Like

Tampilkan postingan dengan label amerika latin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label amerika latin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 April 2013

XIII. 2. All About Mexico City (1): Dari Kemacetan, Transportasi Umum, Jajanan Lokal sampai Museum


Sebelum saya mengajak Anda keliling negara Mexico, ada baiknya terlebih dahulu saya mengajak Anda ke ibukota negara: Mexico City atau yang populer disebut Mexico DF (Distrito Federal), dan mengetahui kondisi kota ini secara keseluruhan.

Mexico City secara umum

Adalah salah satu kota terbesar di negara Mexico itu sendiri, dilihat dari luasnya secara fisik dan jumlah penduduknya yang padat. Terletak 2000 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh pegunungan, membuat Mexico mempunyai suhu udara yang sedikit aneh. Selain itu, produksi polusi yang cukup tinggi juga menyebabkan berbagai penyakit, seperti sakit kepala atau migren yang berkepanjangan, bahkan sampai menyebabkan mimisan. Lebih parahnya lagi, menimbulkan gejala penyakit paru-paru.

Suasana Mexico City sehari-hari yang penuh kemacetan, seperti kebanyakan kota besar di dunia.

Tadinya sih, rasanya aneh ya, dan juga kok, kedengarannya serem banget dengan segala sindrom penyakit yang merugikan kesehatan. Tetapi, tidak semua penduduk mengalami hal tersebut. Hal itu tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing orang. Kasusnya yang terjadi pada saya adalah ketika tiba pertama kali tiba di Mexico City, sindrom sakit kepala dan migren tidak bisa dihindari.

Mexico City, kota berbahaya?

Menurut kesan saya sendiri ketika menjejakkan kaki di ibukota ini, terasa menyenangkan. Perpaduan modern tetapi masih menjaga keaslian kotanya. Rasa berbahaya jauh dari anggapan surat kabar dan media yang selama ini mengedepankan opini tentang keadaan bahaya dan tingkat kriminalitas yang tinggi.

Suasana di salah satu sudut kota Mexico City. Lihat, deh. masih ada, lho, taksi VW Kodok (bawah) dan suasana bazaar di tengah kota (atas). 


Sebelumnya saya pernah tinggal di Caracas, Venezuela, tentu keadaan Mexico City membuat saya kaget. Sikap orang-orang yang ramah terhadap turis dan bangsa pendatang dan juga pelayanan di bidang jasa sangat baik, malah menimbulkan rasa curiga. Jangan-jangan mereka baik ada maunya.

Belum lagi merasa terkejut dengan sikap penduduk yang ramah, ketika naik taksi pun, sang supir ramah sekali. Memberikan salam selamat siang, menanyakan kabar bahkan bertanya pendapat saya tentang Mexico. Meskipun berbahasa spanyol, memerlukan waktu beberapa hari untuk beradaptasi dan mengerti bahasa spanyol mereka. Ya, setiap negara mempunyai dialek dan gaya berbicara yang berbeda-beda dalam berbahasa, walaupun 1 bahasa.

Seperti apa Mexico City?

Gedung-gedung tinggi pencakar langit, padatnya penduduk, kemacetan sehari-hari, kereta bawah tanah, angkutan umum untuk masyarakat serta ritme kehidupan yang tidak pernah padam adalah kesan tentang Mexico City.

Suasana jalanan yang padat di jalur utama Mexico City. Tersedia sepeda bagi mereka yang ingin menghindar dari kemacetan berkendara.


Sama halnya dengan kehidupan di kota-kota besar lainnya, Mexico City menawarkan kehidupan yang sibuk dan tentu berpengaruh pada gaya hidup masyarakatnya. Justru ini yang membuat kota besar semacam Mexico menjadi dinamis dan menawarkan berbagai kesempatan untuk berkembang dan berkreasi.

Aneka jajanan yang kami temui di pinggir jalan: dari penjual buah, kerupuk sampai sawo dan leci.

Yang membuat menarik Mexico City adalah sektor informal. Aneka tacos (makanan khas) Mexico dijajakan di pinggir jalan, adanya tenda-tenda makanan sepanjang jalan, orang-orang menjajakan aneka barang dagangan di jalanan dan di lampu merah dan yang membuat hidup adalah suara-suara khas yang dikeluarkan dari suara pedagang dan alat musik.


Yang menarik di Mexico City
  • Banyak museum yang terawat dan bersih. Ada museum yang mengharuskan membayar tiket masuk ada juga yang gratis. Setiap hari minggu, museum dibuka gratis untuk penduduk dan turis. Tinggal menunjukkan kartu identitas saja.
Contoh museum-museum yang berserakan di Mexico City. Castillo de Chapultepec (atas) dan Munal (bawah).
  • Beberapa barrio (daerah sekitar) yang merupakan cagar budaya dan dilestarikan oleh pemerintah dan penduduk setempat. Seperti barrio Coyoacán, San Angel, La Condesa. Nanti akan saya ceritakan secara detil di blog selanjutnya.
  • Transportasi yang beraneka ragam, mulai dari kereta bawah tanah, cable car, metro bus (semacam TransJakarta di Jakarta), taksi, pesero (seperti metro mini di Jakarta) dan nyaman membantu mengurangi kemacetan lalu lintas sehari-hari.
Transortasi umum yang banyak dipilih oleh masyarakat: metro (kereta bawah tanah) dan metrobus (semacam TransJakarta di Jakarta), untuk menghindari kemacetan sehari-hari (atas).
  • Diterapkannya jalur satu arah, di beberapa titik kepadatan lalu lintas, sehingga membantu kelancaran dan mengurai kemacetan. Kerugiannya, jika kita salah jalan, ya, dapet salam dari muter-muter jauh sekali. Karena itu, cermati betul jalan yang kita tuju.
  • Adanya care free day setiap hari minggu, dari pukul 6 pagi sampai pukul 2 siang, yang berlaku di jalanan utama pusat kota (sekitar Paseo de la Reforma).
  • Aneka jajanan dan masakan lokal bisa kita nikmati dari tenda pinggir jalan sampai restoran kelas atas.
Jajanan lokal yang kami temui di pinggir jalan sampai kelas restoran: tacos.
  • Masyarakat Mexico memang kreatif. Mereka menjadikan danau sebagai obyek pariwisata. Namanya daerah Xochimilco. Saya akan mengajak Anda mengenal Xochimilco, di blog selanjutnya.
  • Jika Anda tidak memiliki banyak waktu dan ingin melihat Mexico City dalam sehari, bisa naik Turisbus, yang membawa Anda mengenal Mexico City dalam sehari.


Bagaimana cara mencapai Mexico City?

