Like

Tampilkan postingan dengan label Colombia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Colombia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Februari 2013

VIII. 19. Manizales, Colombia (3): Kota Festival di Pegunungan


Tahukah Anda jika Colombia termasuk salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia? Menurut obrolan dengan penduduk lokal yang saya jumpai, salah satu perkebunannya berada di Manizales. Biarpun topografi bergunung-gunung, ternyata tanaman kopi bisa tumbuh dengan subur disini.

Alam Pegunungan Manizales.

Manizales adalah kota berikutnya di Colombia yang saya kunjungi. Tujuan saya ke Manizales sebenarnya bukan plesiran, melainkan berpartisipasi dalam pameran tahunan yang digelar setiap tahunnya di awal tahun. Dengan letak geografis di daerah pegunungan yang elok, hawa sejuk dan segar bisa dinikmati dengan leluasa di sini. Dengan menumpang pesawat kecil dari Bogotá selama 1 jam, kami berhasil landing dengan situasi pegunungan di sekililing. Ngeri? ya, pasti, dong. Ngeri juga kalo 'nyenggol' salah satu anak gunungnya, kan? 




Disini serunya saya merasakan 'nyemplung' dalam komunitas penduduk asli Colombia. Menyenangkan. Tapi kalau urusan pekerjaan, ingin garuk-garuk aspal rasanya saking 'gemes' dengan jawaban nge-les dan memanfaatkan ketidakmahiran bahasa spanyol saya waktu itu. 

Kota Festival
Setiap awal tahun, Manizales menggelar acara penting, yaitu festival dan pameran internasional yang diikuti oleh berbagai negara. Saya adalah salah satu yang berpartisipasi. 

Festival ini cukup diperhitungkan di Colombia, terbukti banyak orang pentingyang membuka dan menghadiri acara ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Miss Colombia 2007. 




Menginap di Rumah Penduduk Setempat
Selama hampir 3 minggu saya berada di Manizales. Untuk tempat tinggal, biasanya seperti di kota-kota atau negara-negara lain, saya menginap di hoel. Tetapi di Manizales, kok, ya, kebetulan sekali ada ibu-ibu penduduk setempat yang tiba-tiba berkunjung ke stand saya dan menawarkan untuk menginap di rumahnya. Sebut saja namanya Ibu María. Tadinya saya ragu-ragu karena tidak mengenalnya sama sekali.

Bersama Paola (asisten asal Bogotá) yang menemani saya juga selama pameran, akhirnya kami berkunjung terlebih dahulu ke rumah Ibu María untuk memastikan keadaan rumahnya. Karena merasa sreg, akhirnya Paola dan saya menginap di rumahnya selama acara festival dan pameran berlangsung. Selama menginap di rumahnya, semuanya berjalan lancar. Ibu María menerima kami seperti layaknya tamu dan beliau adalah ibu homestay kami. Setiap pagi, beliau menyiapkan sarapan pagi dan malamnya menyiapkan masakan khas Manizales dan Colombia. Qué rico




Suasana Kota Kolonial yang Indah
Selain keindahan alamnya, Manizales juga memiliki bangunan-bangunan dengan aristektur kolonial yang memesona. Sebagian besar bentuk jalanan yang meliuk-liuk dan naik turun, memerlukan keahlian menyetir kendaraan yang tinggi. 



Sekilas tentang Manizales...
  • Terletak di Colombia timur.
  • Secara geografis, terletak di antara 2 kota indah di Colombia: Medellín dan Popayán.
  • Untuk tingkat keamanan lebih terjamin. Saya sendiri merasa lebih aman dan nyaman berada di sini. Selain itu, penduduknya juga ramah.
  • Jika ingin mengenal wajah asli Colombia, berkunjung ke Manizales bisa dijadikan pilihan.

Manizales, Colombia, Januari 2008

Foto peta: google maps

Minggu, 10 Februari 2013

VIII. 18. Bogotá, Colombia (2): Kota Sejuk yang Membuat Betah

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Bogotá? Kalau saya, yang terbayang adalah kota berbahaya, banyak tindak kejahatan, orang bersenjata, populer dengan kota narkoba dan kita pasti akan takut berada di sana karena situasi kota yang tidak nyaman.

Namun, apa kata mata dan hati saya ketika menjejakkan kaki pertama kali menjelang akhir tahun? Tiba di bandara Bogotá, hal buruk saya alami. Namun demikian, terbayar dengan suasana yang meriah di luar bandara. Suasana kota yang begitu hidup setelah Natal dan menyambut tahun baru, membuat bayangan buruk dan menakutkan tentang kota ini sirna. 

