Like

Rabu, 02 November 2016

XV. 1. ECUADOR: Moving again to latine´s country

Hai..halo…hola…bonjour…

Sudah lama sekali saya tidak aktif menulis di blog. Namun terima kasih kepada semua pembaca yang masih setia mengunjungi blog, mengirim email, bertanya-tanya seputar sekolah di Paris, bagaimana hidup di Prancis sampai nanya-nanya detil tentang Dating The French Man bahkan meminta saran ketika memutuskan Married The French Man. Saya terharu…ternyata sangat membantu kalian semua tentang tip-tip dan pengalaman saya. Setidaknya kita saling belajar dan saling mengisi, ya. Karena jalan hidup dan pengalaman hidup setiap orang berbeda-beda. Dengan berjalan dan berdamai dengan waktu, saya makin memahami bahwa hidup itu penuh belajar dan disyukuri. Semuanya terjadi karena sudah ada jalannya.

Sekarang waktunya saya berbagi cerita yang akan ditulis dalam beberapa bagian tentang hidup di Cuenca, Ecuador, sejak tahun lalu.

AROMA LATIN YANG MENGGODA

Jika Anda mengikuit perjalanan blog saya dari awal, pasti paham ´alur hidup´ saya yang sejak beberapa tahun hidup berpindah-pindah negara, alias nomaden. Hidup ini memang pilihan kami sejak saya memutuskan menikah dengan pria prancis yang mempunyai pekerjaan pindah-pindah negara berdasarkan proyek. Pusing dan rempong urusan dokumen, kertas-kertas, barang-barang pindahan, packing, ngatur isi koper sampai berjibaku dengan mood adalah hal biasa pada akhirnya. Mengapa? Ya, karena kami memilih untuk menjalani seperti ini. Dibawa asyik aja. Toh tidak semua orang merasakan jalan hidup seperti kami.

Setelah menetap di Prancis selama hampir 1.5 tahun, aroma negara latin seakan memanggil-manggil kami untuk bergegas kembali. Keberuntungan pun masih berpihak karena kami diberikan kesempatan untuk menjelajah negara Amerika Latin lainnya, yaitu Ecuador. Apa yang ada di benak saya tentang Ecuador? Pulau Galapagos! Selain itu? deretan pegunungan Andes yang sarat dengan sejarah dan keindahan alamnya menarik minat kami.

Uniknya pengalaman kami kali ini adalah kami tidak tinggal di ibukota negaranya, melainkan di kota ke-3, yang bernama Cuenca. Karena berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, setiap suami bertugas pasti ditempatkan di ibukota. Pikir saya, tidak apa-apalah, sekali-kali pasti akan seru menjadikan kota ke-3 pengalaman hidup ekspatriasi kami.

Adalah Cuenca, kota yang dinobatkan sebagai Warisan Dunia versi UNESCO karena banyak bangunan bersejarah. Selain itu, Cuenca yang terletak di ketinggian 2500 meter di atas permukaan laut terletak di deretan pegunungan Andes yang sarat sejarah dan keindahan alamnya. Cuenca juga dikenal sebagai kota pensiunan orang-orang Amerika Serikat. Berdasarkan pengalaman saya beberapa tahun hidup di negara latin, sepertinya di Cuenca terdapat banyak orang yang saya jumpai yang menguasai bahasa inggris.



Sabtu, 05 September 2015

XIV. 22. (Prancis) Perawatan Setelah Melahirkan


Masih cerita pengalaman tentang kehamilan dan melahirkan di Prancis. Kali ini saya akan berbagi tentang perawatan kesehatan ibu setelah melahirkan. Bagi seluruh wanita yang melahirkan di Prancis, pemerintah menyediakan perawatan kesehatan alat reproduksi. Setelah melahirkan, keadaan alat reproduksi wanita harus kembali seperti sedia kala. Perawatan ini dilakukan setelah sebulan melahirkan atas rekomendasi ginekolog dibantu oleh bidan dan ahli kinesterapi. Organ tubuh yang berpartisipasi dan bekerja saat melahirkan tentunya mengalami perubahan. Seperti otot-otot di sekitar daerah kemaluan wanita sampai alat reproduksi. Perawatan ini dinamakan edukasi perineal.

Cara perawatan ini dilakukan dengan teknik pernafasan. Jika otot-otot dinyatakan parah dan harus dilakukan terapi, ada teknik khusus yang digunakan.

Pengalaman saya yang melahirkan bayi perempuan secara normal, perawatan setelah melahirkan dilakukan dengan teknik pernafasan yang cukup mengurus tenaga. Hal ini karena organ dalam tubuh yang bekerja. Selama 8 sesi pertemuan yang lamanya 45 menit satu sesi, perawatan ini membantu para wanita mengembalikan fungsi otot-otot organ dalam tubuh.

Teknik perawatan ini tidak membantu untuk mengecilkan perut dan paha, melainkan memperkuat otot-otot di dalam organ tubuh. Sedangkan jika para wanita ingin mengembalikan bentuk tubuh seperti sedia kali pasca melahirkan, olahraga ringan sangat dianjurkan dimulai dari 3 bulan pasca melahirkan. Kita boleh melakukan olahraga yang agak berat setelah 6 bulan melahirkan karena tubuh kita sudah bisa melakukan aktivitas fisik seperti sebelum saat hamil.


Jumat, 28 Agustus 2015

XIV. 21. (Paancis) Persiapan Melahirkan, Pasca Melahirkan dan Menyusui


Pada saat kehamilan mencapai di akhir bulan ke-7 memasuki bulan ke-8, para ibu hamil di Prancis diberikan kursus Persiapan Melahirkan secara gratis dari pemerintah Prancis. Kursus ini bisa diikuti di klinik, rumah sakit atau tempat praktek bidan yang bisa kita pilih sendiri. Bisa berkelompok atau individu, tergantung pilihan kita. Terdiri dari 8 sesi yang lamanya 45 menit – 1 jam, para ibu hamil diberikan penyuluhan dan persiapan jika bayi lahir nanti. Misalnya dari persiapan secara mental dan fisik, latihan pernafasan yang benar ketika mendorong bayi keluar, posisi ´berdamai´ dengan rasa sakit ketika kontraksi. Jika ini adalah kehamilan pertama, maka diberikan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika kontraksi muncul. Yang jelas, para ibu harus bisa mengatur emosi dan rasa sakit serta tidak panik. Kata kunci: harus tenang dan kepala dingin ketika kontraksi datang.

Yang penting juga diberikan pada saat kursus persiapan melahirkan adalah menyiapkan segala keperluan calon ibu dan bayi untuk di kamar bersalin dan di kamar perawatan. Selain itu juga persiapan mental ketika pulang ke rumah dengan membawa sang bayi. Semuanya ada daftar standar yang harus dipenuhi oleh calon ibu.

Calon ayah juga diwajibkan mengikuti kelas persiapan melahirkan. Tujuannya adalah membantu calon ibu ketika kontraksi datang dan menemani pada saat persalinan. Sikap calon ayah yang harus siaga dan membantu calon ibu dengan menyemangati secara moral dan berada di sisi calon ibu.

Selain itu, kursus persiapan melahirkan ini juga memberikan kita pilihan untuk memberi ASI atau sufor. Di Prancis, para calon ibu bebas memilih. Tidak ada kewajiban IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Jika si calon ibu memilih untuk memberikan sufor, maka kelas persiapan melahirkan ini akan memberikan saran untuk memilih sufor yang bagus untuk bayi yang baru lahir, cara memberi sufor dan waktu-waktunya.