  • Untuk pemegang paspor Indonesia, diperlukan visa untuk menginjak Mexico. 
  • Dari Indonesia, ada 2 pilihan: bisa melalui Lautan Pasifik (Jepang dan Amerika) atau melalui Eropa (Prancis, Jerman atau Belanda). Untuk transit, tergantung dari pesawat yang kita tumpangi. Ada 1 kali transit atau maksimal 2 kali transit.
  • Lamanya perjalanan melalui lautan Pasifik adalah 24 – 30 jam (termasuk waktu menunggu ketika transit) dan melalui Eropa adalah 36 – 38 jam (termasuk waktu menunggu ketika transit).
  • Harga tiket pesawat berkisar antara 1600 – 2500 USD. Tergantung waktu dan bulan kita memilih pergi. Apakah itu low season atau high season.
  • Mata uang Mexico adalah peso (atau biasanya disingkat MXN), dengan simbol $, tetapi bukan dolar. 1 MXN = Rp 800,00.
  • Harga penginapan tergantung jenis dan letak penginapan. Untuk yang murah meriah namun masih terjangkau situasi dan kondisinya, harga mulai dari 15 USD per malam.
  • Untuk biaya hidup, tergantung dari kita sendiri yang mengatur anggaran. Untuk tinggal di Mexico City itu sendiri, 300 USD/minggu adalah anggaran paling hemat. Intinya, sih, tergantung dari gaya hidup.
  • Karena perbedaan antara Mexico-Indonesia adalah 12 jam lebih lambat, maka jika kita pergi dari Indonesia untuk tiba di Mexico, kita akan memakan waktu 1 hari untuk perjalanan. Tetapi kita memakan waktu 2 hari untuk tiba kembali ke Indonesia dari Mexico.
  • Karena jarak dan perjalanan yang cukup jauh, saya sarankan untuk menghabiskan waktu setidaknya minimal 2 minggu untuk menikmati Mexico. Lebih idealnya 3 minggu sampai 1 bulan. Biar puas.
  • Waktu ideal untuk mengunjungi Mexico City adalah dari bulan september sampai juni. Suhu udara masih bisa dikatakan bersahabat. Ada panas dan dingin, tetapi tidak hujan badai yang biasanya terjadi di bulan juni, juli dan agustus.
  • Bagaimana dengan mengunjungi Mexico di beberapa propinsi, termasuk penjelajahan peninggalan situs bersejarah Zapotec, Maya dan Aztec? Saya akan menceritakan lebih lengkap di blog selanjutnya, ya.
Letak Mexico secara geografis.


Nah, tertarik untuk menjelajah Mexico?

Mexico City, april 2012
Sebagian foto: Herman
Foto metro (kereta): LGN

Kamis, 18 April 2013

XIII. 1. It´s time for Mexicoooooo...!!


Hola!

Setelah menjabarkan pengalaman penjelajahan saya dari Eropa sampai ke negara-negara di benua Amerika Latin serta di sela-selanya menyempatkan pulang kampung ke Jawa, di mana saya banyak mendapat berbagai pengalaman hidup yang penuh dengan pesan moral, saatnya bercerita tentang plesiran, sejarah dan pengalaman hidup yang masih berlangsung di Mexico.

Kali ini berlanjut tentang perjalanan dan penjelajahan Mexico, negara di mana saat ini saya berada. Menetap di Mexico City 2 tahun lebih membuat saya mengenal lebih jauh lagi tentang kehidupan, budaya, sejarah dan karakteristik bangsa latin.

Herman bersama para pemusik Mariachi (atas); situs bersejarah suku Maya, Palenque di Propinsi Chiapas (tengah); tacos, makanan khas Mexico (bawah)

Saya ingin mengetahui anggapan, pendapat atau kesan Anda ketika mendengar nama Mexico? Negara macam apakah itu? Saat mendengar nama Mexico, yang ada di kepala saya adalah sombrero dan tequila! Bukan salah satu negara berbahaya di dunia.

Dilihat dari letak geografisnya, Mexico terletak di Amerika Utara. Tetapi dari segi budaya dan kehidupan, Mexico termasuk ke dalam karakteristik bangsa Amerika Latin. Walaupun Mexico berbahasa resmi spanyol, pemerintah dan penduduk lokal tetap mempertahankan bahasa dialek di beberapa propinsi.

Ibukota Mexico, yaitu Mexico City terletak di tengah-tengah negara Mexico. Menurut survey dan tentunya anggapan banyak media dan anggapan orang, ibukota negara ini termasuk salah satu kota berbahaya di dunia. Selain itu juga, termasuk kota yang berpolusi cukup tinggi.

Mexico City, suasana di tengah kota (kiri atas); Piramida Chichén Itza, peninggalan suku Maya di Semenanjung Yucatán (kanan atas); bus umum dengan rute tengah kota ke airport (kanan atas), Tulum, situs bersejarah suku Maya di Propinsi Quintana Roo, di pinggir Laut Karibia (bawah).

Negara yang terkenal dengan musik mariachi ini mempunyai kesan mistis karena berhubungan dengan sejarah penduduknya di masa lampau, jauh sebelum bangsa Spanyol menjejakkan kaki di Mexico. Selain itu, Mexico penuh dengan petualangan dan aura yang berbeda setiap propinsi. Juga mempunyai karakteristik khas yang membuat Mexico lebih kinclong untuk dikunjungi.

Selama 2 tahun lebih saya berada di Mexico, tentu tidak hanya plesiran mengagumi Mexico dari segi arstitekturnya dan sejarah yang kaya cerita pada zaman prahispanik. Sebut saja suku Zapotec, Maya dan Aztec di antara puluhan bahkan ratusan suku yang eksis di Mexico, yang berhasil membuat kagum dunia bahkan menciptakan peradaban dunia yang masih digali terus sampai saat ini. Saya juga berpartisipasi mempromosikan budaya Indonesia. Untuk Mexico itu sendiri, saya bersedia menjadi relawan dengan mengajar tarian dan membuka kelas membatik untuk orang-orang Mexico.

Peninggalan situs bersejarah yang ditata ulang dengan rapi, ratusan museum yang juga ditata menarik sehingga tidak membuat pengunjung bosan sampai karakteristik penduduk Mexico itu sendiri yang secara sadar melestarikan budaya dan peninggalan nenek moyang mereka, yang membuat para turis bahkan orang asing tertarik untuk mendatangi dan memilih untuk menetap sementara. Tersihir oleh pesona alam dan budayanya.

Yang menarik juga, tentu saja makanan lokal, minuman, musik, dansa dan pesta! Hal-hal tersebut tentu menjadi magnet dan daya tarik tambahan.

Bienvenidos en Mexico!*
Selamat datang di Mexico!

Sebagian foto: Herman   

Selasa, 16 April 2013

XII. Terima Kasih..Thank You..Merci..Gracias!


Rasanya, tanpa mereka, perjalanan penjelajahan saya tidak sampai sejauh ini. Mereka berperan dan berpartisipasi dalam perjalanan hidup saya. Tentunya dengan kehendak Yang Maha Kuasa juga.

