Like

Rabu, 12 Desember 2012

VIII. 5. Bolivia (1): Dari Suriname melalui Brazil dan Paraguay

Siapa yang mengetahui letak Bolivia?


Setelah Suriname, saya pun diutus untuk mengunjungi Bolivia. Agar tidak seperti orang nyasar, acara buka peta dan membeli buku panduan pun saya lakukan.

Bolivia adalah salah satu negara di amerika latin yang diapit oleh 5 negara: Brazil, Peru, Chilie, Argentina dan Paraguay. Bolivia tidak memiliki laut, sama seperti Paraguay. Namun Bolivia memiliki Danau Titicaca yang merupakan danau tertinggi di dunia yang terletak dekat La Paz, ibukota Bolivia.


Ini dia letak Bolivia.

Ada 2 pilihan rute untuk menuju Bolivia…

Untuk bisa menjejakkan kaki di Santa Cruz de la Sierra, Bolivia, rempong-nya rute perjalanan yang harus ditempuh dari Paramaribo, Suriname. Ada 2 pilihan rute untuk tiba di Bolivia. Rute pertama, melewati Port of Spain (Tinidad and Tobago), lalu melewati Caracas (Venezuela) dan bermalam di Lima (Peru), kemudian langsung menuju Santa Cruz de la Sierra. Rute kedua melalui Belém (Brazil Utara) dan bermalam disana kemudian melanjutkan perjalanan untuk transit di Sao Paolo (Brazil) dan melewati Asunción (Paraguay), kemudian langsung menuju Santa Cruz de la Sierra. Saya pun memilih jalur kedua: Paramaribo – Belém (bermalam) – Sao Paolo – Asunción – Santa Cruz de la Sierra.

Paramaribo – Belem: menumpang pesawat baling-baling

Yang membuat jantung berdebar adalah ketika saya harus menaiki pesawat kecil yang ada baling-balingnya (jenis pesawatnya, apa, ya?) dari Paramaribo ke Belem dengan jarak tempuh hampir 4 jam. Jantung mau copot karena kami terbang tidak terlalu tinggi dan mesin pesawat amat sangat berisik. Sepanjang perjalanan, saya melihat dengan jelas pemandangan antara Suriname sampai Brazil utara. Indah sekali. Tak ketinggalan, turbulensi yang kencang membuat pesawat sedikit oleng.


Pesawat mungil dengan baling-baling yang membawa saya dari Paramaribo ke Belém.

Menjelang landing, saya tidak mendengar mesin pesawat yang berisik. Baling-balingnya pun terlihat jelas memperlambat lajut putarnya dari kaca jendela. Deg! Tiba-tiba saya merindukan bunyi mesin pesawat yang berisik. Pesawat pun berputar-putar dulu sebelum landing. Ingatan saya kembali pada landing pertama kali di Asunción, Paraguay (Juli 2007), pesawat berputar-putar di udara hampir 1 jam sebelum landing.

Berdoa dan berdoa pun jadi ritual menjelang landing. Para penumpang lain, terlihat tenang. Si bapak di ujung kursi selah kanan, tenang membaca surat kabar. Si ibu disamping saya santai mengunyah kacang. Lah, saya? Sibuk membaca ayat kursi.

Syukurlah akhirnya kami mendarat dengan selamat. Karena pesawat yang  kecil dan penumpang sedikit, saya memberanikan diri meminta izin berfoto bersama sang pilot. Lumayanlah, jadi kenang-kenangan.


Bersama sang pilot. Bando yang saya kenakan oleh-oleh dari tempat pameran.

Tiba di Belem, Brazil

Setelah turun dari pesawat dan melewati pemeriksaan imigrasi Brazil dan mengambil 2 bagasi yang super besar dan super berat, saya transit 1 malam sambil menunggu pesawat berikutnya yang mengantar saya ke Sao Paolo. 

Belém adalah kota di utara Brazil. Udaranya sangat panas dan lembab. Karena lelah yang terakumulasi, saya tidak mempunyai sisa tenaga untuk menikmati kota Belém dan memilih untuk tidur di hotel yang letaknya tidak jauh dari pusat kota. 

Keesokan paginya, baru saya menyempatkan untuk sarapan di salah satu sudut kota. Penduduk kota ini didominasi oleh penduduk Brazil berkulit gelap. Pelayan restoran yang ramah dan harga yang murah membuat saya betah duduk sejam lebih lama dari jadwal makan pagi pada umumnya. 

Penduduk Brazil memang beragam. Saya akan mengetahui bedanya nanti ketika saya menjelajah Brazil dari Belem sampai ke Florianopolis (Brazil selatan).

Setelah sarapan di tengah kota, saya melanjutkan perjalanan ke bandara Belem untuk menaiki pesawat menuju ke Sao Paolo. Jarak tempuh cukup lama: 4 jam.

Perjalanan dari Belem ke Sao Paolo berlangsung lancar dan aman terkendali. Setelah menunggu beberapa jam di bandara Sao Paolo, pesawat yang saya tumpangi transit dulu di Asunción (Paraguay), kemudian melanjutkan perjalanan ke Santa Cruz de la Sierra.


Sudut antrian taksi di bandara Santa Cruz de la Sierra

Akhirnyaaaaaa…tiba juga di Santa Cruz! Dios Mios!!* Perjalanan yang saya tempuh begitu melelahkan dari Paramaribo, Suriname. Rasa lelah terbayarkan dengan dilancarkannya perjalanan dan bersyukur 2 koper super besar dan super berat juga tiba dengan utuh, tidak dibongkar atau hilang.

Bienvenida en Bolivia! **

(Santa Cruz de la Sierra, september 2007)

Keterangan:
* Ya, Tuhanku (bahasa spanyol)
** Selamat datang di Bolivia (bahasa spanyol)

3 komentar:

  1. Dengan tuntasnya gue membaca postingan ini, berarti dunia memang nggak jadi kiamat. Hahahaha. Doakan aku bisa segera menjejakkan kaki ke tempatmu ya Nona Ita.

    BalasHapus
  2. Jadi ingat petualangan Lima Sekawan di Bolivia. So nice! *MS*

    BalasHapus
  3. @Jess: yeay!! Kutunggu, yaaaaa...dng senang hati...dan petualangan penuh kejutan akan terus kualami ketika menjelajah amerika selatan ;)
    @ MS : Trims ya, udh baca postingan blog-ku...

    BalasHapus