Menyusui bayi sendiri sebenarnya praktis. Kita tidak perlu repot-repot membawa perlengkapan ´perang´: botol, susu, air panas, dll. Jika si bayi haus, tinggal ´open bar´. Jangan lupa membawa celemek menyusui pada saat bepergian. Hal ini memudahkan kita untuk menyusui di manapun dan kapanpun. Foto diambil pada saat kami makan malam di restoran di jalanan Paris pada saat Juni 2015. 

Jika si calon ibu memilih untuk menyusui, maka dilanjutkan dengan tahapan cara menyusui dengan benar, posisi ibu dan bayi ketika menyusui agar kedua belah pihak nyaman. Peran calon ayah juga penting di sini. Calon ayah bisa berpartisipasi menggendong si bayi ke pelukan ibu ketika akan menyusui dan menggendong bayi kembali dan menaruh di tempat tidurnya setelah selesai menyusui. Di Prancis tidak disarankan bayi yang baru lahir tidur bersama orang tua. Karena itu kami menaruhnya di sebuah keranjang bayi yang terletak di samping tempat tidur kami. Saya sebenarnya tidak tega melihat makhuk mungil itu tidur sendirian. Inginnya si bayi berada di samping saya dan memeluknya. Sementara suami berpendapat bahwa sebaiknya si bayi tidur di keranjangnya agar kami berdua bisa istirahat. Dan yang lebih penting adalah untuk menghindari si bayi ´tertiban´ kami.

Pada saat hadir dalam kursus persiapan melahirkan itu, saya kaget juga menyaksikan angka ibu yang mau menyusui bayinya. Di antara 10 calon ibu yang hadir, hanya 3 orang (termasuk saya) yang bersedia menyusui bayinya ketika lahir nanti. Aneka pertanyaan dan keraguan terjawab satu per satu. Dari yang para calon ibu kuatir jika air susu tidak keluar sampai bagaimana jika si bayi menolak menyusui. Semua jawaban itu kami temukan dalam kelas persiapan melahirkan.

Alasan para ibu yang enggan menyusui bayi mereka, bervariasi. Ada yang mengatakan karena alasan kesehatan sehingga tidak memungkinkan menyusui bayinya. Alasan lainnya adalah karena repot ketika waktu cuti habis dan harus kembali bekerja, mereka tidak akan bisa menyusui bayinya sesuai permintaan. Alasan lain yang tidak masuk di kepala saya adalah ada sebagian mereka yang enggan menyusui bayinya terus menerus. Mereka jadi tidak ada waktu buat mereka sendiri karena bayi yang baru lahir akan meminta susu terus menerus. Lalu juga mereka berpendapat jika menyusui membuat mereka seperti di penjara dan kelak si bayi akan menjadi manja.

Apapun alasannya, rasanya masing-masing berhak menyusui atau tidak menyusui bayi masing-masing. Ini adalah pilihan. Seperti menjalani hidup saja yang penuh dengan pilihan dan kita harus memilih. Pihak rumah sakit, klinik, bidan, suami atau keluarga tidak berhak mencampuri keputusan masing-masing calon ibu untuk menyusui atau tidak. Hak asasi manusia kata mereka.

Pengalaman saya merasakan kehamilan, melahirkan dan pasca melahirkan hingga bayi perempuan saya berusia 4 bulan di Prancis, sangatlah berharga. Karena ada perbedaan cara pandang, pola pikir dari semua segi. Bagi saya yang dilahirkan dan besar di Indonesia, kata ´menyusui bayimu´ adalah hal wajib dan diharuskan bagi setiap ibu.


Mengurus bayi sendiri bersama sang suami pasca melahirkan memberikan kesan tersendiri bagi kami. Karena kami berdua jauh dari orang tua, jadi bayi kami benar-benar kami ´pegang sendiri´ tanpa campur tangan siapapun. Keuntungannya di Prancis, ada bidan yang datang ke rumah seminggu pasca melahirkan untuk mengecek kondisi ibu yang baru melahirkan, juga mengecek kondisi kesehatan si bayi dengan memeriksakan berat badan dan cek kesehatan lainnya. Tentu saja hal ini sangat membantu mengingat kita tidak perlu ke luar rumah memeriksakan kondisi bayi ke klinik. Setelah usia bayi sebulan, barulah kita sendiri yang harus keluar rumah untuk memeriksakan ke dokter anak. Juga untuk mengatur jadwal imunisasi. 

Selasa, 04 Agustus 2015

XIV. 20. (Prancis) : Pengalaman Kehamilan dan Melahirkan

Hello lagi…

Wah..sudah hampir setahun saya nggak update blog. Terima kasih bagi yag terus mengunjungi blog saya, meninggalkan komentar serta mengirim email.

Sebenarnya saya hanya tidak produktif menulis, tetapi masih rajin membalas komentar dan email-email yang dikirim ;)

Ceritanya..tahun 2014 telah dilalui dengan suka cita. Banyak sekali kejadian yang membawa berkah. Terutama di keluarga saya. Ya, kami menantikan anggota baru dalam keluarga. Lalu saya sibuk membantu adik yang meneruskan pendidikan S2 di salah satu Universitas di Paris.

Tahun 2015 di bulan februari adalah babak baru dalam kehidupan kami. Bayi perempuan mungil lahir dengan selamat, sehat dan sempurna. Berkah dan karunia Allah yang tak terbantahkan. Dan dari sinilah hidup kami berubah: merawat makhluk kecil yang berharga, mengubah hidup kami menjadi orang tua yang harus bertanggung jawab mengurus, merawat dan membesarkannya. Bukan pekerjaan mudah karena kami sudah ´teken´ mengikat seumur hidup.

Memiliki perut gendut yang didalamnya makhluk hidup adalah pengalaman yang luar biasa. Dan saya sangat menikmati kehamilan walaupun harus melalui banyak pemeriksaan demi kesehatan calon ibu dan anak.


Si Cah Ayu lahir di sebuah klinik di kota Grenoble, 17 februari 2015 pukul 19.46. Suhu udara waktu itu adalah 2 derajat. Dingin namun bersalju. Tidak mudah menunggu detik-detik proses kelahirannya. Saya mengalami kontraksi selama 24 jam dan kemudian berhasil melahirkan melalui persalinan normal.

Suasana kota Grenoble yang bersalju pada saat proses melahirkan. Cah ayu adalah baby winter.


Pro persalinan normal

Pengalaman merasakan kehamilan dengan tenang dan penuh dengan pantauan saya alami di Prancis. Karena kehamilan pertama dan saya berusia di atas 30 tahun, ginekolog sangat perhatian dan saya diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan secara rutin. Baik kontrol kandungan setiap bulan, pemeriksaan darah setiap bulan, asupan makanan-minuman-vitamin juga sangat diperhatikan. 

Tidak hanya fokus pemeriksaan kandungan, tetapi juga kesehatan mata dan gigi juga mendapat perhatian. Awal-awal kehamilan dan banyak pemeriksaan ini-itu lumayan membuat stres juga. Yang saya pikirkan adalah yang penting calon bayi sehat dan sempurna. Maka dari itu, saya benar-benar serius dan menjaga sekali kehamilan selama 39 minggu.

Suasana ruang bersalin di Klinik Muatualiste Grenoble.