Mereka adalah…

Eyang Putri dan ibu saya. Sejak awal saya memutuskan untuk merantau ke luar dari Indonesia, merekalah yang memberi dukungan penuh, wejangan serta doa yang tulus. Ayah saya juga tentu berperan besar karena beliau pun dengan berbesar hati menginjinkan saya ke luar dari rumah, bahkan ke luar dari Indonesia.
Dua wanita hebat yang berperan besar dalam hidup saya.

Selalu mengingat pesan dan nasihat orang tua yang menjadi panduan saya setiap melangkah. Di kala sebagian besar orang tua tidak mengijinkan anaknya untuk ke luar dari rumah, sikap orang tua saya justru mendukungnya. Bukan memberi nilai materi yang besar. Melainkan doa , kepercayaan yang harus dijaga dan kasih sayang yang tulus dengan merelakan saya mengarungi dunia. Saya merasa kecil karena tidak bisa membalas kasih sayangnya. Hanya doa untuk mereka. Dan juga saya selalu berusaha pulang kampung di kala Idul Fitri untuk berkumpul bersama.

Teman-teman di Liga Tari UI

Apalah arti menjelajah Prancis dan Spanyol dengan mengikuti Festival Tari Rakyat Sedunia tanpa mereka? Dengan bergabung di Liga Tari UI, saya mendapat berbagai pengalaman menarik. 

Bersama teman-teman Liga Tari sewaktu Festival Tari Rakyat Sedunia.

Tidak hanya tentang ilmu dan beajar tari, tetapi juga pengalaman hidup dan tumbuh dewasa bersama dengan membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa ini menjadi besar dan solid. Selain itu, saya pun mendapat kesempatan berlatih dan dilatih oleh para seniman tari Indonesia yang hebat, yang merupakan aset hidup seni tari Indonesia.

Teman-teman di majalah Cita Cinta

Adalah pengalaman masa menjelang dewasa yang menyenangkan. Merupakan ´sekolah´ pertama di mana saya memulai karier profesional setelah lulus kuliah. Mulai dari bekerja di bagian umum, mengerti produksi dan sirkulasi majalah, sekretaris redaksi sampai diuji coba menjadi redaktur. Di sini saya bertemu dengan para jurnalis hebat di bidangnya.

Teman-teman Cita Cinta yang membuat hidup lebih berwarna.

Suka dan duka menginjak dewasa, kami rasakan bersama. Obrolan tentang cita dan cinta mengalir lancar seiring dengan pekerjaan dan waktu yang mengantarkan kami hingga kami memilih jalan hidup masing-masing.

Sampai saat ini pun, tali silaturahmi tetap terjalin dan terjaga, walaupun kami sudah berpencar dengan jalan hidup masing-masing. Kekuatan batin yang kuat di antara kamilah yang mempersatukan semuanya.

Widarti Gunawan

Beliau adalah atasan saya selama saya bekerja di Femina Group. Dari beliau, saya banyak belajar. Tidak hanya dari ilmu jurnalistik, tetapi juga dari cara bekerja. Selalu saya ingat bahwa beliau memberi kesempatan ´anak-anak buah´ untuk maju. Salah satunya adalah saya yang diberi kesempatan menjadi redaktur di majalah Cita Cinta (waktu itu saya menjabat sebagai sekretaris redaksi majalah Cita Cinta) di kala kesempatan melanjutkan sekolah di Prancis sudah di depan mata.

Ketika akhirnya saya memilih untuk melanjutkan sekolah ke Prancis dan meninggalkan pekerjaan dan kehidupan di Indonesia, beliau malah menakut-nakuti tentang kehidupan di Eropa, khususnya Prancis yang cukup keras. Apalagi hidup sendirian. Tadinya saya kaget reaksi beliau seperti itu. Tetapi hal tersebut malah menjadikan cambuk semangat agar bisa menaklukkan situasi kehidupan yang keras di Eropa.


Bersama Ibu Widarti Gunawan di Paris.
5 tahun kemudian berbuah manis perjuangan saya menaklukkan kehidupan di Eropa. Bahkan kami pun sempat menjelajah Paris bersama-sama ketika beliau datang berlibur di suatu musim panas menjelang musim gugur. Obrolan kami mengalir lancar tanpa beban. Dan saya tetap menghormati beliau sebagai mantan atasan yang memberi banyak kesempatan untuk mengembangkan diri selama bergabung di majalah Cita Cinta.

Keluarga Homestay yang berbaik hati

Sayangnya saya tidak bisa menceritakan identitas keluarga baik hati yang bersedia menampung dan menanggung biaya hidup dan sekolah selama saya tinggal di Paris. Saya mendapat pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan yang tertulis maupun tidak tertulis yang saya dapat selama tinggal bersama mereka.

Teman-teman di Paris

Tanpa mereka, kehidupan di Paris terasa basi dan kurang seru. Suka dan duka kami rasakan bersama. Paris yang keras, namun rasa toleransi yang tinggi mengantarkan kami kepada pertemanan dan persahabatan. Mereka banyak membantu saya di berbagai situasi dan kondisi. Suka dan duka. 

Para sahabat di Prancis yang membagi suka dan duka.

Walaupun rasanya tidak selalu cukup membalas jasa-jasa mereka, semoga di lain waktu, saya bisa membantu orang lain dan generasi penerus yang ingin melanjutkan sekolah ataupun melanjutkan hidup di Prancis.

Herman

Bisa dikatakan dia adalah teman, kakak, dewa penolong sejak saya mengenalnya sebagai salah satu senior di Unit Kegiatan Mahasiswa Liga Tari UI. Kami melakukan Misi Budaya dan berpartisipasi dalam Festival Tari Rakyat Sedunia di Prancis-Spanyol tahun 2000.

Herman yang terlebih dahulu merantau ke Paris, memberikan bantuan dukungan agar bisa terus hidup bertahan di Paris. Kami pun melanjutkan acara tari menari di berbagai acara dan kesempatan. Tidak hanya keliling kota di Prancis, bahkan sampai ke Swiss. 

Bersama Herman sewaktu menari di Basel (Swiss) dan sewaktu kami berlibur menjelajah Mexico (bawah).

Herman pulalah yang berperan besar dengan merekomendasikan saya kepada salah satu pengusaha ekspor Indonesia yang pada waktu itu mencari dan memerlukan seseorang di Eropa untuk mengurus bisnisnya dan berlanjut sampai ke Amerika Latin.

Dengan berjalannya waktu, persahabatan di antara Herman dan saya terjalin terus sampai saat ini dan nanti.

Pak bos 

Adalah pak bos yang juga berperan memberikan peluang perjalanan penjelajahan keliling melihat dunia. Saya yang pada saat itu bermukim di Paris, mendapat kesempatan untuk menyeberangi Lautan Atlantik untuk menginjakkan kaki di Brazil, lanjut ke Paraguay, Suriname, Bolivia, Colombia, Venezuela dan akhirnya saat ini di Mexico.

