Like

Selasa, 13 November 2012

III. 4. Hidup di Paris tidak sama dengan menjadi Turis

Menjelang musim panas, nongkrong di pinggir Sungai Seine kadang perlu juga setelah didera rutinitas yang melelahkan. Melepas penat sambil melihat perahu lewat atau sambil membaca buku bisa menjadi hiburan yang murah meriah. 

Setelah mencoba dan memilih berpetualang hidup di Paris, tahukah Anda bahwa pesona kota Paris selalu indah ketika kita hanya mengunjungi, mengenal dan menikmatinya sebagai turis? Bagaimana dengan ritme kehidupan kota cantik ini?

Menikmati Paris saat menjadi turis dengan menjadi penduduk sementara tentunya berbeda. Jika pada saat itu saya berkunjung menjadi turis, saya mempunyai jadwal padat dengan segudang agenda dan tempat kunjungan. Semuanya itu demi mengejar waktu yang memang terbatas.

Selama beberapa waktu saya mengalami kehidupan di Paris sebagai mahasiswa di Institut Catholique de Paris dan akhirnya bisa diterima sebagai Universitas Sorbonne 3 jurusan Literatur Prancis, saya baru mengalami kehidupan yang sebenar-benarnya.

Dengan berjalannya waktu yang diisi dengan kuliah, kerja serabutan dan mengerjakan ini itu. Paris terkadang tidak bersahabat. Melainkan jadi sebuah kota monster yang siap menelan siapa saja yang menyerah atau mengeluh. 

Paris bisa menjelma menjadi rasis ketika saya dihadapkan pada suatu persoalan. Kemudian muncul anggapan bahwa orang Asia, tuh, begini. Orang Asia begitu. Padahal, hellooooo? Setiap orang, kan, mempunyai karakter yang berbeda-bedaberbeda-beda. Jangan men-generalisir, dong. Seringkali saya nggak ngerti untuk hal yang satu itu. Oh, jadi begitu Negara pencetus Hak Asasi Manusia. Tetap saja bersikap rasis memperlakukan bangsa lain. Kalau mood saya jelek, saya suka asal menjawab bahwa saya tidak menetap di Paris, melainkan jalan-jalan untuk membantu pemerintah Prancis menaikkan devisa Negara. Hehe.. Ih, sinis, ya

Bahkan saya sampai lupa bahwa ada Menara Eiffel yang menjadi simbol kota Paris yang tetap menjadi kebanggaan penduduknya. Beberapa museum yang belum saya kunjungi, ngopi sejenak di kedai kopi dekat apartemen atau bahkan berhaha-hihi dengan teman-teman Indonesia. Atau parahnya lagi, saya menjadi kurang ngobrol dengan Tasha, roomate saya yang baik hati.


Salah satu sudut di dekat Universitas Sorbonne. 

Biar bagaimanpun, pengalaman dan kisah kehidupan di Paris, cukup menyenangkan dan membuat saya bertambah dewasa. Tidak hanya langsung nyebur dalam komunitas masyarakat lokal, tetapi juga dihadapkan dengan berbagai macam persoalan hidup sehari-hari. Dari yang tadinya stres dengan bahasa dan pelajaran di universitas. Pekerjaan rumah menulis redaksional yang tidak kunjung selesai karena keterbatasan kosa kata dalam bahasa prancis, membuat saya terkadang menyerah, ingin pulang. Kelelahan karena harus mengerjakan banyak hal. Sampai akhirnya saya tersenyum menikmati semua persoalan dan keberuntungan kehidupan di kota kelahiran banyak filsuf dunia ini.

Memang tidak selamanya saya mengalami pengalaman menyebalkan. Bukti lainnya, saya bisa menikmati fasilitas sekolah yang serba modern dan gratis. Perpustakaan, komputer bahkan saya banyak mendapat kemudahan dan potongan harga dengan harga mahasiswa. 