Beruntungnya di Prancis, semua biaya pemeriksaan gratis ditanggung asuransi negara dan asuransi tambahan. Jadi sudah terbantu kami tidak perlu pusing mengenai biaya. 100% ditanggung. Bahkan untuk biaya persalinan, dokter, klinik, obat dan vitamin.

Walaupun Prancis termasuk negara modern yang sudah sangat maju untuk ilmu kedokteran dan alat-alat medisnya, mereka tetap pro dengan kehamilan normal. Kelahiran dengan operasi cesar hanya dilakukan jika si calon bayi harus segera ditolong atau kondisi kesehatan si ibu yang tidak memungkinkan untuk menjalani kelahiran normal.

Kontraksi lebih dari 12 jam dan bayi belum lahir juga? Ya, ditunggu saja. sepanjang tidak ada komplikasi, janin terganggu atau harus ada tindakan operasi segera, ya si calon ibu harus sabar melewati proses kontraksi. Jadi, kita tidak bisa memilih waktu, tanggal ataupun jam si bayi lahir. Tergantung si bayi kapan mau lahir. Nah, di sini fisik dan mental si calon ibu mendapat cobaan yang luar biasa. Selain itu, calon ayah pun harus sabar mendampingi calon ibu yang kesakitan berjuang melahirkan.

Pemakaian epidural cukup tinggi bagi para ibu yang melahirkan secara normal. Sangat membantu sekali mengurangi rasa sakit kontraksi dan waktu melahirkan. Walaupun banyak juga para ibu yang tidak memilih menggunakan epidural dengan alasan agar pemulihan paska melahirkan lebih cepat dan lebih alami. 

Saya? Jelas memilih epidural akhirnya walaupun berjuang dulu hampir 20 jam melalui kontraksi hebat sampai bukaan 4. Tetapi jangan terlalu kuatir dengan rasa sakit yang luar biasa hebatnya yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Begitu si bayi lahir dengan sehat, selamat, menangis dan refleks langsung  mencari ASI, seketika rasa sakit hilang. Ajaib sekali!

Setelah si bayi lahir, di sinilah babak baru kehidupan yang sebenar-benarnya dimulai. Mulai detik kelahirannya, saya tidak lagi menjelajah dunia sendirian, tidak lagi berpindah-pindah negara berdua dengan suami, melainkan kami membawa juga makhluk kecil titipan Yang Maha Kuasa untuk berpetualang bersama kami. 

Ya, kami telah siap membawanya memperkenalkan dunia. memperkenalkan 3 budaya yang berbeda: Indonesia, Prancis dan budaya negara di mana kami memilih untuk tinggal dan berpetualang.

Tahun 2015 adalah tahun petualangan kami bertiga sebagai anggota keluarga lengkap: ayah, ibu dan anak.





Minggu, 07 Desember 2014

XIV. 19 (Prancis): Daftar Ulang Sekolah di Universitas Prancis

Hai...hello...bonjour...

Nggak terasa hampir 4 bulan tidak update blog. Rasanya waktu berlalu cepat sekali. Baru beberapa bulan lalu merasakan musim panas dengan hangatnya sinar matahari, sekarang di Prancis sudah masuk musim dingin. Matahari terbit dan terbenam lebih cepat (ini cocok buat yang ingin membayar puasa ramadhan kemaren, hehe...karena di musim dingin, waktu berpuasa lebih pendek).

Setalah membahas beberapa tentang realitas kehidupan sesungguhnya di Prancis yang keras yang berhubungan dengan pekerjaan. berikut ini saya akan bercerita tentang tahapan daftar ulang sekolah bagi sebagian besar mahasiswa di Prancis yang dimulai sejak sept lalu.

Kembali ke Sekolah

Bukan saya yang kembali menjadi anak sekolah, melainkan beberapa adik yang diterma sebagai mahasiswa Master (S2) di salah satu universitas negeri di Paris. Kelihatan seru dan mentereng, ya, dia bisa melanjutkan sekolah master di Paris? Nanti dulu. Kita harus lihat perjuangan dia sebelum benar-benar menginjak dan terdaftar di Universitas Paris.

Beasiswa dan Biaya Sendiri

Ada perbedaan perlakukan untuk tahapan administrasi bagi penerima beasiswa pemerintah Prancis dan pemerintah Indonesia. Bedanya adalah bagi para penerima beasiswa pemerintah Prancis mendapat perlakuan khusus untuk biaya pendaftaran dan uang sekolah dengan potongan biaya yang hampir setengahnya dari biaya biaya normal. Lalu untuk mendapatkan tempat tinggal di asrama mahasiswa, penerima beasiswa pemerintah Prancis mendapat priorotas atau bahkan diurus langsung oleh badan pemberi beasiswa.

Lain cerita dengan mereka yang mendapatkan beasiswa dari pemerintah Indonesia atau dengan biaya sendiri. Mereka ini diperlakukan normal dan sama dengan mahasiswa lainnya. Maksudnya, besarnya uang pendaftaran sekolah dan biaya kuliah serta mencari dan mendapatkan tempat tinggal tidak mendapatkan perlakukan khusus alias harus bergerilya mencari sendiri.

Persiapan keberangkatan yang super rempong

Tahukah Anda untuk mengurus administrasi yang dibutuhkan untuk keberangkatan memakan waktu, tenaga dan pikiran yang membuat stres? Di antara pekerjaan kantor yang terus berjalan, si adik-adik ini harus bisa membagi waktu mendalami bahasa prancis, mempersiapkan aneka kebutuhan pribadi sebelum keberangkatan sampai berurusan dengan administrasi di jajarannya, mengurus administrasi sekolah dan mengurus visa ke Kedutaan Prancis. 

Semuanya itu adalah bagaikan mata rantai yang tidak boleh putus karena satu dokumen berhubungan dengan dokumen yang lain.

Saya sebagai sang kakak hanya bisa menyemangatinya, berdoa untuk kelancarannya dan membantu semaksimal mungkin ketika sang adik tiba di Paris. Sedangkan untuk segala macam urusan di Indonesia, sang adik harus mengurusnya sendiri.

Arrived in Paris!

Akhrinya, saat yang dinantikan tiba: adik-adik tiba di Paris dengan selamat. Lalu? Ya, justru inilah tahapan kehidupan yang baru dimulai. Walaupun di Indonesia sudah melalui masa rempong sebelum keberangkatan, bukan berarti di Paris urusan si adik beres, hehe.

Setelah di Paris, si adik belum bisa tinggal di apartemen sendiri karena prosesnya tidak mudah. Karena itu, saya menaruh dia di salah satu keluarga prancis yang saya kenal baik. Nah, ini yang tidak gampang dilakukan karena tempat tinggal adalah hal utama yang harus dipikirkan sebelum berangkat ke Paris. 

Disarankan memang mempunyai kenalan atau kontak yang dikenal baik. Karena, kan, ibaratnya kita masuk ke negara orang yang kita tidak kenal sama sekali. Mana mungkin kita melakukannya sendiri. Karena itu, mempunyai kenalan dan kontak dengan keluarga prancis sangat disarankan. Dan tidak lupa kita menjaga silaturahmi dan menjaga hubungan baik karena kita tidak pernah tahu bagaimana nasib kita di negara orang lain. 

Dan tentu saya tidak berani sembarangan memberi kontak atau memberi rekomendasi kepada keluarga prancis jika saya tidak mengenalnya dengan baik.