Dengan modal menjaga kepercayaan dan mengurus pekerjaan ekspor yang sama sekali tidak mudah, akhirnya mengantarkan saya pada kehidupan nomaden dan menenteng koper kesana kemari sambil mengenal negara-negara eksotis di benua Amerika Latin.

Mengurus pekerjaan yang tidak mudah akhirnya terobati dengan penjelajahan, perjalanan dan petualangan di negeri-negeri Amerika Latin. Bisa dikatakan, dengan kesempatan yang diberikan oleh Pak bos ini, penjelajahan saya tidak mengeluarkan biaya yang cukup besar, malah menghasilkan.

Jessica Huwae

Dari rekan kerja di majalah Cita Cinta, berteman lalu menjadi sahabat adalah perjalanan hidup Jessica dan saya hingga akhirnya Jessica memberikan semangat kepada saya untuk menulis perjalanan dan petualangan hidup saya, yang menurutnya ´tidak biasa´. 

Tidak biasa versinya adalah saya menjelajah Eropa dan Amerika Latin karena bukan traveling biasa, melainkan karena tuntutan pekerjaan dan pengalaman berbaur dengan penduduk dunia yang menghasilkan ´rasa batin dan pesan moral´ dari suatu perjalanan.

Jessica, yang selalu memberi semangat positif.

Dari yang tadinya tidak percaya diri untuk menulis (selama perjalanan, saya tetap menulis tetapi untuk majalah cetak dan majalah online mengenai traveling saja), akhirnya saya beranikan diri untuk menulis asal Jessica membantu saya menyusun kerangka tahap demi tahap. 

Tadinya saya pikir, Jessica akan berhenti mendukung. Dia tidak kenal lelah. Kerangka blog bab per bab pun dia jabarkan satu per satu dan itu tersusun dengan sistematik.

Lalu Jessica mengatakan bahwa setelahnya, saya yang harus memotivasi diri untuk mengikuti kerangka dan mengembangkan tulisan perjalanan bab per bab.

Karena itu, tanpa ´jejeritan´ Jessica, rasanya blog saya ini tidak akan sistematik dan saya pun tidak mempunyai bayangan akan memulai menulis dari mana.

Penduduk Dunia

Selain itu, rasa terima kasih juga saya sampaikan kepada penduduk dunia, yaitu oang-orang yang saya temui secara tidak sengaja, yang mengantarkan saya pada kehidupan tak terduga. Penduduk lokal yang berbaik hati yang kemudian saya dianggap seperti keluarga sendiri. 

Lalu ada teman-teman Indonesia yang hidup di negara-negara yang saya jelajahi dari Brazil, Venezuela sampai Mexico, yang menerima dan memperlakukan saya sebagai saudara jauh dari negeri yang sama. Begitu juga dengan teman-teman asing yang akhirnya kami menjalin pertemanan karena bahasa dan pengalaman hidup jauh dari negeri masing-masing.

Dan tentunya juga kepada para pembaca blog yang setia mengikuti perjalanan dan petualangan saya.

Mexico, April 2013
Foto Liga Tari: Amatul
Foto bersama Jessica: Jessica



Jumat, 29 Maret 2013

IX. 12. Amerika Latin: Bersantap di Restoran, Jangan Lupa Memberikan Tip


Penjelajahan ke negara-negara Amerika Latin, tidak hanya melihat dan mengunjungi tempat-tempat menarik, berbaur dengan penduduk lokal serta mengenal tradisi dan kebiasaan setempat. Hal-hal kecil namun berguna juga memberikan dampak pelajaran berharga bagi saya.

Contoh kecil namun berharga adalah tentang tata cara dan etik bersantap di restoran. Baik itu restoran atau kantin murah, restoran sederhana yang menyediakan menu masakan lokal sampai restoran mewah yang menyediakan menu gastronomi.

Menunggu penerima tamu restoran melayani

Ketika akan masuk di sebuah restoran, tentu ada penerima tamu yang menyambut kita dengan menanyakan untuk berapa orang dan memilih daerah merokok atau tidak. Kemudian si penerima tamu akan mengantar kita sampai kepada meja yang sesuai dengan kriteria kita.

Kemudian akan ada pelayanan yang akan melayani kita dan biasanya setiap pelayan sudah ditugaskan untuk melayani beberapa meja. Si pelayan akan menawarkan memesan minuman terlebih dahulu, kemudian dia akan menjelaskan jenis minuman spesial ala restoran yang tidak ditemukan di tempat lain.

Setelah itu, dia akan menjelaskan menu yang juga tersedia khusus di hari itu atau di bulan itu. Nah, ini kesempatan kita untuk bertanya dan merasakan masakan khusus ala restoran dari menu biasanya.

Ilustrasi restoran di negara-negara berbeda.

Penting! Pemberian tip

Lain di Eropa, lain di Amerika Latin untuk tagihan menu yang kita konsumsi di restoran. Sewaktu saya tinggal di Paris, harga menu di restoran sudah termasuk pajak dan pelayanan. Jika kita ingin menambahkan tip sebelum meninggalkan meja, bukan suatu keharusan. Tidak meninggalkan tip tidak apa-apa.

Lain dengan di kebanyakan negara-negara Amerika Latin, yang sebagian besar tidak memasukkan jasa pelayanan di menu mereka. Jadi di akhir tagihan, biasanya kita diharuskan menambah beberapa persen dari total menu yang kita konsumsi. Hal ini dikarenakan para pelayanan mendapatkan gaji tambahan dari tip pelanggan restoran.

Sewaktu di Brazil, kita diharuskan memberikan tip 10% dari total tagihan makanan dan minuman yang kita konsumsi. jika ingin memberikan lebih dari 10%, ya tidak apa-apa juga.

Lain lagi sewaktu saya berada di Santa Cruz de la Sierra, Bolivia. Kita diwajibkan memberikan tip minimal 20% dari total yang dikonsumsi. Harga makanan dan minuman tidak semahal di Brazil, jadi memberikan tip 20% menurut saya pantaslah. Dan karena juga gaji murni pelayan didapat dari tip pelanggan.

Sedangkan di Venezuela, tip pelayanan restoran harus 12% dari total tagihan. Hal ini juga karena harga menu tidak termasuk jasa pelayanan. Pengalaman saya selama tinggal di Caracas, pelayanan mereka tidak memuaskan dan seenaknya. Jadi, kalau memberikan tip 12% dari total yang saya konsumsi, kok, kayaknya nggak rela banget dengan pelayanan yang diberikan. 

