Like

Minggu, 31 Maret 2013

X. 3. Pulang Kampung: Nyekar Leluhur ke Tanah Jawa


Masih bercerita tentang pengalaman pulang kampung yang singkat, untuk bertemu dengan keluarga, teman-teman dan menikmati aneka kuliner nusantara yang membuat rindu.

Di awal tahun 2011, saya mempunyai kesempatan untuk pulang kampung lebih lama. Biasanya hanya punya waktu seminggu, kali ini sampai 2 bulan. Saya memanfaatkan mengisi kegiatan pulang kampung dengan berbagai macam aktivitas.

Keliling jawa pernah saya nikmati sewaktu saya masih kecil. Untuk mengunjungi tanah leluhur kakek dan nenek saya dari pihak ayah dan ibu. Selain itu, kami pernah juga melakukan nyadran atau nyekar leluhur sebelum bulan ramadhan tiba.

Suanana Makam Leluhur di Yogyakarta dan Alamnya.

Nah, kali ini, saya mempunyai waktu lebih banyak dan saya isi dengan napak tipas nyekar dan mengunjungi tanah leluhur dari pihak ayah di Prembun, Jawa Tengah.

Adalah Yogyakarta yang menjadi titik pergi saya sepupu saya yang kebetulan sedang kuliah di Yogya. Dialah yang menemani saya keliling makam leluhur. Mulai dari Yogyakarta itu sendiri dengan mengunjungi Makam Sri Sultan HB II, ke Prembun (makam kakek-nenek dari pihak ayah), Gombong (leluhur dari pihak ibu), sampai ke Wonosobo (leluhur dari pihak ibu).

Selama 3 hari 2 malam, kami road trip nyekar makam leluhur dengan menumpang kereta ekonomi, lalu lanjut dengan menaiki bus umum, angkot sampai ojek demi mencapai tempat tujuan. Petualangan seru menjelajah sekitar Jawa Tengah dengan cara kami sendiri.

Di rumah leluhur (saat ini ditempati paman dari pihak ayah) dan makam leluhur di Prembun dan Gombong, Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang saya hanya melihat hamparan sawah dan pemandangan yang hijau. Lebih kaget lagi ketika tiba di Prembun, rumah leluhur kakek-nenek saya dari pihak ayah, masih dikelilingi sawah dan tanaman hijau. Sejuk sekali. Suara kereta yang senantiasa melewati daerah rumah ini menambah melodi yang indah tentang alam pedesaan. Situasi alam tidak banyak berubah ketika saya mengunjungi tanah leluhur ini belasan tahun lalu.

Perjalanan berlanjut ke Gombong yang berjarak 2 jam dari Prembun. Kami kesini untuk menyekar ke makam leluhur dari pihak nenek. Letak makam yang berada di atas bukit membuat kami semakin kagum dengan keindahan alam sekitar yang sejuk dan damai.

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan dari Gombong menuju Wonosobo dengan menumpang bus umum. Serunya perjalanan ngeteng ini. Tiba di Wonosobo menjelang tengah malam dan kami mencari hotel kecil untuk bermalam. Udara sejuk yang menusuk tulang tetap tidak berubah seperti belasan tahun saya mengunjunginya. Langit malam yang bersih bertabur bintang selalu setia menemani langit Wonosobo yang sejuk.

Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan menuju makam leluhur yang berusia ratusan tahun di kompleks pemakaman yang tidak jauh dari pusat kota. Kami berjalan kaki menuju kompleks makam yang terletak di atas bukit dengan pintu gerbang yang hijau pepohonan. Lagi-lagi sejauh mata memandang yang ada hanya pemandangan alam yang hijau dan indah. Di kompleks makam ini, para leluhur kami beristirahat dengan tenang.

Menjelang sore kami kembali ke Yogyakarta dengan menumpang bus umum dari Wonosobo. Perjalanan nyekar dan penuh dengan batin rohani yang penuh membuat saya berpikir bahwa saya tidak boleh melupakan leluhur. Minimal dengan mendoakannya dan mengunjungi dengan rutin makam-makamnya.

Seperti berkaca pada diri dan menjadi renungan sepanjang perjalanan kembali ke Yogyakarta, saya bisa mencapai dan menjejakkan kaki di negara-negara lain yang jaraknya sangat jauh dari negeri sendiri, menetap di sana dan berusaha untuk berbaur dengan penduduk dan memahami tradisi dan budaya mereka.

Karena itu, kebangetan yang amat sangat jika saya pulang kampung ke Indonesia tidak menyempatkan untuk menjejakkan kaki di tanah leluhur, yang pastinya punya andil atas jasa dan pengorbanan mereka sehingga saya bisa seperti saat ini.


Untuk para leluhur, juga untuk kakek-nenek dari kedua orang tua serta orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan serta mengajak saya untuk tetap mengenang para leluhur.


Yogyakarta, Awal tahun 2011

2 komentar:

  1. yesss... anda sudah selangkah lagi untuk menjadi S.K. alias sarkub alias sarjana kuburan... hehehe (kata om bima yg udah profesor kuburan.. hihihi). Gue, Hari n Adi udh nyusul thn kemaren.

    menghormati leluhur memang kewajiban kita, bahkan nabi kita pun menganjurkannya. Itulah kenapa kita harus mencantumkan "bin" dan "binti" dalam nama kita agar kita mengetahui asal-usul dan akar dari diri kita masing-masing. kalau bisa bin-nya sampai 6 tingkat ya udah alhamdulillah banget tuh. untuk lebih lengkapnya masalah akar2an silakan tanya profesor Bima dahh.. hehehe

    BalasHapus
  2. HIhihihiii...elu apalagi, tuh...udah dapet gelarnya dari kemaren-kemaren dan gelarnya lebih atas daripada eike..Kalian udah sampai Tuban segala. Huuuuuuuuuuuuu...iriiiii...

    Kita mesti bersyukur mempunyai orang tua yang masih mengingatkan kita untuk selalu mengingat para leluhur, minimal dengan mendoakannya. Dan juga ada Eyang dan Oom Bima, yang ahli soal silsilah danm gak bosan menerangkannya makna dari nyekar leluhur itu sendiri.

    sejauh gue melangkah sampai negeri orang, rasanya terbayar deh, dengan mengunjungi tanah dan makam leluhur. Jangan sampai orang lain dan media yang meneliti, memahami dan menulis tentang leluhur kita lebih baik baik daripada kita sendiri.

    Nah, cita-cita gue selanjutnya adalah menjelajahi dan mengenal Indonesia...+ini malu sama diri sendiri, yang lebih mengenal Eropa dan Amerika Latin ;p

    BalasHapus