Koper dicongkel!
Baru tiba di bandara Bogotá, sempat ditanyain macem-macem oleh petugas imigrasi. Duh, rempong, deh. Ditambah ketika ambil bagasi, koper dicongkel. Takut, dong, diisi macem-macem oleh oknum tak bertanggung jawab. Akhirnya, dalam keadaan terbongkar itu, koper saya bawa untuk di-claim ke masapai penerbangan dan saya mau ada saksi pada saat koper dibuka setelah dicongkel. Agak rempong karena waktu itu bahasa spanyol saya tidak lancar. Akhirnya ada jalan keluar dengan berbahasa prancis karena kebetulan saya terbang dengan maskapai negara Prancis. Setelah membuat laporan dan diperiksa tidak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam koper dan barang-barang di dalam koper juga aman, hati jadi lega. Maskapai penerbangan pun memperbaiki koper yang dicongkel.

Suasana downtown  Bogota

Kesan pertama tentang Bogotá
Karena saya tiba di akhir tahun, sisa-sisa pesta Natal masih terasa. Patung sinterklas dan segala macam hiasan meriah masih memenuhi pusat kota. Lagi-lagi menyesal karena tidak banyak memotret, karena masih dihantui rasa takut  berlebihan yang saya ciptakan sendiri.

Ditambah menginap sendirian di hotel pada saat akhir tahun itu rasanya sama dengan merayakan Idul Fitri sendirian di negara yang merayakan Natal. Jadi, benar-benar merasa sendiri karena penduduk kota atau siapapun sibuk dengan persiapan pesta dengan keluarga masing-masing. Sedih? Ya, rugi, dong! Akhirnya, saya pun nekat menikmati suasana kota sendirian. Karena ngeri mencolok sendirian dianggap turis, akhirnya saya tidak membawa kamera. Yang penting cuci mata dan batin lega sambil orientasi daerah di mana saya menginap.




Kebetulan saya menginap di hotel yang dekat dengan pusat kota. Suasana yang ramai dan meriah berbaur dengan penduduk kota yang menikmati penyambutan pesta akhir tahun. Mengunjungi daerah Candelaria, mengukur jalan dengan menaiki jalur bus khusus (percontohan Trans Jakarta) serta mencoba makanan lokal yang masih masuk kategori lidah Indonesia. 

Malu Bertanya = Mari Kita Jalan-jalan
Terpesona dengan kenyamanan dan tata letak kota yang semrawut namun teratur (nah, lho, ngebayang, nggak rasanya gimana?), keesokan harinya, saya melanjutkan menikmati kota ini lagi. Sendirian. Kali ini sudah lebih mending karena mudah mengorientasi kota Bogotá asal kita meningat dari mana titik poin memulai penjelajahan.


Add caption


Yang seru di Bogotá sebagian besar menggunakan angka untuk nama jalan atau jalan raya besar. Angka jalan semakin kecil atau semakin besar menunjukkan arah navigasi, apakah kita berada di selatan, utara, barat, timur atau barat laut kota. Menurut saya, membantu posisi fisik kita sendiri dengan memudahkan mengetahui posisi di mana arah hotel pusat kota atau arah tujuan kita. Coba kalau dipandu dengan nama jalan? Dijamin nyasar dan saya pasti tergantung dengan buku panduan yang saya bawa. Disini, nih, prinsip 'malu bertanya, mari kita jalan-jalan'. Yang penting, tidak perlu takut tersasar karena kita akan melihat dan menemukan hal tak terduga. Dari pengalaman saya, kebanyakan sih, saya menemukan hal yang menyenangkan dibandingkan hal yang mengerikan. 

Candelaria, Pusat Kota Populer dengan Daya Tarik Bangunan Kolonial
Mengunjungi Bogotá tanpa menginjakkan kaki di daerah Candelaria, sama dengan memakan masakan lokal tanpa garam. Hambar. Daerah Candelaria yang populer, mempunyai daya tarik magis yang kuat. Tidak hanya turis yang tumpah ruah di daerah kolonial tersebt, penduduk lokal pun turut memenuhi daerah yang terdapat Plaza Bolivar itu.




Disini, nih, kita wajib hati-hati dengan barang bawaan. Seperti di daerah manapun di seluruh dunia, selalu saja ada kesempatan untuk orang berbuat jahat. Entah itu dicopet atau ditodong. Bukan menakut-nakui, lho, karena sata melihat sendiri ada orang ditodong. Rasanya ma minum pil hilang saat itu juga. 