Saya pernah mempunyai pengalaman tidak mengenakkan ketika bersantap di salah satu restoran di Caracas. Pesanannya lama sekali datangnya. kira-kira 1,5 jam dari waktu minuman diantarkan. Pelayanan mereka juga tidak baik sama sekali. Saya pun protes tetapi tidak dihiraukan. Pada saat tagihan datang, saya tidak menyertakan pemberian tip 12% dari total yang dikonsumsi. Tahukah Anda? Saya dikejar oleh manajer restoran dan dia berbicara sangat keras. Sayapun menjawab bahwa pelayanan tidak baik dan saya menunggu pesanan selama 1,5 jam. Dan saya sama sekali tidak puas dan para pelayan tidak layak mendapat tip. Walaupun kesal, si manajer menerimanya. Sebenarnya, kasihan juga, sih, mereka tidak saya berikan tip. Tapi biar saja, deh, menjadi pelajaran buat mereka agar melayani konsumen lebih baik lagi. Kalau tetap memberikan tip, tidak mendidik mereka, kan?

Sejak kejadian tidak mengenakkan itu, ada baiknya, sih. Saya jadi jarang pergi ke restoran dan jadi belajar memasak. Prinsip waktu itu: menu biasa saja, pelayanan kurang baik dan mahal membuat saya berpikir dua kali untuk pergi ke restoran.

Lain di Brazil, Bolivia dan Venezuela, saat ini saya menetap di Mexico. Di  sini, tip pelayanan restoran berkisar antara 10 – 15%. Bahkan jika pelayanan sangat memuaskan, para pelanggan tak segan-segan untuk memberikan tip 20% dari total tagihan.

Sedikit tambahan…

  • Sebaiknya menunggu si penerima tamu mencari meja, kemudian mengantarkan kita menuju meja yang  sesuai dengan kriteria. Hal ini berlaku untuk jenis restoran dengan kelas apapun (murah, sederhana, sampai mahal)
  • Tidak main masuk dan asal duduk tanpa menghiraukan si penerima tamu karena akan merugikan diri kita sendiri. Misalnya akan mendapatkan pelayanan  yang buruk selama bersantap. Nggak mau, kan?
  • Biasanya kita dilayani oleh 1 orang pelayan tetap. Masing-masing restoran mempunyai aturan tugas setiap pelayanan melayani beberapa meja. Jadi, kalau kita membutuhkan sesuatu, tunggu sampai kita melihat pelayan yang melayani kita. Jangan asal panggil pelayan yang lagi lewat karena akan mengacaukan pelayanan dan pesanan.
  • Jika kita membayar tagihan menu menggunakan kartu, sebaiknya tip dipisah dengan dibayar tunai untuk memudahkan mereka memisahkan tagihan restoran dan tip untuk para pelayan.
  • Jadi…jangan lupa, ya, menambahkan minimal 10% dari total tagihan jika suatu saat Anda berkunjung ke negara-negara Amerika Latin.
Buen Provecho!


Etika makan di restoran, Amerika Latin, Juli 2007 – saat ini..



IX. 11. Tradisi dan Kebiasaan Pesta di Amerika Latin


Kalau Anda di butir bab sebelumnya sudah membaca tentang tradisi pesta ke -15 tahun yang dirayakan dengan melihat tradisi dan kebiasaan masing-masing negara, saat ini saya ingin berbagi tentang tradisi pesta di negara-negara Amerika Latin di mana saya pernah menetap di Venezuela dan saat ini sedang menetap di Mexico.

Barbecue / Parilla / Barbekyu

Ini adalah tradisi di hampir seluruh negara-negara Amerika Latin yang pernah saya kunjungi, dari Paraguay, Brazil,  Bolivia, Colombia, Venezuela sampai Mexico. Malah hampir setiap minggu, acara keluarga ataupun kumpul bersama teman atau tetangga, barbecue adalah acara andalan.

Barbecue adalah acara rutin dan normal dilakukan karena mengingat iklim negara-negara Amerika Latin adalah tropis dan sub-tropis, yang ideal sekali untuk melakukan aktivitas barbecue yang memerlukan ruangan terbuka dan udara yang ideal.

Selain barbecue yang terdiri dari menu aneka daging, salad dan makanan lainnya, tidak lupa aneka minuman juga disajikan. Biasanya barbecue dimulai pukul 2 siang sampai tengah malam. Ya, mereka senang makan, minum dan ngobrol nggak selesai-selesai. Kalau sudah acara seperti ini, makan malam dan makan siang pun digabung.

Ngemil sambil minum

Acara ngemil makanan ringan dan minum adalah acara yang sering dilakukan juga oleh para penduduk Amerika Latin. Biasanya, mereka yang yang tidak ingin repot memasak, acara ngemil ini dijadikan pilihan dengan tujuan untuk kumpul-kumpul antar teman, keluarga dan tetangga.

Bahan cemilan biasanya ringan namun mengenyangkan. Biasanya dilakukan di akhir pekan dari pukul 8 malam sampai pagi dini hari. Tergantung dari tuan rumah atau tamu yang datang.


Ilustrasi barbecue, aneka minuman, aneka cemilan dan toast sewaktu pesta.

Musik dan dansa = Kewajiban pesta

Salah satu yang bikin seru peseta bersama penduduk Amerika Latin adalah musik dan dansa. Mulai dari aneka jenis musik latin populer seperti salsa, merengue, cumbia, reggaetón bahkan pop disco, semuanya melebur dalam acara pesta. Baik itu peseta barbecue, acara ngemil atau hanya acara kumul-kumpul. Bisa dansa atau tidak, yang penting goyang!

Pengalaman pesta di kebanyakan negara Amerika Latin itu…

  • Tamu-tamu biasanya datangnya ngaret parah dari jadwal yang ditentukan. Sebaiknya jangan mudah percaya dan menaati waktu acara. Misalnya ditulis undangan pukul 8 malam, kebanyakan para tamu datang pukul 10 malam. Acara berlangsung sampai matahari terbit. Saya jelas nggak kuat mengikuti ritme pesta mereka. Biar kata ada istilah ´The Night´s still young´, di penghujung jam 1 malam, saya sudah pulang. Ditertawakan? Pasti. Cuek aja.
  • Acara barbecue, ngemil atau acara kumpul-kumpul lainnya yang santai mereka ngaret, sih, mungkin masih dimaklumi, ya, seperti di Indonesia juga yang menganut jam karet. Tetapi kalau acara pernikahan atau pembaptisan mereka aja masih ngaret, saya nggak habis pikir. Saya pernah diundang ke acara pernikahan. Ditulisnya jam 18h00 dimulai pernikahan sipil. Si orang yang nikahin baru datang jam 19.30. Cuek aja, tuh, mereka. 
  • Waktu berada di Caracas, Venezuela, saya diundang untuk ngemil dan minum teh jam 4 sore. Saya pun datang sesuai waktu yang ditentukan oleh tuan rumah. Ketika tiba di rumahnya, dapet salam dari dimulai jam 4 sore! Si empunya rumah belum ngapa-ngapain dan belum menyiapkan apa-apa. Jadilah saya ingin ngerajangin aneka salad dan buah serta membantunya menyiapkan acara ngemil sore ini. Akhirnya acara baru dimulai pukul 6 sore. Hadeuuuhhhh…keburu laper menjelang makan malam.
  • Di Mexico City, saya pernah ketempatan untuk mengadakan acara barbecue. Acara sengaja saya mulai pukul 2 siang. Teman-teman berdatangan sejam kemudian. Saya pikir, jam 7 atau jam 8 malam akan selesai, seperti barbecue yang sudah-sudah kami lakukan. Ternyata….pukul 12 malam mereka baru pada pulang. Biarpun aneka daging sudah habis, tetapi aneka minuman yagn mereka bawa belum habis. Jadilah mereka baru pulang ketika botol-botol minuman tak tersisa isinya. Walaupun mereka membantu saya membereskan barang-barang setelah barbecue, tetap saja badan rasanya mau rontok.
  • Oh iya, biarpun kita ketempatan sebagai tuan rumah untuk acara pesta atau kita diundang sebagai tamu, biasanya kita tidak datang dengan tangan kosong. Secara lisan, kita harus membawa sesuatu, baik itu makanan atau minuman. Tuan rumah tidak menentukan kita harus membawa apa.
  • Memasang music hingga pol. Takut tetangga keberisikan? Nggak peduli. Yang penting pesta. Seringnya saya yang merasa tidak enak. Karena sewaktu pengalaman pernah tingga di Paris, kami pasti menulis surat ijin yang tertempel di pintu utama apartemen agar para tetangga memaklumi akan ada keberisikan dan kami menuliskan waktu pestanya dari pukul sekian sampai pukul sekian.

Setiap negara mempunyai tradisi dan kebiasaan pesta…

  • Sebisa mungkin kita juga mengerti dan memahami tradisi dan kebiasaan mereka berpesta yang menurut saya agak aneh jika dilihat dari budaya negeri sendiri.
  • Budaya ngaret juga sudah mendarah daging di Indonesia tercinta. Tetapi…di kebanyakan negara-negara Amerika Latin lebih juara terlambatnya. Dan mereka cuek aja seperti nggak merasa bersalah dan secara lisan, orang-orang harus maklum dengan keterlambatannya.
  • Saya yang pernah tinggal di Paris dan saat ini menetap di Mexico dan masih dipengaruhi oleh budaya latin yang kuat, maka, ini adalah salah satu geger budaya yang dahsyat untuk mengerti kebiasaan mereka berpesta.
  • Toh akhirnya kembali kepada diri kita sendiri, sih, melihatnya dari sisi apa dan bagaimana. Yang penting, sebisa mungkin kita tetap menghormati dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan ini.


Amerika Latin, dimulai ketika saya berpetualangan tahun 2007 sampai saat ini.
Sebagian foto: Claudine.  

Selasa, 26 Maret 2013

IX. 9. Amerika Latin: Belajar Memasak dan Menjalin Persahabatan


Kali ini lanjut lagi dengan cerita tentang pengalaman hidup di Amerika Latin. Karena waktu itu saya memutuskan tinggal di Caracas, pengalaman berharga yang saya dapat salah satunya adalah belajar memasak dan menjalin persahabatan dengan 2 wanita Indonesia yang kebetulan saat itu sedang tinggal di Caracas juga.

Adalah Mindy yang tak secara sengaja kami bertemu di rumah Dubes Indonesia untuk Venezuela. Lalu Dian, kami berkenalan ketika saya sedang berpartisipasi mengikuti pameran produk Indonesia di Caracas. Dari pertemuan tak terduga tersebut, kami menjadi sering berjumpa. Jika waktu luang cocok, kami memasak masakan Indonesia bersama. Waktu itu Mindy yang sering memasak dan mencoba berbagai macam resep baru.

Tak bisa dipungkiri bagi saya yang jauh dari rumah tentunya merindukan masakan dan makanan Indonesia. Pada waktu itu saya sama sekali tidak mahir memasak. Sewaktu di Paris, saya masih banyak menjumpai menu masakan Asia atau makan apa saja bagi saya tidak menjadi masalah dan saya memakannya. Hal ini bagian dari konsekuensi tinggal nomaden dan jauh dari Indonesia, jadi, ya harus fleksibel.

Mindy. Dian dan saya. 

Jadi Belajar Memasak!

Tetapi berbeda dengan sewaktu saya berada di Caracas. Saya mulai bosan dan mulai tidak doyan masakan lokal yang menurut saya agak aneh. Karena tidak terbiasa atau mungkin rasanya tidak cocok dengan lidah saya, maka saya memutuskan untuk belajar memasak masakan Indonesia maupun masakan internasional lainnya.

Dengan berjalannya waktu, saya pun menjadi mengenal aneka macam masakan Indonesia dan belajar untuk memasaknya sendiri.
Yang berperan saya menjadi belajar memasak adalah Mindy dan Dian. Dengan mereka, kami terbiasa memasak menu masakan Indonesia. Mulai dari soto ayam, nasi uduk, nasi Bali sampai sate padang, kami pernah memasaknya. Lokasi masak pun bergantian. Seringnya, sih, di rumah Mindy dan Dian. Waktu saya saya tidak mempunyai rumah, melainkan masih menumpang atau pindah-pindah hotel karena pekerjaan saya yang menuntut untuk nomaden.

Pengalaman lainnya tentang memasak adalah ketika saya memasakkan untuk teman-teman Venezuela. Dari Mindy sampai ibu saya di Jakarta, saya telpon untuk menanyakan resep masakan, walaupun juga sering mengintip internet untuk mencari dan mengikuti resep masakan Indonesia.

Menjalin Persahabatan

Selama hampir satu setangah tahun kami berada di Caracas pada saat yang bersamaan, otomatis tumbuh jalinan persahabatan antara kami. Walaupun saat ini kami tidak lagi tinggal di Caracas, komunikasi masih terus berjalan sampai saat ini.

Suka dan duka pun kami rasakan bersama. Mulai dari kehidupan sehari-hari yang terkadang kami anggap tidak normal. Misalnya, supir taksi yang tidak mengetahui jalan atau supir taksi yang sok akrab mengajak ngobrol. Masalah air dan listrik di masing-masing apartemen sampai cerita tentang pembantu maupun kehidupan itu sendiri di Caracas.

Apapun itu suka dan dukanya, dari yang tadinya kami stres dan jadi ingin marah-marah sendiri sampai akhirnya dibawa enjoy aja, deh. 

Serunya disini bertemu dan cocok berteman dengan sesama wanita dari Indonesia. Kami saling mendukung dan menguatkan karena memang tidak mudah hidup merantau di negeri orang dengan segala karakter dan budaya yang berbeda.

