Like

Minggu, 02 Desember 2012

VIII. 1. GOING LATINO!




Setelah merasakan jadi penduduk lokal kota Paris dan merasakan suka dan dukanya kehidupan kota mode tersebut, saya pun berpetualang ke benua amerika latin yang eksotis dan banyak mendapat pengalaman yang mengagetkan, menggemaskan sampai akhirnya menerima perbedaan budaya: dari kehidupan eropa yang teratur ke kehidupan amerika latin yang santai.

Secara geografis, letak benua amerika latin jauh dari Indonesia, memerlukan waktu hampir 2 hari perjalanan dengan pesawat terbang (sekali jalan, lho), harga tiket pesawat yang mahal, keadaan iklim, alam dan kebiasaan penduduknya hampir sama dengan Indonesia. Tampaknya destinasi negara-negara ini, terdengar kurang menarik perhatian bagi sebagian banyak orang. Walaupun benua amerika latin terdengar eksotis, tetap saja eropa dan amerika utara lebih menarik perhatian untuk dijelajahi.

Saya yang waktu itu bermukim di Paris, berkesempatan menjelajah benua eksotis ini. Cerita berawal pengalaman saya di Pameran Produk Indonesia di Strasbourg di bulan sept 2005, dimana saya bertemu banyak pengusaha Indonesia dan membantu mereka sebagai penerjemah simultan bahasa Indonesia-Prancis. Salah satu dari mereka meminta saya untuk membantu pekerjaannya selama saya di Prancis dan mengirim saya ke beberapa negara eropa, seperti ke Burgos (Spanyol) dan Bucharest (Romania). Tak puas hanya mengirim saya ke Burgos dan Romania, beliau pun ´melempar´ saya untuk menyeberangi benua amerika selatan untuk mengurus bisnisnya yang bergerak di bidang ekspor. Berbekal modal nekat dan keberanian, saya pun menerima tawaran tersebut. Inilah saatnya memulai petualangan dan menjelajah amerika latin!

Sebenarnya. ada beberapa pertimbangan pribadi yang akhirnya memutuskan saya untuk pergi ke amerika latin. Sifatnya sangat pribadi. Nanti akan saya ceritakan seiring dengan perjalanan yang penuh dengan pesan moral ini. Melawan ego adalah perjuangan berat yang harus dilawan.

Petualangan pertama yang hampir bikin jantung copot adalah negara Paraguay. Setelah itu dengan mudah saya loncat ke Brazil, lanjut ke Suriname, lalu mampir ke Bolivia.  

Melalui pekerjaan itu, saya beruntung bisa menyaksikan indahnya kota Rio de Janeiro (Brazil) yang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah dan karnaval-nya yang mendunia. Juga menghirup udara segar hutan amazon di kota Manaus. Menikmat caipirinha di pinggir pantai Ipanema, belajar samba di Florianopolis. Mempraktekkan gerakan capoeira di Salvador de Bahia (Brazil), merasakan alam Manizales (Colombia) yang sejuk hingga merasakan ´basinya´ keadaan Caracas, ibukota Venezuela yang seperti keadaan Jakarta di tahun 80-an. Dan, ehm…saya bertemu si jantung hati yang berkewarganegaraan prancis.

Yang juga bikin jantung hampir copot adalah saya pernah hampir di deportasi dari Milan (Italia) dan hampir diterbangkan kembali ke Sao Paulo. Nyangkut di Trinidad-Tobago karena  masalah mesin pesawat, kemudian transit selama 9 jam di pulau Curacao yang indah di pinggir laut Karibia, sampai akhirnya memutuskan untuk menetap di ibukota Venezuela. Hingga saat ini memilih Mexico City sebagai labuhan tempat tinggal dan berkenalan dengan sejarah bangsa Maya dan Aztec yang mendunia. Saya pun jadi mengetahui sejarah Kalender Maya yang berakhir di 21-12-2012, yang diyakini banyak orang bahwa dunia akan berakhir.

Penjelajahan negara-negara di benua amerika latin, seakan menemukan jawaban tentang keadaan keamanan kota-kota besarnya yang diberitakan melalui media online dan cetak. Dan juga mencari jawaban berita-berita dunia dan anggapan banyak orang kalau kota-kota seperti Sao Paulo, Rio de Janeiro, Bogota, Caracas dan Mexico City termasuk dalam daftar hitam kota-kota berbahaya di dunia. Bo...saya berhasil menjejakkan kaki disana. Mengukir pengalaman. Berkenalan dan berbaur dengan penduduk lokal, mengikuti ritme kehidupan masyarakat setempat, mengenal budayanya yang unik dan belajar memahaminya. Adrenalin pun ikut diuji di negara-negara ini.

Saya menyadari bahwa pengalaman hidup yang saya pilih, lagi-lagi merupakan destiny. Dan saya memilih untuk menjalaninya dan tentu saja menikmatinya. Mengapa juga mau meninggalkan kenyamanan di Paris dan menunda sekolah di tahun kedua? Di blog berikut, saya akan memaparkannya satu per satu, berbagai pengalaman yang menyenangkan, mengharukan, menyedihkan sekaligus menguji kesabaran saya di berbagai negara yang saya kunjungi. Dan saya tidak menyesal meninggalkan hiruk pikuk kehidupan kota Paris yang selalu menarik perhatian semua orang untuk menjadi bagian dari kehidupannya.

Sebenarnya, sih, Prancis tidak sepenuhnya saya tinggalkan karena selama wira-wiri di amerika latin beberapa tahun, saya menyempatkan untuk mampir. Tentunya menengok teman-teman tercinta. Berdiskusi dengan pihak sekolah mengenai penundaan perkuliahan dan berkorespondensi dengan para guru di Universitas. Menikmati kembali Paris (kali ini sebagai turis) dan berkeliling ke daerah selatan Prancis. Selain mengurus pekerjaan, saya pun menikmati indahnya perkebunan anggur dan perkampungan prancis di daerah Pegunungan Pyrénées.

Setelah Prancis, pengalaman hidup tambah ´penuh´ dan berwarna dengan berpetualangan ke amerika latin. Paspor hijau yang setia menemani pun ikutan penuh dengan aneka visa negara-negara amerika latin.

Sebelum petualangan tak biasa ini dimulai, saya menelepon ke rumah. Pamit kepada mama dan bapak dan meminta doa dari mereka. Saya menggenggam doa mereka. Sama seperti ketika saya memutuskan merantau ke Paris.

(Untuk Pak bos nun jauh di Semarang yang memberi kepercayaan begitu besar; Herman di Paris yang memberikan peluang dan kesempatan sehingga saya bisa menjejakkan kaki di amerika latin dan tentunya orang tua yang mengantar kepergian saya dengan doa yang tulus serta orang-orang yang baik yang saya temui dalam perjalanan ini; tentu juga untuk si dia yang men-support petualangan ini).

(Amerika latin, dimana petualangan dimulai di pertengahan tahun 2007).

Foto dan layout: LGN





Tidak ada komentar:

Posting Komentar