Like

Jumat, 28 Maret 2014

XIII. 17. Mexico (16): Menyelami Dunia Maya (2): Piramida Chichen Itza

Chichén Itzá, sumber mata air bangsa Itzas

Salah satu Piramida paling populer di antara para turis yang mengunjungi Mexico, Chichén Itzá boleh sombong, karena memang menjadi tempat tujuan utama para turis dari seluruh dunia untuk menyaksikan kejayaan bangsa Maya. Terletak 120 km dari Mérida, salah satu kota penting di Semenanjung Yucatán, letak Piramida Chichén Itzá bisa dikatakan strategis karena terletak di antara ´perjalanan´ Merida – Cancún, dua kota tujuan paling populer para wisatawan yang mengunjungi Mexico.

Menurut para ahli, Chichén Itzá termasuh situs bersejarah yang berada dalam kategori akhir periode klasik yang dibangun di Semenanjung Yucatán 900 Masehi. Chichén Itza yang berarti sumber mata air dari bangsa Itza, dikukuhkan sebagai salah satu Warisan Dunia versi UNESCO pada tahun 2007. Dibandingan dengan luas Palenque yang ´hanya 18 km2´, luas Chichén Itza adalah 300 hektar. Bisa dibayangkan luasnya. Jarak antara 1 bangunan dengan yang lainnya memang agak berjauhan dan dibatasi oleh lapangan yang luas.

Kompleks piramida megah ini terdiri dari puluhan piramida besar dan kecil yang tentunya ada fungsinya masing-masing. Di antara puluhan situs yang terhampar, yang menarik perhatian kami ada 2, yaitu Castillo. Bangunan Castillo ini terdiri dari 4 sisi bertangga yang masing-masing berjumlah 91. Jika dikalikan 4 maka totalnya menjadi 364 tangga ditambah 1 tangga utama di puncak Piramida. Jumlahnya menjadi 365 tangga yang mengingatkan kita akan jumlah hari dalam setahun pada kalender Masehi. Piramida Castillo memang didedikasikan untuk matahari sebagai sumber penghidupan dan merupakan pusat tempat upacara besar. 

Ini, nih..Piramida Castillo yang terkenal itu. Sayangnya kita sudah tidak bisa menaiki tangganya sampai tingkat atas.

Bangunan kedua yang menarik perhatian kami adalah Lapangan bola. Disini, nih, tempat suci dan pengorbanan dengan cara permainan bola yang terbuat dari kayu, yang terdiri dari 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang. Peraturan permainan bola ini cukup unik, para pemain diharuskan mengoper bola menggunakan lengan dan dengkul. Nah, jika salah satu tim kalah dalam  pertandingan, maka ´kapten´ mereka dikorbankan kepada Tuhan mereka, yaitu Kukulcán (dewa ular), dengan cara pemenggalan kepala: cara terhormat pengorbanan ala Bangsa Maya.

Lapangan bola inilah saksi bisa kekejaman dan kebrutalan bangsa Maya.

Sedangkan bangunan-bangunan yang lain juga banyak yang menarik dan menyisakan banyak cerita, yang memang sama benang merahnya: pengorbanan. Kompleks piramida megah ini begitu populer karena merupakan situs pengorbanan. Banyak bangsa Maya yang meninggal karena upacara pengorbanan yang mereka lakukan. Arti ´mati´ untuk bangsa Maya begitu terhormat karena mereka berkorban jiwa dan raga untuk menghadap Tuhan.

Letak Cichen Itza.

Sayangnya, keindahan dan keajaiban kompleks situs ini dipenuhi dan dijejali oleh para pedagang dihampir setiap sudut dan sekeliling situs, sehingga mengurangi daya tarik dan terkesan seperti pasar yang tidak tertata rapi. Walaupun demikian, tidak mengurangi ketakjuban kita akan peninggalan Bangsa Maya yang berguna untuk kelangsungan hidup manusia sampai saat ini. 

Foto: Ita, Herman


Tidak ada komentar:

Posting Komentar