Semoga di lain waktu kami dipertemukan lagi dan bisa mengulang kembali masa-masa tinggal seperti di Venezuela. Entah itu di Indonesia, di Jerman atau di Prancis.

Untuk Mindy dan Dian
Foto: Mindy

IX. 8. Bagi para Wanita Latin, Penampilan Fisik Nomer 1?


Kali ini cerita tentang perempuan.

Di butir bab sebelumnya, saya bercerita tentang fenomena operasi plastik, yang banyak dilakukan oleh para wanita latin. Saat ini, saya ingin berbagi tentang gaya wanita latin secara garis besar dan bagaimana mereka di dalam kehidupan sehari-hari.

Kehidupan sehari-hari wanita latin pada umumnya hampir sama dengan kehidupan sehari-hari para wanita di seluruh dunia. Dari mengurus rumah, anak dan suami. Banyak juga di antara mereka yang bekerja dan berkarier namun tetap menomorsatukan kehidupan rumah tangga.

Budaya machisme atau budaya yang lebih menganggap laki-laki mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat latin, mengingatkan saya juga akan posisi wanita di Indonesia. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga (pada umumnya, waaupun saat ini juga banyak istri bekerja dan bergantian para suami menjaga anak dan mengurus rumah) dan istri harus patuh pada suami.

Ilustrasi para Wanita Latin yang saya temui selama penjelajahan.

Yang ingin saya bagi disini adalah tetap saya melihat sedikit keanehan tentang para wanita latin pada kehidupan sehari-hari. Karena selama di amerika latin saya banyak pecicilan di Brazil dan Venezuela, maka saya akan berbagi cerita tentang pengalaman atau kejadian yang saya lihat di depan mata sendiri. Lagi-lagi, sih, ini dilihat dari sudut pandang pribadi, ya.

Gaya Dandanan : Dari Hak Tinggi sampai Warna Baju Full Colours

Selama pecicilan di Amerika Latin, mayoritas para wanita itu tampil seksi dan sempurna, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang paling juara adalah kebanyakan dari mereka berani mengenakan sepatu hak super tinggi. Tak peduli ketika banyak jalan atau naik kendaraan umum. Hidup hak tinggi! Saya Cuma bingung, bagaimana mereka bisa menahan kaki dengan aktivitas yang dilakukan dengan banyak jalan kaki? Mungkin memang sudah bawaan orok, ya.

Yang tak kalah menarik perhatian saya juga adalah mengenakan baju lebih dari 3 warna. Kesannya musim panas sepanjang tahun atau ingin mengesankan jiwa yang bebas dan ceria. Mungkin juga, sih. Juga dari model baju, yang penting seksi. Dalam artian belahan dada dan bokong harus kelihatan. Nah, gimana para lelaki nggak cuci mata, coba?

Dari Kuku Cantik sampai Bulu Mata Bling-bling

Jangan salah kalau kuku cantik dengan cat kuku warna-warni serta bulu mata bling-bling menjadi dandanan andalan sehari-hari para wanita lain. (Ngebayang nggak, bagaimana dandanan mereka jika ke pesta?) Tidak peduli apapun profesi mereka dari sekretaris, dosen sampai tukang sayur di pasar-pasar tradisional.

Wow! Dari awalnya yang super takjub melihat penampilan mereka, lama-lama menjadi biasa. Ditambah ketika saya tinggal di Caracas. Bahkan si mbak teller di sebuah bank, tak segan-segan memoles kukunya di tengah-tengah kesibukan melayani nasabah di loket! Ck..ck..hebring pisan!

Lain dengan sebagian besar para wanita di Mexico, yang benar-benar juara berdandan di transportasi umum (bus dan kereta bawah tanah). Mereka berpacu dengan waktu dengan berdandan di perjalanan. Tidak banyak di antara mereka yang menggunakan bulu mata bling-bling. Mereka tetap menggunakan bulu mata asli dan menggunakan sendok kecil untuk melentikkannya. Wow, yang kedua kalinya.

Pertanyaan saya dalam hati ketika melihat fenomena tersebut adalah berapa banyak waktu yang mereka perlukan untuk berdandan setiap harinya? Lalu berapa kali mereka pergi ke salon kecantikan untuk perawatan tubuh, rambut dan kuku?

Kalau kami (saya dan teman-teman Indonesia dan teman-teman asing lainnya berkumpul) membicarakan fenomena para wanita latin yang begitu memerhatikan penampilan, dengan isengnya kami bertanya-tanya sendiri apakah mereka juga memikirkan isi otak dan memperkaya pikirannya? Misalnya dengan menambah pengetahuan dan pendidikannya. Karena, maaf aja, nih, seringnya mereka kurang nyambung misalnya kami membicarakan topik yang sedikit berat atau memerlukan diskusi dan sedikit debat. Walaupun lagi-lagi tidak semuanya wanita latin seperti itu, sih. Di belahan dunia manapun, seperti fenomena ada persamaan dan perbedaannya. Dan menurut saya, semuanya menarik untuk memperkaya pengalaman batin kita sendiri.

Oh iya, perlu dicatat bahwa harga salon kecantikan tidak terlalu mahal dibandingkan dengan harga salon di Indonesia. Bedanya, di Amerika Latin tidak ada pelayanan pijat tradisional dan mandi rempah. Hihi…


Ditujukan untuk seluruh wanita di dunia yang pernah saya jumpai.

Kamis, 21 Maret 2013

IX. 6. Amerika Latin: Kriminalitas Tinggi?


Di bab ini saya masih akan membicarakan tentang geger budaya di Amerika Latin. Salah satunya adalah tentang keamanan yang menurut anggapan banyak orang, sangat berbahaya sampai-sampai anggapan tersebut benar-benar melekat kepada banyak orang. Bahkan oleh mereka sekalipun yang belum pernah menginjakkan kaki di benua amerika latin!

Saya akan berbagi mengenai pengalaman saya tentang keamanan dan kriminalitas yang terjadi di sekitar saya. Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak pernah mengalami hal-hal menakutkan namun pernah merasakan rasa mencekam dan was-was. Dan semoga tidak akan pernah mengalami. Berdoa terus. Tuhan Maha Pelindung.

Kue Direbut, Gimana yang lain ?

Pada saat saya mengunjungi Rio de Janeiro Brazil di bulan februari 2008 untuk menyaksikan karnaval (tengok lagi, deh, blog saya di bulan Januari 2013) bersama sepupu dan teman-temannya, kami sangat hati-hati sekali dengan barang bawaan kami. Saking kuatirnya, sampai tidak membawa kamera dan telepon genggam saking ngerinya jadi incaran todongan. Sampai sekarang nyeselnya nggak kira-kira karena nggak ada barang bukti foto kami menjadi bagian dari salah satu karnaval terbesar di dunia itu. Ah, sudahlah. Suatu saat kembali lagi. Menghibur diri.

