Like

Minggu, 30 Maret 2014

XIII. 29. Mexico City (28): Tradisi Adu Banteng - Matador


Bagi Anda yang mengenal tradisi adu banteng yang berasal dari negara Spanyol yang dimulai pada ratusan tahun yang lalu, tentunya sudah banyak mengetahui, menyaksikan secara langsung atau bahkan mendengar sedikit banyak cerita tentang hal tersebut. 

Pertunjukan adu banteng yang semula hanya dimiliki negara Spanyol, sedikit demi sedikit ´menular´ ke negara-negara tetangganya, seperti di Portugal dan Prancis bagian selatan.

Pada abad ke- 15, ketika Spanyol menjejakkan kakinya di negara-negara latin, tradisi adu banteng ini turut dibawanya. Dengan berjalannya waktu, adu banteng pun bisa kita saksikan di negara-negara bekas jajahan Spanyol yang berada di Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Amerika Utara.

Kebetulan saat ini saya sedang menjelajah Mexico dan sedang ada musim adu banteng, maka kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Kapan lagi bisa menyaksikan langsung salah satu tradisi bangsa Spanyol yang dilestarikan di Mexico? 

Sang matador beraksi.

Bertempat di arena adu banteng yang bernama Plaza de Toros yang terletak di jantung kota Mexico, arena adu banteng ini mampu menampung 40.000an penonton dan merupakan salah satu arena adu banteng terbesar di dunia. 

Tempat yang seharusnya penuh dengan penonton, terpaksa agak kosong karena hujan yang tercurahkan dari langit, serta merta membuat para penonton yang duduk di area terbuka, terpaksa mengungsi. 

Saya yang kebetulan mendapat tempat duduk di barisan terdepan, tetap kekeuh tidak mengungsi ke tribun karena memang benar-benar ingin menyaksikan pertunjukan besar ini. Dan hujan pun bukan berarti penghalang untuk menghentikan pertunjukan. Yes, the show must go on!

Torero tidak hanya menggunakan kain berwarna merah untuk memancing si banteng.

Pertunjukan adu banteng ini berlangsung cukup lama, yaitu sekitar 3 jam, dengan mempertontonkan 6 banteng yang siap mati di tangan para torero (matador dalam bahasa inggris). Ada 3 orang torero yang masing-masing mendapat jatah 2 ekor banteng yang memiliki berat rata-rata 400-an kg  untuk ditaklukkan. 

Setiap pertandingan, setiap torero didampingi oleh 2 orang penusuk punggung banteng (picador dalam bahasa spanyol) sambil menunggang kuda, lalu ada 3 orang penusuk jarum ke punggung banteng (banderillero dalam bahasa spanyol). Banderillo ini bertugas membantu sang torero menaklukkan si banteng. Umumnya, peran banderillo ini juga sama pentingnya dengan torero.

Yang menarik dari pertunjukkan adu banteng ini adalah para torero berdandan abis-abisan dengan kostum menarik dengan warna terang benderang. Gerakan tubuh para torero untuk ´menantang´ para banteng  laksana tari dan irama yang memikat para penonton.

Cucok kan, kostum dan warna kain untuk memancing si banteng? senada warna merah menyala.

Penampilan yang mendebarkan dan menyayat hati  adalah pada saat si banteng sudah terluka dan sekarat, torero dengan piawai memainkan muleta (kain berwarna merah atau merah muda) dengan tujuan membuat si banteng mengamuk. 

Muleta juga berfungsi menyembunyikan pedang yang akhirnya digunakan untuk menusuk leher si banteng. Kejadian ini membuat mata saya berkaca-kaca selama 6 kali pertandingan. Tidak tega. Tetapi karena rasa ingin tahu dan menyaksikan secara langsung pertunjukan ini serta ingin berbagi pengalaman, maka saya menguatkan hati untuk menontonnya. 

Sambil berfikir: kok, tega, ya, mereka membunuh si banteng demi mempersembahkan tontonan yang menarik dan spektakuler. Dan saya juga mikir, sih, kok, mau-maunya saya menonton jika udah tau pertunjukan ini akan  membuat si banteng menderita begitu.

Di akhir babak pertunjukan jika sang torero berhasil menaklukkan si banteng dengan apik dengan penampilan yang memikat, para penonton memberikan ´hadiah´ berupa tepuk tangan yang cukup keras dan lama serta mengibarkan  sapu tangan berwarna putih. Olé!

Cerita di balik ´lapangan´ adu banteng:

  • Para torero mengenakan kostum dengan warna terang dengan bling-bling warna emas untuk menarik perhatian si banteng. Dan, ehmm..untuk menarik perhatian penonton juga, kali, ya?
  • Peran torero ini sangat penting karena dia adalah bintang lapangan di antara para picador dan banderillero. Maka, diperlukan keahlian, kelihaian dan kelincahan gerakan untuk membuat si banteng mengamuk. 
  • Di babak terakhir inilah, peran torero lebih menjadi pusat perhatian, karena hanya ada si torero dan si banteng di lapangan. Jika torero terjatuh atau si banteng berhasil mengalahkan torero, maka peran para torero yang lain, picador dan banderillero yang berada di pinggir lapangan sangat diperlukan untuk membantu sang torero yang terjatuh tadi. Hal ini terjadi pada saat pertandingan ke-5. Tiba-tiba sang torero terjatuh diseruduk sang banteng. Dengan gerak cepat, kedua torero, para picador dan banderillero yang berjaga-jaga di pinggir lapangan, bergegas memasuki lapangan untuk menolong sang torero sambil sibuk mengalihkan perhatian si banteng. Benar-benar moment yang menakjubkan.
  • Warna kain yang digunakan oleh torero untuk membuat mengamuk si banteng tidak harus warna merah atau pink, seperti yang kita lihat di banyak pertandingan adu banteng. Sebenarnya warna apapun akan tetap menarik perhatian si banteng dan membuat si banteng mengamuk karena pada kenyataannya, si banteng adalah binatang yang buta warna.
  • Siap-siap membawa sapu tangan berwarna putih untuk memberikan penghargaan terhadap sang torero. Kalau tidak ada sapu tangan berwarna putih, tissu juga berperan penting untuk menggantikannya. Selain itu, tissu juga berfungsi sebagai penghapus air mata ketika melihat si banteng sekarat.(MP/FOTO:LGN)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar