Like

Selasa, 13 November 2012

III. 1. Lika Liku Selama Setahun di Paris

Tak terasa masa tinggal di Paris sudah setahun. Selama setahun itu, saya berjuang keras agar bisa berbahasa lokal baik lisan maupun tulisan.

Selama setahun itu pula, cukup banyak pengalaman yang saya dapatkan. Dari segi pertemanan , daftar bertambah. Lalu bersama teman-teman dari Indonesia, kami sempat menari tarian tradisional Indonesia di beberapa tempat, baik di Paris maupun di luar kota. Pengalaman menari ini sempat membawa saya ke Basel (Swiss) dan Sauerland (Jerman).

Sewaktu liburan musim panas, saya juga mengikuti summer course agar cepat lancar berbahasa prancis. Yang seru juga adalah sewaktu menemani anak-anak Aceh liburan di daerah Auvergne atas undangan Secours Populaire Français.

Herman dan saya bersama anak-anak Aceh di Stade de France, atas undangan Secours Populaire Français:
Pada saat musim panas itu juga, rasanya kurang afdol kalau tidak mengunjungi kerabat yang berada di eropa. Atas saran nenek dan ibu, saya berangkat ke kota Hoorn, bagian utara Belanda untuk menengok salah satu paman dari ibu  yang kebetulan memang tinggal disana. Perjalanan darat ke Belanda membuat saya mampir ke Brussel dan Amsterdam.

Pengalaman lain yang mengubah nasib saya akhirnya bisa sampai ke benua amerika latin (di blog berikutnya akan saya ceritakan) adalah ketika saya dan beberapa teman ikut mendampingi pengusaha-pengusaha Indonesia yang sedang melakukan pameran produk Indonesia di kota Strasbourg, bagian timur Prancis yang berbatasan dengan Jerman. Nah, dari sini saya bertemu dengan salah satu pengusaha yang menawarkan pergi ke benua eksotis, amerika latin.

Menjelang musim gugur sampai akhir tahun, saya kembali berkutat dengan pelajaran bahasa prancis dan pengetahuan umumnya untuk bekal mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri di Sorbonne Nouvelle jurusan Sastra Prancis.

Setelah setahun belajar bahasa Prancis di Institut Catholique de Paris, saya memberanikan diri mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri Sorbonne Nouvelle atau Universitas Paris 3 di bulan Februari 2006. yang menawarkan jurusan-jurusan sastra dan seni. Tes yang diikuti oleh ribuan calon mahasiswa asing ini semacam menentukan apakah saya akan tinggal atau meninggalkan Paris lalu pulang ke Indonesia. 

Jurusan yang saya mabil adalah ´Litérature Française' atau Sastra Prancis. Nekat? Memang. Saya ingin tahu tingkat kemampuan bahasa prancis saya, dan bersaing dengan para mahasiswa asing yang juga menginginkan tempat di bangku kuliah di Universitas Paris 3 tersebut. Dari ribuan mahasiswa yang mengikuti tes, universitas Paris 3 hanya memberikan 100 tempat bagi mereka  yang lolos ujian masuk dan tes bahasa.

Setelah mengikuti tes masuk perguruan tinggi selama 4 tahapan (tes tertulis, mendengarkan dialog, membuat karangan dan surat motivasi serta wawancara), akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia sambil menunggu hasil tes. Dengan pertimbangan, jika saya lulus tes, saya akan kembali ke Paris. Jika tidak, ya, saya melanjutkan hidup kembali di Jakarta. Nothing to lose.

(Paris, februari 2006, untuk ego yang selalu menantang diri sendiri)

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/iii-2-paris-tetap-memilih-saya.html


Tidak ada komentar:

Posting Komentar