Dua bulan setelah karnaval, sewaktu saya sedang berada di Curitiba (Brazil selatan) saya mendapat kesempatan untuk kembali lagi ke Rio de Janeiro untuk mengurus pekerjaan tetapi hanya seharian saja berada di kota tersebut, dan sorenya kembali lagi ke Curitiba.

Ilustrasi café di pinggir pantai di Rio de Janeiro.

Ketika sedang makan siang santai di pinggir pantai dengan menyantap empanada (kue khas amerika latin, bentuknya seperti pastel namun lebih besar ukurannya), tiba-tiba ada tangan mungil yang berebut dengan cepat empanada tersebut dari tangan saya. 

Kaget bukan main.

Saya pun berdiri dan si anak kecil laki-laki hitam manis itu berlari. Saya beranikan mengejarnya dengan berjalan cepat. Betapa kagetnya saya tiba-tiba muncul beberapa anak-anak laki seusia remaja dan si anak kecil itu berlindung dibalik gerembolan itu. Nah lho! Si gerombolan itu menyilangkan tangan dan melihat saya dengan tajam. Hiiiii…Peristiwa di depan mata ini seperti saya lihat seperti dalam setting film.

Daripada cari perkara, akhirnya saya kembali ke restoran tadi dan meminta maaf kepada sang pemilik bukan bermaksud main kabur begitu saja dan saya tetap bermaksud membayar makan siang saya. Sang pemilik dengan wajah sedikit panik malah simpati menanyakan keadaan emosional saya. Dia kuatir saya kenapa-kenapa.

Setelah duduk kembali dan sudah tenang, saya hanya bingung dan kasihan dengan kejadian tadi. Jangan-jangan si anak kecil tadi memang kelaparan. Dan saya tetap bersyukur nggak diapa-apain oleh gerombolan anak-anak muda tadi. Kue aja diambil, gimana yang lainnya, ya?

Hati-hati dengan Barang Berharga

Selama tinggal beberapa waktu di Brazil dan  keseringan pindah-pindah kota, maka bisa dikatakan hidup saya penuh dengan drama tinggal nomaden dan angkat-angkat koper serta seringnya menggunakan pesawat domestik atau bus yang nyaman.

Oleh karena itu, saya harus ekstra hati-hati dengan barang berharga, seperti paspor dan dompet. Pengalaman saya menaruh uang dan paspor adalah dengan menempelnya di perut dan saya memakai celana panjang yang nyaman. Terkadang saya juga menaruh uang seperti nenek-nenek jaman dulu, (maaf) di bra. Uangnya saya bungkus dulu dengan tissu. Rempong, ya? Demi keamanan diri sendiri, deh.

Hati-hati terhadap barang bawaan kita. 

Penodongan di Siang Bolong

Kejadian ini saya dengar ketika saya tinggal di Caracas, Venezuela. Pada saat sedang menumpang taksi dari rumah menuju suatu tempat di suatu siang yang cerah, sang supir kadang ramah mengajak ngobrol jika mengetahui kita sedikit berbahasa lokal.  

Ketika jalanan macet dan kami berhenti di lampu merah, si supir cerita kalau tadi pagi dia juga lewat jalan yang sama bersama seorang penumpang wanita. Tiba-tiba datang orang menodong si wanita dari kaca jendela. Mau tidak mau si penumpang wanita menyerahkan semua barang miliknya, dari jam tangan, handphone, dompet, dan lainnya. Seisi tas.

Bo?? Situ gak salah, pak-nyaaaa, cerita sama saya?? Daripada mendengar lebih jauh lagi keterangan pak supir taksi, akhirnya saya memutuskan untuk membayar sesuai tarif (taksi di Caracas kebanyakan tidak memakai argo) dan turun di tengah-tengah kemacetan itu.

Takut? Ngeri? Menurut Anda?

Dirampok Ketika Akan memasuki Garasi Rumah Sendiri

Masih cerita di Caracas, Venezuela, seorang teman menceritakan kepada saya bahwa tetangga sebelah gedung apartemennya itu ditodong ketika sedang menunggu gerbang otomatis terbuka pintunya. Si penodong masuk ke dalam mobil dan ikut masuk ke dalam apartemen. Hadeuuhhh…saya tidak ingin mendengar ceritanya lebih lanjut lagi. Bikin senewen dan merinding.

Polisi Bersenjata Lalu Lalang

Lain cerita pengalaman di Mexico City, dimana saya tinggal saat ini. Melihat dan menyaksikan polisi berseragam lengkap dengan senjata menjulang yang melebihi tinggi badannya sendiri, membuat takjub pemandangan.

Pertama-tama sewaktu menginjakkan kaki disini, sih, kesannya saya norak ya, melihat pemandangan seperti itu. Tetapi akhirnya, ada pembenaran ketika salah satu sahabat, Herman, yang tinggal di Paris, datang berkunjung dan kami berlibur di Mexico tahun lalu. Betapa kagetnya dia menyaksikan situasi polisi tersebar hampir di setiap sudut, lengkap dengan senjata panjangnya.

Ilustrasi.

Pasang Mata, Pasang Telinga

  • Lebih baik tidak usah banyak mendengar atau membaca lebih dalam tentang keadaan keamanan yang (katanya) berbahaya. Terkadang tidak mengetahui secara detil keadaan keamanan suatu negara membantu kita bergerak bebas namun hati-hati, daripada jadi takut dan paranoid yang diciptakan sendiri.
  • Jika Anda traveling di suatu negara dan menumpang bus sewaktu berpindah kota, sebaiknya tidak meninggalkan barang berharga di bagasi bus. Kalau ada penumpang yang turun duluan, mana kita tahu kalau misalnya koper kita ikut diambil?
  • Pengalaman saya traveling dan tinggal di kota-kota yang katanya berbahaya di dunia, sebenarnya tidak perlu menciptakan rasa kuatir yang berlebihan dan akhirnya membuat stres diri sendiri. Walaupun saya stres beneran. Yang penting tidak mengundang orang lain berbuat jahat. Misalnya tidak mengeluarkan barang-barang berharga di depan umum yang bisa menimbulkan kesenjangan dan rasa iri yang berlebihan.
  • Tetap waspada, jaga diri dan hati-hati di manapun kita berada. Karena sebagai orang asing yang tinggal di negeri orang, lebih kelihatan secara fisik dan seringnya jadi sasaran kejahatan.
  • Kebanyakan kasus kriminal, seperti penodongan dan perampokan hanya menginginkan nilai materi. Jika hal ini terjadi pada Anda, sebaiknya diberikan saja tanpa melawan daripada nyawa Anda yang jadi sasaran.
  • Berbaur dengan penduduk setempat membantu kita untuk bisa diterima dalam masyarakatnya, sehingga mereka akan melindungi kita jika kenapa-kenapa dengan kita. Apalagi jika kita cewek yang traveling sendirian.
Foto: ilustrasi