Proses administrasi sekolah di Universitas Paris

Setelah sehari tiba di Paris, saya menemani adik-adik untuk daftar ulang ke sekolahnya. Setelah membayar uang sekolah setahun, biaya ekstrakurikuler dan biaya kesehatan, adik-adik mendapatkan kartu pelajar. Dia pun resmi terdaftar sebagai siswa di Universitas Paris. Setelah itu, sang adik harus menghubungi sekretaris jurusan untuk mendapat jadwal matrikulasi dan jadwal pelajaran selama 1 semester dan bertemu dengan para dosen.

Ya, di Paris ini, sistema pendidikannya sangat diutamakan oleh pemerintah. Dengan fasilitas yang spektakular, para siswa hanya dikenakan biaya yang sangat murah untuk pendidikannya. Adik saya pun takjub dengan orientasi sekolah yang lebiih mengacu pada pola yang lebih mendidik. 

Tidak ada ospek yang tidak perlu yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan perkuliahan. Orientasi sekolah ini lebih kepada perkenalan kampus, letak-letak gedung, perkenalan kepada seluruh dosen dan staf administrasi, cara meminjam buku di perpustakaan, kegiatan ekstrakurikuler sampai tempat praktikum. Dan nilai lebihnya adalah kita bisa bebas berdiskusi dan bertanya kepada dosen yang sesuai dengan mata kuliah yang kita pilih.

Aneka dokumen dan menata hidup

Setelah urusan administrasi dan orientasi sekolah yang sudah dijalani, satu-satu urusan untuk menata hidup di Paris mulai berjalan pada ´rel-nya´. 

Urusan berikutnya adalah asuransi kesehatan, mencari tempat tinggal sendiri sambil beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan masyarakat Paris itu sendiri. Memang tidak mudah melakukannya sekaligus. 

Tetapi lagi-lagi, kan, keputusan untuk menempuh pendidikan di luar Indonesia pasti ada konsekuensinya. Dan kita harus mau bergerak dan berkorban. Toh untuk masa depan kita sendiri.

Adik-adik saya pun mulai memahami ritme kehidupan ibukota Prancis ini. Semua orang sibuk dan fokus pada kepentingannya. Tergantung kita menilainya mereka fokus dengan urusan sendiri atau egois mementingkan diri sendiri. Jawabannya adalah dari sudut pandang masing-masing individu yang menjalani dan menilainya.

Jadi, siapkan Anda menjadi salah satu anak sekolah di Universitas Paris?


*Bon courage Bayu, Dita dan Sella...adik-adik yang sedang berjibaku menempuh pendidikan di Paris. Kerja keras kalian akan berhasil di tahun-tahun mendatang. 

Rabu, 13 Agustus 2014

XIV. 18 (Prancis): Karier & Profesi Pramuniaga Toko, Kasir, Pelayan Resto sampai Cleaning Service (Bag. 7)

Masih tentang pembahasan Karier, Pekerjaan dan Mengurus Rumah Tangga. Memang panjang jika kita membahasnya secara detil dan satu per satu. Saya sengaja mengangkat topik ini karena isi blog saya tidak melulu tentang plesiran, jalan-jalan dan hal-hal yang berhubungan dengan turisme saja. 

Saya ingin bervariasi dan berbagi topik lainnya. Alasannya sederhana karena saya bukan turis di Prancis. Melainkan memutuskan tinggal di Prancis lagi setelah 9 tahun berlalu dan beradaptasi dengan budaya Prancis dan masih terus belajar memahami segala sistem kehidupan di Prancis.

Saat ini topik yang masih ingin saya bahas adalah masih tentang Karier dan Pekerjaan di Prancis, yang mempunyai penilaian lain dari sudut pandang kebanyakan orang Indonesia yang belum pernah merasakan tinggal di Prancis atau di Eropa pada umumnya. Yang mengenal Prancis dan Eropa melalui media atau bahkan berkunjung hanya sebagai turis. Tentulah berbeda sudut pandang kehidupannya.

Bukan bermaksud merendahkan sudut pandang yang berbeda, melainkan membuka mata akan profesi-profesi yang dianggap sebelah mata di Indonesia, kebalikannya di Prancis, profesi-profesi tersebut tetap mendapatkan sejajar dengan profesi apapun. Karena pada dasarnya, apapun profesi dan pekerjaan Anda tetap mulia dan tidak dipandang sebelah mata.

Setelah profesi pembantu rumah tangga dan penjaga/pengasuh anak yang masih dianggap remeh/dianggap kurang bonafid adalah menjadi pramuniaga toko, kasir supermarket, pelayan restoran sampai cleaning service hotel/restoran/kantor.

Banyak juga orang asing yang mengerjakan profesi di atas, tak terkecuali orang Indonesia yang merantau ke Prancis, baik itu mereka yang sedang menempuh pendidikan, merantau karena mencari pekerjaan atau memang bersuamikan orang prancis.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut memang jauh dari pekerjaan orang kantoran, di gedung-gedung bertingkat di kawasan bergengsi di Jakarta atau di kota-kota lain di Indonesia. 

Seperti yang sudah saya tulis di bagian-bagian sebelumnya jika Anda menyimak, pekerjaan apapun di Prancis sama mulianya. Karena diatur oleh Undang-undang dan ada standar gaji minimal dengan standar waktu bekerja. Dan jangan lupa bahwa mereka juga memiliki hak berlibur setidaknya 5 minggu dalam setahun dan tetap mendapatkan gaji!

Mereka yang bekerja sebagai profesi-profesi di atas berhasil menjalani hidupnya, berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa meminta-minta bantuan dari pemerintah dan juga berhasil hidup mandiri bahkan turut berperan dalam belanja rumah tangganya. Yang lebih fantastis lagi, mereka berhasil membantu keluarga di Indonesia bahkan berhasil menabung untuk liburan ke Indonesia atau ke negara-negara lain berkat kerja kerasnya.

Karena itu standar pekerjaan dan gaji antar negara tentu berbeda-beda. Profesi-profesi yang dianggap remeh atau hina tetapi berhasil membangun hidup semua orang di Prancis atau di negara-negara eropa lainnya, yang belum tentu akan sama hasilnya di Indonesia. Di Indonesia pun, jika kita mempunyai pekerjaan bagus, belum tentu kita memilliki standar gaji layak bahkan sampai bisa menikmati liburan ke seluruh Indonesia atau ke luar negeri.

Nah, pesan moral saya adalah sebaiknya tidak meremehkan jenis pekerjaan apapun, terlepas itu di Prancis, di Indonesia atau di negara manapun. Apapun jenis profesi dan pekerjaan yang kita pilih atau orang lain pilih adalah pilihan hidupnya sendiri. Kita tidak berhak menilai kelemahannya saja, menilai keburukannya saja atau menganggapnya rendah hanya demi harga diri dan gengsi.


Setuju?

XIV. 18. (Prancis): Profesi Pembantu Rumah Tangga, Penjaga/Pengasuh Anak (bagian 6)

Nah, tentu Anda para pembaca sudah mempunyai sedikit dan banyak gambaran tentang kehidupan karier dan pekerjaan di Prancis serta mengurus rumah tangga. Yang saya mau bahas lebih lanjut lagi adalah tentang peluang menjadi pembantu rumah tangga yang bekerja di waktu tertentu atau menjadi babysitter.

Sudah dibahas di atas tentang sulitnya mencari pekerjaan sesuai keinginan kita di Prancis, lalu tentang  kerepotannya para orangtua di Prancis yang memutuskan bekerja tapi mereka memiliki anak. Yang mau tidak mau harus menitipkan anak-anak mereka di tempat penitipan anak atau pengasuh anak atau meminta jasa babysitter atau pengasuh anak untuk menjemput anak-anak dari sekolah.

