mencapai tahap ini, bisa dikatakan, kita adalah satu salah orang yang diperhitungkan di dalam kehidupannya.

Lain halnya dengan teman-teman asing lainnya. Kita bisa dengan mudah cepat akrab. Mungkin karena merasa sesama perantauan di Paris. Karakter, sifat dan tujuan mereka berbeda-beda. Ya, iyalah. Setiap orang pastinya mempunyai ciri khas tersendiri. Di universitas, saya berteman baik dengan teman-teman asal eropa timur, Rusia dan Brazil. Mereka cantik, pintar, tidak sombong dan yang paling penting tidak pelit untuk tersenyum. Walaupun ada anggapan bahwa tidak mudah berteman dengan orang Rusia, tetapi saya menepis anggapan itu. Kami berteman cukup akrab.

Sepunya-punya teman di Paris, entah itu orang Indonesia atau bangsa manapun, tetap saja saya rindu dengan teman-teman di tanah air. Kegilaan kita berbeda. Tentunya dengan berjalannya waktu, tali persahabatan dengan mereka tidak putus, malah semakin erat. Kami terus berkomunikasi melalui email dan messenger. Karena pada waktu itu, media sosial yang marak sekarang ini belum populer.

Tentunya ada rasa berbeda ketika kita ingin curhat atau ingin ngobrol sesuatu yang bersifat rahasia. Intinya, berteman dengan orang-orang asing tidak membuat saya nyaman bercerita apapun yang saya mau. Huh! 


Ki-Ka: Kiki, Iva, Aan, Dewi, Mella, Ita. Friends Forever.

Kalau lagi dalam situasi seperti ini, baru, deh, terasa pentingnya girlfriends. Mereka selalu ada untuk kita. Dan kami sudah seperti keluarga. Apalagi kami mengalami masa peralihan remaja ke dewasa bersama-sama. Kami beranjak dewasa bersama. Membagi kegilaan, suka dan duka dan tentunya mengenang semua kegiatan yang pernah dilakukan bersama.

Kalau pulang ke Jakarta, selalu bikin kaget mereka, hehe..

6 komentar:

  1. Lain hulu lain belalang. Lain teman lain belangnya hahahaa Gimanapun kalau dah berteman lama, jauh di mata akan selalu dekat di hati :* Miss youuu

    BalasHapus
  2. OMG of all the pictures we have.ini brp belas tahun yg lalu ya? Masa2 gadis belia wkwkwk. Take care darling.hugs

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi..iya, Ances...ini dikirim Mella fotonya. Hugs..miss you, deh...

      Hapus
  3. Huhuhu berkaca2 baca blognya. Miss you darliiiing :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa..jadi kangen, kan? Ini perasaan yg sebenernya kangen kalian..walo jauh di mata, dekat di hati ;) rumpiiiii...hahahhahahaa....

      Hapus