Like

Selasa, 19 Maret 2013

IX. 3. Geger Budaya dari Eropa ke Amerika latin (1)


Di bab-bab dan cerita-cerita sebelumnya, saya menceritakan secara detil tentang pengalaman hidup di kota Paris sebagai mahasiswa yang rempongnya stengah mati. Nggak hanya sibuk sekolah, tetapi juga plesiran karena menari tarian tradisional ke berbagai kota di Prancis bahkan sampai ke Swiss dan Jerman, bekerja menjaga anak, menjadi pemandu untuk anak-anak Aceh sampai menjadi penerjemah bahasa di Pameran Produk Indonesia.

Kehidupan kota Paris dan negara Prancis yang sempat bikin shock dan tentunya saya mengalami geger budaya hingga harus menyesuaikan diri dan memerlukan waktu dengan kehidupan yang serba teratur, sempat mengubah ritme hidup saya.

Nah, setelah terbiasa dengan kebiasaan dan mulai mengenal kebiasaan penduduk kota Paris (sudah saya ceritakan di bab-bab sebelumnya di bulan november 2012, coba deh, tengok lagi), saya pun dengan rela meninggalkan kebiasaan yang sudah mulai terbiasa tersebut dengan nyemplung ke kehidupan penduduk amerika latin.

Ilustrasi peta Prancis dan benua amerika latin.

Mengalami geger budaya lagi? Jelas!
Geger budaya dari Indonesia ke Prancis lalu ke negara-negara amerika latin, kebayang, dong, berapa kali saya mengalami geger budaya? Dari kehidupan di Indonesia di mana saya dilahirkan dan dibesarkan serta dididik dengan kebiasaan Indonesia, kemudian saya merasakan menjadi penduduk kota Paris di usia dewasa (baca: di usia yang ideal menikah untuk wanita Indonesia).

Setelah mengalami menetap beberapa tahun sebagai penduduk kota Paris dan berhasil menyesuaikan diri dengan penduduk lokal, saya memutuskan untuk melanjutkan merantau ke benua amerika latin.

Jika ditanya mana yang lebih sulit menyesuaikan kebiasaan dari Indonesia ke Prancis dibandingkan dari Prancis ke benua amerika latin? Jawabannya adalah yang pertama: dari Indonesia ke Prancis. 

Mengapa? Selain benar-benar jomplang dari tata cara kehidupan sehari-hari sampai sistem pendidikan dan kebiasaan pendudduknya, saya jauh lebih ekstra kerja keras supaya bisa bertahan hidup di belantara kota Paris.

Ketika menyeberangi benua amerika latin dan yang saya kunjungi pertama kali kali adalah Paraguay, saya tidak menemukan geger budaya dan hambatan yang besar. Di negara latin ini malah saya seperti kembali ke rumah sendiri, hanya lebih jauh saja.

Maksudnya terasa kembali ke rumah sendiri, contoh yang paling nyata adalah di benua amerika latin, makanan utama mereka ditemani oleh nasi putih. Ini sungguh kabar baik sekali bagi saya yang dibesarkan oleh nasi sebagai menu sehari-hari. Mungkin bagi sebagian orang, saya dibilang norak. Tapi, ah, cuek aja, hihi…

Semua Tersenyum dan…(sok) akrab!

Contoh lainya di benua amerika latin yang membuat saya betah adalah semua orang tersenyum dan sok akrab tanpa bermaksud apa-apa. Coba di eropa? Boro-boro. Senyum sedikit disangka orang gila atau dikira ada maunya. Rempong, dah, ah…

Ketika menginjakkan kaki di Paramaribo, Suriname, lebih bersahabat lagi. Apalagi mengetahui saya dari Indonesia dan orang Jawa. Eh, lah dalah..langsung diajak berbahasa jawa mereka seakan bertemu kembali saudaranya yang hilang selama bertahun-tahun, bahkan menawarkan mampir untuk makan di rumahnya. Coba, kalau di eropa? Sampai lebaran kadal, seperti tidak akan terjadi…

Belum lagi ketika supir taksi di Santa Cruz de la Sierra, Bolivia yang baik hati dan mendoakan masa tinggal saya menyenangkan di Bolivia dan ngobrol dalam bahasa spanyol yang pada saat itu saya belum fasih seperti sekarang, tetap menyiratkan persahabatan dan tanda ´selamat datang´ dari penduduk setempat.

Pengalaman di kota-kota Brazil lebih parah lagi. Baru kenal saja, sudah seperti saudara. Langsung akrab. Biar kata bahasa nggak bisa, mereka berusaha membuat kita nyaman berkomunikasi dan mereka mencoba berbahasa inggris walaupun…kacau balau. Hihi…

Untuk mencairkan suasana, mereka seringnya menawarkan minuman. Jika kita tidak meminum alkohol, mereka akan menghormati dan menawarkan minuman lainnya. Selain itu, berdansa menjadi sarana untuk mencairkan suasana.

Beralih ke Colombia, yang ada makan…melulu! Mereka sangat suka membicarakan tentang makanan. Juga tentang keindahan alam Colombia sampai kopinya yang harum dan enak rasanya.

Lain lagi berbicara tentang Venezuela. Di negara ini saya melihat karakter penduduknya sedikit berbeda dengan penduduk negara-negara latin lainnya.

Mungkin karena saya tinggal lebih lama dibandingkan di negara-negara amerika latin lainnya, jadi saya melihat karakter asli penduduknya lebih dalam.

Khusus untuk Venezuela, akan saya bahas lebih lanjut di bab selanjutnya, ya ;) Tentang suka cita dan suka duka, operasi plastik bagi sebagian besar wanita yang merupakan mode, sampai saya menjalin pertemanan dengan 2 cewek Indonesia walaupun kami sudah tidak tinggal di Caracas lagi.

Foto peta: google maps



Tidak ada komentar:

Posting Komentar