Nah, bagi sebagian orang asing (atau bahkan orang Prancis sendiri) yang kesulitan mencari pekerjaan sesuai dengan keingian mereka, setidaknya mereka bisa melihat  hal ini sebagai peluang untuk menjadi pembantu rumah tangga atau pengasuh anak.

Jam kerjanya tidak melulu setiap hari dan setiap waktu, jadi kita bisa mengatur waktu kapan kita bekerja tanpa mengabaikan keluarga kita sendiri.

Memang, sih, profesi pembantu rumah tangga atau pengasuh/penjaga anak sepertinya rendah dan tidak mungkin kita lakukan di negeri sendiri. Tetapi, jika profesi tersebut mendapat kompensasi atau gaji minimal sesuai yang ditetapkan pemerintah serta termasuk ke dalam profesi yang dihargai di Prancis, akhirnya banyak juga dilakukan oleh para wanita asing.

Untuk kebanyakan orang Indonesia sendiri yang saya jumpai, banyak juga yang melakukan pekerjaan ini. Mereka melakukannya sebagai pekerjaan sampingan. Misalnya mereka anak sekolah yang sedang menempuh pendidikan di Prancis dan memerlukan uang ekstra, mereka memilih untuk menjadi pengasuh anak/penjaga anak beberapa jam sehari. Lumayan untuk menambah uang saku.

Begitu pun dengan mereka yang memilih profesi menjadi pembantu rumah tangga dengan membersihkan rumah orang lain atau membantunya menyetrika dan dihitung jam-jaman. Hasilnya lumayan untuk menambah uang belanja atau membeli tas merek tertentu tanpa meminta suami.

Tetapi, balik lagi ke mentalitas individu masing-masing. Tentu ada yang merasa gengsi, malu, merasa rendah diri atau takut jadi bahan cemo´oh orang lain. Apalagi jika mereka yang dulunya mempunyai karier dan pekerjaan bagus di Indonesia, lalu berubah profesi menjadi pembantu rumah tangga atau pengasuh anak? Ditambah lagi jika sang suami memiliki kedudukan penting di perusahaannya, masak istrinya menjadi pembantu atau penjaga anak? Siapkah Anda atau kita sendiri melihat penilaian orang lain?

Saya tekankan bahwa selama pengalaman hidup di Prancis, pekerjaan apapun sama mulianya karena seluruh profesi dilindungi Undang-undang dan ada aturan jelas untuk gaji minimal dan waktu bekerja yang dilindungi pemerintah. Jadi tidak ada istilah terhina, rendah diri atau merasa tidak berguna jika Anda melakukan pekerjaan tersebut.

Di blog berikutnya, saya akan membahas profesi lainnya yang seringnya dianggap remeh dan rendah oleh sebagian besar orang Indonesia yang tidak mengerti tentang sistem kehidupan dan pekerjaan di Prancis atau di Eropa tepatnya: menjadi pelayan restoran, pramuniaga toko, kasir supermarket sampai cleaning service hotel/rumah sakit/restoran/kantor.

(Untuk para perantau dari seluruh dunia, khususnya untuk teman-teman seperjuangan di Prancis, yang tidak pernah menyerah untuk bertahan dan beradaptasi dng kehidupan Eropa yang tidak mudah. Prancis selalu membuka pintunya lebar-lebar untuk mereka yang mau bekerja keras)

XIV. 17. (Prancis) : Antara Karier, Pekerjaan, Mengasuh Anak dan Mengurus Rumah Tangga (Bag. 5)


Karier dan pekerjaan di negara Prancis masih menjadi topik saya. Jangan bosan, ya. Karena seiring dengan berjalannya waktu tinggal di Prancis, tentu kita semakin mengenal budaya sehari-hari, kebiasaan orang Prancis sampai sulitnya mencari pekerjaan.

Di bagian-bagian sebelumnya, sudah saya jelaskan beberapa poin penting tentang sulitnya mencari pekerjaan atau meneruskan karier di Prancis. Selain ijazah pendidikan dan pengalaman kerja yang kita peroleh di luar prancis, kendala bahasa juga tentunya punya andil.

Tahukah Anda apa yang dilakukan sebagian besar para wanita asing yang beristrikan orang Prancis ketika mereka telah lelah mencari pekerjaan sesuai dengan keinginan dan pengalaman mereka namun mereka tidak mendapatkannya?

Sebagian memilih untuk tidak bekerja tanpa gaji alias menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak. Mau saya tekankan di sini bahwa pilihan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak adalah pilihan dan pekerjaan mulia. Karena, tahukah Anda bahwa profesi apapun dihargai di Prancis? Menjadi ibu rumah tangga dengan mengurus rumah, anak dan suami termasuk dalam katergori pekerjaan di Prancis. 

Jika kita ingin mendapat gaji, kita bisa melamar menjadi pembantu rumah tangga dan babysitter untuk orang lain dan tentunya mendapat gaji. Tetapi, pernah terpikirkah oleh kita bahwa misalnya kita memilih bekerja karier di Prancis, lalu siapa yang mengurus rumah dan anak-anak? Pilihannya adalah kita mengerjakan semuanya sendiri dan berbagi tugas dengan suami. Tetapi, tidak mungkin, kan bekerja sambil mengurus anak sehari-hari dan membereskan pekerjaan rumah?

Karena itu, profesi sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak termasuk pekerjaan yang paling dicari di Prancis. Dan tentu kita mendapat gaji yang optimal dengan gaji mínimum per jam yang telah ditentukan oleh negara.

Bayangkan jika Anda memutuskan untuk berkarier dan bekerja kantoran, siapa yang mengurus anak-anak Anda? Jika bekerja menjadi pilihan Anda berdua dan Anda telah memiliki anak, maka ada kategori untuk menitipkan si anak:

  •    Usia 3 bulan – 3 tahun, Anda bisa medaftarkan dan menitipkan mereka di tempat penitipan anak (biasanya penitipan anak ini milik pemerintah) yang terletak dekat dengan domisili Anda. Untuk mendapatkan tempat untuk Anda di tempat penitipan tersebut, Anda harus mendaftarkannya jauh-jauh hari karena jumlah tempat terbatas. Selain itu juga dilihat dari status pekerjaan dan penghasilan Anda dan suami. Besarnya biaya tempat penitipan anak bervariasi, tergantung dari penghasilan gabungan Anda dan suami. Jika gaji Anda berdua dinilai cukup besar, maka Anda harus membayar lebih mahal. Tetapi jika gaji Anda berdua dinilai di bawah standar, maka biaya penitipan akan lebih murah. Prancis memakai tarif progresif untuk menentukan besarnya biaya penitipan anak bagi masing-masing orang tua.
  •    Usia 3-6 tahun, maka sudah termasuk ke kelompok anak-anak TK. Akan lain lagi aturannya karena hitungannya, mereka sudah bersekolah. Dan setelah waktu sekolah selesai, mereka akan dititipkan ke tempat penitipan anak yang kategori kelompok usia yang sama.
  •     Usia anak 6 tahun ke atas, biasanya waktu sekolah mereka akan lebih lama dan mereka akan tinggal di sekolah seharian, hampir sama dengan waktu bekerja orang tua. Jadi, mulai di usia 6 tahun ini, jasa tempat penitipan anak hampir tidak diperlukan. Tetapi orang tua harus tepat waktu menjemput sang anak. Jika tidak, akan ada sangsi dari pihak sekolah. Jika jam bekerja Anda tidak memungkinkan menjemput sang anak pulang sekolah, Anda bisa memakai jasa babysitter beberapa jam untuk menjemput anak dari sekolah dan menemaninya pulang ke rumah sampai Anda atau suami Anda pulang ke rumah.