Kalau kita pintar, banyak sekali yang bisa dimanfaatkan selama kita memegang status mahasiswa. Misalnya, untuk tiket transport umum, kita diuntungkan dengan potongan harga 50% dari harga normal. Tapi, hal ini tergantung dari usia kita. Jika di atas 26 tahun, ya, dianggap sudah bisa membeli tiket secara full dan dihitung bukan mahasiswa lagi. Tetapi, semahal-mahalnya transportasi umum di Paris, masih bisa dibilang murah karena memakai sistem unlimited pemakaiannya selama kita membeli tiket selama bulanan atau tahunan.

Tetapi, menikmati pengalaman sebagai mahasiswa dan tinggal di Paris, adalah anugerah yang harus saya syukuri. Jadi, pengalaman suka dan duka selalu saya nikmati saja. Biar bagaimanapun, pengalaman itulah yang mewarnai hidup saya.

Hal lain yang bisa saksikan kehidupan merantau di Paris adalah bertemu banyak orang Indonesia yang berasal dari berbagai suku bangsa berbeda, status sosial berbeda dan tujuan berbeda mengapa akhirnya mereka memilih Paris sebagai jembatan hidup. Alasan bermacam-macam. Antara lain karena  menikah dengan warga negara Prancis, akhirnya para wanita mengikuti para suami ke negara asalnya. Banyak anak muda Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan di kota mode ini, baik itu biaya sendiri atau beasiswa dari berbagai macam instansi atau yayasan di Indonesia ataupun Prancis. Atau ada yang dikirim bekerja dari perusahaannya beberapa tahun. Bahkan ada yang hanya ingin mencoba hidup di Paris itu seperti apa. Atau kisah telenovela yang ditinggal kekasih atau putus pacar, menjadikan Paris sebagai tempat pelarian. Hmm...

Well, warna warni kehidupan Paris ini yang menyertai pengalaman saya menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat lokal yang terkenal dengan sifat arogansi yang tinggi. Pada akhirnya, saya nggak ambil pusing. Kalau memang saya tidak menerima perlakuan itu, saya sudah kembali ke tanah air sejak lama.

Paris yang penuh pesona, tetap saja menyimpan berbagai misteri kehidupan setiap penghuninya. Ada tangis dan tawa, suka dan duka, serta haru dan bahagia. Biar bagaimanapun, Paris tetap menarik untuk dikunjungi dan menjadi kota pilihan para individu untuk memeluk mimpi-mimpinya. 

(Untuk teman-teman yang kuat mental menghadapi ritme kehidupan kota cahaya ini)



11 komentar:

  1. Saya bercita-cita sekali ke PARIS..walaupun sehari saya ingin sekali melihatnya.tuhaann kabulkan do'a ku

    BalasHapus
  2. Hello Wawan..
    Amin! Doamu didengar oleh dunia dan seluruh isinya membantu akan mewujudkannya. Semangat ya. Pasti ada jalan ke sini.

    BalasHapus
  3. Hallo mba. Mba punya line atau bbm ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Faris, aku gak punya. Kamu bisa email aku. Nanti kubalas ;)

      Hapus
  4. Mba punya bbm atau line? Kalau ad boleh saya minta ga mba mw tnya" dn silaturahmi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Fariz, kamu email aku aja ya..nanti kubales ;)

      Hapus
  5. Halo mba puruhita kenalin aku cindy dari fakultas ekonomi universitas indonesia. Kebetulan ak mau ke paris tgl 17 agsts nnt. Ak mau tanya2 suatu hal ke mba. Ak bisa hubungin mba kemana ya? Emailku cindyclaudiadya@gmail.com ya mba. Terima kasih. Ditunggu balasannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello Cindy, maaf ya baru balas. Emailku: puruhita.sardjan@gmail.com
      Atau aku bisa email Cindy duluan ;)

      Hapus
  6. hallo mba Puruhita salam kenal, Saya Riva...
    aku boleh ya tanya2 mengenai Paris melalui email

    BalasHapus
  7. Hallo mba Puruhita, salam kenal ya saya Riva dari Jakarta
    saya mau tanya2 mengenai Paris dengan Mba Puruhita, izinkan saya untuk mengirim email ke mba Puruhita..
    Thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo..salam kenal..
      Silakan..ditunggu emailmu ke puruhita.sardjan@gmail.com

      Hapus