Menjadi orangtua dan mempunyai anak lalu memutuskan untuk bekerja memang tidak mudah karena kehidupan di Prancis menuntut kita untuk melakukan segala sesuatunya dengan sendiri.

Sendiri disini maksudnya, dikerjakan antara Anda dan suami serta partisipasi anak-anak Anda. Pekerjaan domestik seperti memasak, menyiapkan makanan, membersihkan rumah sampai melakukan pekerjaan rumah lainnya memang dikerjakan sendiri. 

Jarang ada yang memiliki rumah tangga yang menginap di rumah seperti di Indonesia. Kalaupun beberapa keluarga memutuskan memiliki pembantu rumah tangga, si pembantu tidak bekerja setiap hari, melainkan ada jam-jam bekerjanya. Karena memang tarif mereka dibayar per jam. Misalnya si pembantu bekerja seminggu sekali dengan lama waktu 2 – 3 jam. Pekerjaan mayoritas yang dilakukan adalah bebenah rumah dan menyetrika. 

XIV. 16. (Prancis): Sulitnya Mencari Pekerjaan dan Meniti Karier (Bag. 4)

Nah, bagaimana dengan kita, nih, para wanita yang mengikuti suami ke negaranya? Dan tentu kita juga memulai karier dan mungkin juga posisi pekerjaan sudah cukup tinggi di Indonesia? Sayang, kan, jika harus meninggalkan semuanya dan memulai dari awal? 

Kekhawatiran yang lebih dalam lagi adalah apakah kita bisa bertahan dan survive di lingkungan yang sama sekali baru? Kalaupun kita tidak mempunyai karier atau posisi pekerjaan yang tinggi pun, tetap akan menjadi pertanyaan, akan ngapain nanti di negara suami?

Jalan keluarnya, apalagi jika bukan dipikirkan secara baik-baik dan secara matang? Keputusan akan mengikuti suami kan, bukan kita saja yang memutuskan, tetapi suami juga yang mempunyai peran penting untuk meyakinkan kita mengikutinya ke negaranya.

Oh iya, saya belum akan membahas lebih lanjut jika misalnya Anda dan suami memutuskan pindah ke negara lain, bukan ke negara suami, bukan pula negara Anda. Nah, lho! Hal ini lebih rumit lagi karena kan, adaptasinya dobel. Membentuk keluarga yang multi bangsa namun hidup di negara yang sama sekali berbeda. Nah, hal tersebut akan saya bahas di blog-blog selanjutnya, ya. Kita fokus yang di Prancis dulu.

Balik lagi tentang kepindahan bersama suami ke negaranya, menurut saya berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa contoh di sekitar, kita, nih, para wanita yang berkewarganegaraan asing yang harus lebih banyak mengalah. Tetapi bukan berarti kalah. Karena kan, akhirnya kita bisa sampai ke Prancis atas kesepakatan dan keputusan bersama. Kita tentunya yang harus lebih banyak beradaptasi dan harus mau berbaur dan menerima sistem kehidupan di negara suami. Belum lagi kita yang harus lebih banyak sabar dan bingung dengan kejadian sehari-hari, kebiasaan-kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan di negara kita.


Tak perlu panik. Semua pakai proses dan waktu untuk adaptasi ini. Anda tidak perlu merasa sendirian. Kuncinya adalah komunikasikan segala sesuatunya pada suami Anda. Karena kalau kita diam saja, emosi akan menumpuk di kemudian hari dan tidak baik demi kelangsungan rumah tangga Anda berdua. Belum lagi jika ada kehadiran anak. Jadi, sebaiknya, apapun memang harus dibicarakan. 

Kebiasaan buruk kebanyakan orang Indonesia adalah menyimpan sendiri masalahnya, tidak membicarakan dengan suami tentang kesulitan-kesulitan dan keraguan-keraguan yang dihadapi dan seringnya kita malah cerita ke orang lain atau teman sesama orang Indonesia sendiri. 

Hal ini menurut saya kurang tepat karena kan, setiap orang atau rumah tangga mempunyai problematikanya masing-masing. Jadi, yang paling tepat adalah membicarakan dengan pasangan Anda. 

Jika bahasa menjadi kendala, gunakan bahasa yang dikuasai Anda berdua. Percaya, deh, hal ini akan membantu Anda mempercepat proses adaptasi tinggal di negara suami. Walaupun bercerita atau berbagi dengan teman sesama negara memang diperlukan, tetapi tidak perlu sering-sering. 

Sabtu, 09 Agustus 2014

XIV. 15 (Prancis): Memulai Kembali Hidup di Prancis (Bag. 3) Karier & Pekerjaan

Tentang Karier & Pekerjaan

Jika dari segi karier, mungkin Anda yang sudah mempunyai karier bagus di Indonesia atau di negara lain, akan berpikir matang-matang sebelum ´nyemplung´ ke Prancis. 

Ketakutan dan kekhawatiran akan melakukan kegiatan apa atau akan bekerja di bidang apa tentu akan mengganggu pikiran Anda. Dan harap diingat bahwa bekerja di Prancis, syarat mutlak berbahasa prancis adalah tidak bisa ditawar lagi. 

Walaupun perusahaan multinasional atau perusahaan internasional yang didominasi bahasa inggris sebagai bahasa internasional, tetap saja kemampuan bahasa prancis tetap dinomorsatukan. Karena itu tak jarang orang-orang asing yang ´stuck´ dengan hal ini. Kalaupun mereka bisa bekerja di Prancis tetapi tidak berbahasa  dengan baik, kebanyakan dari mereka memiliki posisi tinggi atau pemberi keputusan.

Pekerjaan atau karier yang Anda rintis di Indonesia, misalnya saya memberi contoh: manajer suatu bank nasional atau kepala bagian di suatu perusahaan asuransi multinasional atau manajer marketing suatu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Sebelum Anda meninggalkan karier dan pekerjaan Anda demi mengikuti suami ke negaranya, tentu Anda sudah memikirkan dengan matang.

Dengan posisi pekerjaan yang cukup tinggi, tentu Anda berfikir bisa melanjutkan pekerjaan ini di Prancis. Tidak semudah itu. Karena, walaupun Anda telah memiliki ijazah sarjana maupun master dari universitas/ pendidikan tinggi di Indonesia, belum tentu diakui di Prancis. Perlu penyetaraan ijazah yang telah diraih di negara asal di lembaga resmi pemerintah Prancis. Ditambah lagi, walaupun pengalaman dan posisi pekerjaan Anda di Indonesia sudah cukup tinggi, belum tentu ada jaminan bisa diperhitungkan di Prancis.  Apalagi jika Anda tidak menguasai Bahasa prancis.

Kendala-kendala inilah yang menyulitkan dan menyudutkan kita sebagai bangsa pendatang yang ingin melanjutkan hidup di Prancis namun tetap bisa melanjutkan karier professional. Sayangnya sistem pendidikan dan pekerjaan di Prancis tidak mudah dan tidak sama dengan di negara kita.


Karena itu, saya mulai mengerti mengapa banyak wanita asing yang depresi karena mereka dulunya mempunyai karier dan posisi penting di negara asalnya. Tetapi, ketika tinggal di Prancis mengikuti sang suami, mereka bukan siapa-siapa, bahkan sulit mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan posisi pekerjaan seperti di negara asalnya.

Artikel Terkait:


XIV. 14 (Prancis): Memulai Kembali Hidup di Prancis (Bag. 2)

Di Prancis, mempunyai pekerjaan adalah suatu keharusan (atau pilihan). Bukan masalah status sosial dan gaji yang didapat, tetapi untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mahal. Selain itu juga menjaga ´image´ bahwa kita bukanlah termasuk barisan orang asing yang menumpang hidup di Prancis dengan memanfaatkan sistem bantuan yang disediakan pemerintah Prancis. Sebisa mungkin dihindari selagi kita bisa berusaha untuk hidup mandiri dan tidak tergantung kepada pemerintah.

Untuk menemukan pekerjaan di Prancis memang tidak mudah. Semua diatur dan memakan proses yang njlimet –menurut saya— serta banyak sekali dokumen penting yang diperlukan untuk memenuhi syarat perkerjaan. Apa saja?
  1. Izin tinggal. Sebagai orang asing yang menetap sementara di Prancis, kita diizinkan bekerja seperti orang Prancis lainnya. Tetapi yang membedakan adalah kita harus mempunyai izin tinggal yang disahkan dari kantor imigrasi bahwa kita diizinkan bekerja. Masalahnya, mengurus surat izin tinggal bagi pendatang memakan waktu berbulan-bulan. Walaupun dengan visa yang tertempel di paspor dan menerangkan kita bisa bekerja, dirasa tidak cukup bagi sebagian besar perusahaan. Ribet, kan?
  1. Asuransi. Mempunyai asuransi sosial adalah wajib hukumnya di Prancis bagi orang Prancis sendiri, orang asing yang berstatus menikah dengan orang prancis atau mahasiswa asing atau profesi lainnya. Intinya, siapapun yang datang ke Prancis dengan alasan apapun dalam jangka waktu lebih dari 3 bulan, diwajibkan memiliki asuransi sosial.
  2. Keterangan tempat tinggal. Tentu ini penting sebagai jaminan untuk menegaskan bahwa kita memang resmi mempunyai tepat tinggal (baik itu menyewa apartemen/rumah/memiliki sendiri) yang bisa diketahui dari kwitansi telepon lokal atau listrik atas nama kita sendiri.
  3. CV dan surat lamaran. Dua hal ini tak kalah penting karena menunjukkkan siapa kita, dari mana kita berasal, pendidikan dan ijazah yang diraih baik di Indonesia atau di luar negeri. Serta juga mengetahui rekam jejak pengalaman kita secara profesional sebelum kita menginjakkan kaki di Prancis.

Keempat dokumen tersebut di atas bisa dikatakan nyawa penting untuk memulai aktivitas di Prancis. Memang tidak mudah karena seringnya kita tidak bisa bekerja atau memiliki pekerjaan yang sama sewaktu kita di Indonesia atau di negara lain di mana kita bekerja secara profesional. Prancis pada umumnya sulit menerima karyawan asing yang tidak memiliki latar belakang pendidikan di Prancis atau tidak memiliki latar belakang bekerja di Prancis.

Dari pengalaman saya, sih, mereka takut mengambil resiko. Karena banyak pertimbangan tentunya. Seperti kita orang asing, tidak menguasai bahasa prancis dengan baik dan sempurna, tidak mempunyai pengalaman pendidikan tinggi di Prancis dan tidak memiliki pengalaman bekerja di Prancis.

Tetapi mungkin hal ini tidak terjadi jika kita mencobanya di Paris, yang merupakan kota besar, kota metropolitan dan biasa menerima orang asing. Yang saya bicarakan tentang kekhawatiran di atas adalah untuk di kota-kota di luar Paris yang memang tidak banyak memiliki lapangan pekerjaan untuk merekrut orang lokal maupun orang asing.

Depresi? Ya, pasti. Tapi nggak usah lama-lama sih. Nikmati hidup saja. Cari kegiatan yang menambah pikiran positif dan membuat jiwa kita tenang. Mendiskusikan masalah ini dengan suami juga penting, karena kan si dia juga yang akan mendukung apapun keputusan kita. Lagipula, resiko membawa kita ke negaranya tentu sudah diperhitungkan dengan matang. 


Artikel terkait: 
Bagian 1: Memulai Kembali Hidup di Prancis

XIV. 13. (Prancis): Kembali Memulai Hidup di Prancis (Bag. 1)

Jika Anda mengikuti cerita di blog, di akhir tahun 2013 saya memutuskan untuk kembali ke Prancis dan menetap di salah satu kota di Prancis Tenggara di Rangkaian Pegunungan Alpen. Yang menarik di sana adalah dekat dengan stasiun ski sehingga musim dingin lebih terasa menyenangkan dengan bermain salju dan menikmati pemandangan dari ketinggian dengan bermain ski.

Lagi-lagi jika Anda mengikuti cerita blog saya dari pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di Eropa pada waktu Misi Budaya bersama Liga Tari Mahasiswa Krida Budaya Universitas Indonesia, lalu melanjutkan belajar bahasa Prancis di Paris sampai akhirnya merasakan menjadi bagian dari penduduk kota Paris. 

Kota cahaya yang menarik siapapun untuk mengunjunginya. Sampai kepada pengalaman bahwa menjadi turis di Paris berbeda sensasinya dengan menjadi bagian penduduk Paris. Kota cantik ini menjelma menjadi monster yang bersiap menelan hidup-hidup bagi siapapun yang memutuskan tinggal di sana yang tidak bisa bertahan hidup menghadapi segala romantika dan problematikanya.

Jadi, bisa dibilang kembalinya ke Prancis –walaupun bukan di Paris— dan menetap sementara di suatu kota, bukan pengalaman yang baru buat saya untuk beradaptasi lagi dengan tetek bengek Prancis.
Sewaktu pertama kali ke Prancis dan merasakan menjadi penduduk kota Paris dan menjadi anak sekolah –9 tahun yang lalu— tentu berbeda dengan adaptasi saat ini, yang bukan lagi anak sekolahan, yang bukan lagi penduduk kota Paris dan bukan lagi single.

Status baru inilah yang membedakan adaptasi dan urusan dokumen-dokumen administratif. Selain itu juga saya juga harus memikirkan untuk memiliki aktivitas agar tidak bosan. Karena tinggal di kota besar seperti Paris, tentu berbeda dengan tinggal di kota lain, walaupun sama-sama kota, tetap saja adaptasi dan sensasinya berbeda.

Yang menjadi kekhawatiran pertama adalah bukan masalah Bahasa, tetapi status sebagai orang asing yang mempunyai aktivitas atau tidak. Aktivitas di sini adalah pekerjaan. Nah, ini yang menurut saya sangat dituntut oleh keadaan masyarakat prancis saat ini. 


Artikel Terkait:

Jumat, 01 Agustus 2014

XIV. 12. (Prancis): Pernak pernik Menarik Prancis Selatan


Di blog-blog sebelumnya, saya telah berbagi cerita tentang beberapa pedesaan terindah di Prancis Selatan yang kami kunjungi. Tidak hanya arsitektur, pemandangan, makanan lokal yang menarik perhatian, namun juga beberapa detil yang juga indah untuk disimak.

Get lost di gang-gang kecil inii sungguh menarik sambil main petak umpet. 

Seperti tumbuh, tanaman dan buah-buahan yang tumbuh khusus di musim semi dan musim panas, seperti coquelicot, cherises, dan lavender khas daerah Prancis, tetapi juga detil arsitektur gang-gang kecil yang rapi dan bersih.


Prancis Selatan dengan pemandangannya yang cantik.


Dulu, yang menarik perhatian saya adalah arsitektur pintu dan jendela yang unik. Kali ini saya membawa Anda untuk menyusuri gang-gang kecil pejalan kaki yang indah, rapi dan bersih dengan warna cat yang meriah maupun warna alam.


Detil.detil indah inilah yang membuat betah di Prancis Selatan. Lebih hidup, lebih artistik dan nyaman untuk dikunjungi. Semoga saja, kami pun mempunyai kesempatan untuk merasakan tinggal di Prancis Selatan, daerah yang populer di segala musim bagi turis lokal maupun internasional.

XIV. 11. (Prancis): Les-Baux-de-Provence


Satu lagi daerah di Prancis Selatan yang kami kunjungi adalah Les Baux de Provence. Jaraknya yang dekat dengan pinggir laut Mediterania dengan pesona pemandangan kebun anggur dan perkebunan zaitun, membuat daerah ini menarik untuk dikunjungi.

Dengan jarak tempuh hampir 3 jam dari Grenoble, perjalanan dengan kendaraan tidak terasa melelahkan karena sepanjang jalan menuju ke daerah tersebut, kami dimanjakan oleh pemandangan indah terhampar luas yang menyejukkan mata.

Les-Baux-de-Provence merupakan kampung pedesaan yang menarik dengan benteng peninggalan Abad Pertengahan yang masih berdiri kokoh yang terletak di ketinggian yang termasuk daerah masif Alpilles. Dari ketinggian, kami bisa melihat dengan jelas kompleks pedesaan yang tertata rapi, apik dan bersih dengan hamparan perkebunan anggur dan zaitun.

Pedesaan Les-Baux-de-Provence.

Benteng Les-Baux-de-Provence menyajikan aneka pertunjukan seperti pada Abad Pertengahan, seperti para penduduk yang mengenakan kostum ala Abad Pertengahan, aneka permainan populer pada masanya sampai adegan perkelahian dan perang melawan musuh yang memasuki benteng. Cukup menghibur.

Pertunjukan karya Klimet di Carrieres des Lumieres dengan tata lampu.



Yang tak kalah menarik juga dari desa ini, ada pertunjukan Carrières des Lumières yag letaknya tidak jauh dari desa ini. Pada saat kami mengunjunginya, karya Klimt dan Vienna menjadi karya kehormatan dengan pameran lukisan pada dinding dengan efek tata lampu yang memesona. Kita diajak mengagumi karya-karya mereka melalui dinding yang seolah bergerak dan berganti-ganti karena efek tata lampu tersebut.



Foto peta:google

Rabu, 30 Juli 2014

XIV. 10. (Prancis): Pinggir Laut Mediterania: Port Camargue, La Ciotat dan Cassis


Musim panas di eropa, terutama di Prancis adalah suatu hal yang sakral untuk pergi berlibur. Mayoritas penduduk Prancis pasti merencanakan liburan besar mereka di musim panas antara bulan juli – agustus. Istilah Les Grandes Vacances.

Mayoritas penduduk Prancis pula menyukai pantai dan laut. Mereka lebih memilih berjemur, berdiam diri atau berenang-renang cantik di pantai. Karena itu, pantai dan laut di seluruh Prancis dijamin penuh sesak pada saat musim panas.

Bagi saya sendiri, Prancis adalah negara lengkap di eropa untuk menikmati keindahan alamnya sepanjang tahun. Musim dingin, kita bisa bermain ski di rangkaian Pegunungan Alpen. Musim semi, kita bisa menikmati bunga-bunga tumbuh di seluruh Prancis. Lalu musim panas, kita bisa hiking, camping, menikmati perkebunan lavender, perkebunan bunga matahari maupun perkebunan buah-buahan musim panas. 

Dan tentu saja bisa menikmati pantai dan laut. Tinggal memilih pinggir Pantai Mediterania atau pinggir Pantai Atlantik. Lalu ketika musim gugur, kita bisa menikmati perkebunan anggur yang siap panen, menikmati daun-daun berguguran dari kota-kota maupun pedesaan-pedesaan sambil memandangi pergantian warna daun.

Cassis dan pantainya.

Nah, menyambut musim panas kali ini, kami pun memilih pinggir Pantai Mediterania untuk menghabiskan akhir pekan bersama beberapa kerabat. Kami memilih Prancis Selatan. Ya, lagi-lagi daerah ini yang dekat dari tempat tinggal kami daripada kami harus menuju pinggir laut Atlantik.

Kami memilih kota pinggir pantai, La Ciotat dan Cassis. Kedua kota pinggir pantai ini mempunyai daya tersendiri dengan keindahan alam pinggir pantai yang indah serta warna air laut yang bikin betah untuk berendam atau hanya dinikmati sambil berjemur di tepi pantai.

Menikmati pantai di Port Camargue sambil bermain layang-layang di pinggir pantai.

Beda lagi dengan Port Camargue yang kami kunjungi untuk menikmati pantai tetapi juga bisa bermain laying-layang di pinggir pantai. Luas dataran pantai dengan pasir yang senada dengan warna gurun, kontras dengan warna air laut yang biru terang.

Jadi, musim panas kali ini kami memutuskan untuk menghabiskannya di Prancis saja. Banyak daerah menarik untuk dikunjungi.



Foto peta: google

XIV. 9. (Prancis): Loches. Istana Abad Pertengahan di Pays de la Loire

Daerah di Prancis yang kami kunjungi pada saat musim semi adalah kota Loches, kota di daerah Pays de la Loire, yang tekenal dengan banyaknya istana raja-raja dari zaman abad pertengahan sampai zaman keemasan. Daerah yang menjadi sumber sejarah Prancis, cerita rakyat sampai dongeng anak-anak ini selalu menarik untuk dikunjungi.

Loches, kota abad pertengahan di Pays de la Loire. Mirip negeri dongeng.

Ceritanya, kami memilih Loches adalah untuk tempat temu kangen beberapa keluarga prancis sewaktu kami sama-sama tinggal di Mexico. Dan kebetulan kami semua kembali ke Prancis namun tinggal di kota yang berbeda-beda. Untuk merajut tali silaturahmi, kami memutuskan untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama di daerah yang netral, yang letaknya di tengah-tengah dari tempat tinggal kami. Jadilah Pays de la Loire kami pilih untuk berkumpul.

Loches adalah kota kecil namun juga nama istana kecil zaman abad pertengahan yang masih berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan yang didirikan kemudian. Loches masih menjadi keaslian istana lengkap dengan sejarah dan juga melestarikan aneka kegiatan seperti zaman pertengahan. Tujuannya apalagi jika bukan untuk melestarikan budaya agar tidak lekang oleh waktu.

Disinilah letak Loches.

Kami menikmati keindahan kota kecil ini dengan mengunjungi istananya yang cantik dan terawat rapi. Kesan seram dan kotor sangat jauh dari istana ini. Tentu saja istana harus terawat rapi karena memang primadona bagi turis lokal maupun turis internasional.

Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di Loches adalah tentu menikmatinya dengan berjalan kaki mengitari perkampungan, lalu kita juga bisa bersepeda di alam bebas nan luas.


Foto peta: vin-vinge.com via google