Montserrate, Melihat Keindahan Bogotá dari Ketinggian
Salah satu simbol kebanggaan Bogotá adalah Montserrate yang berada di ketinggian kota. Dari sini, kita bisa melihat kota Bogotá 180 derajat. Selain alam sekitar yang indah, Montserrate juga merupakan tempat ziarah yang banyak dikunjungi. 



Bogotá itu:

  • Salah satu kota besar di amerika latin yang sudah saya kunjungi, selain São Paolo.
  • Hawanya yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi.
  • Jauh dari image berbahaya yang disajikan 15 tahun yang lalu, tetapi kita harus tetap hati-hati dan waspada, ya..
  • Makanan dan minuman lokal yang cocok dengan lidah orang Indonesia.
  • Menawarkan banyak tempat menarik yang tertata dan terjaga kebersihannya.
  • Menawarkan aroma kopi terbaik yang pernah saya nikmati.
  • Angkutan umum yang meiah dengan berbagai stiker jurusan dan tujuan.
  • Budaya antri yang sangat tinggi di berbagai tempat umum.
  • Keramahan penduduk lokal yang semakin menghapus image berbahaya. Lagi-lagi kita jangan terlena menerima kebaikan penduduk lokal, sih. Intinya, ikutin kata hati jika ngin berbaur dengan penduduk lokal.
  • Jika kita tidak berbahasa spanyol, bahasa inggris masih ditoleransi oleh sebagian besar penduduknya
Bogota, akhir desember 2007

Foto peta: google maps






Senin, 04 Februari 2013

VIII. 17. Colombia (1) : Negara Berbahaya untuk Dikunjungi?

Colombia adalah negara ke-6 di benua amerika latin yang saya kunjungi. Karena alasan diutus oleh tempat saya bekerja, yang membuat saya menjadi mengenal Colombia. Di akhir tahun 2007, ketika saya sedang berada di Caracas, Venezuela, atasan meminta saya untuk mampir ke Bogota yang ditempuh dengan pesawat terbang kurang dari 2 jam.

Bogota, Colombia.

Batin saya: Boooo...bukannya itu kota berbahaya juga di dunia? Juga salah satu negara dengan tingkat kriminal yang tinggi juga markas para pemberontak? Selain itu, Colombia juga ngetop dengan kelompok kartel yang berbahaya dan disegani.

Well, tadinya sih, saya menolak ya, untuk dicemplungin ke Colombia karena sewaktu berada di Caracas, Venezuela saya pun mati gaya karena merasa salah jurusan untuk mendamparkan diri di negara-negara yang sebagian besar image berbahaya bergitu melekat. Salahkan diri sendiri yang kebanyakan mendengar dan melihat berita dengan menelannya mentah-mentah tanpa mencari second opinion, hihi...

Apa daya alasan menolak tidak ingin dilempar ke Colombia sia-sia karena kontener keburu datang dan saya tidak diberikan pilihan lain selain harus landing di Bogota. Akhirnya saya terbang dan membuktikan dengan mata dan pengalaman sendiri bagaimana Colombia itu dengan mengunjungi Bogota, Bucaramangga, Cucuta, Medellin dan Manizales. 

Di blog ini, saya hanya akan bercerita tentang Bogota dan Manizales saja karena foto-foto Medellin, Bucaramangga dan Cucuta tidak memadai dan tidak banyak. Karena tujuan saya ke Colombia adalah berpartisipasi di acara pameran internasional, tentu berbeda pengalamannya dengan para traveler yang memang niat menikmati Colombia dengan plesiran yang tentunya acara jeprat-jepret adalah suatu kewajiban.. 

Dengan demikian, selama masa tinggal di Bogota dan Bucaramangga, saya mendapat kompensasi tinggal di hotel yang memadai yang menyediakan pelayanan lengkap. Saat itu, wifi atau internet masih menjadi fasilitas mewah dan saya mendapatkannya dengan mudah. Lalu saya dizinkan mempunyai nomor handphone lokal,  dan fasilitas transport yng istimewa kemanapun saya pergi. Tentunya untuk tujuan pekerjaan. Kadang suka nekat mencoba menaiki kendaraan umum dan metrobus, yang menjadi percontohan proyek Transjakarta. 

Berbeda dengan Manizales di mana saya memilih tinggal dengan penduduk setempat. Selain pertimbangan faktor aman dan nyaman, penduduk lokal ini juga memasak masakan lokal untuk saya dan Paola.

Dengan waktu yang sempit mengunjungi Colombia dengan plesiran, tetapi saya banyak menghabiskan waktu dengan penduduk lokal dengan cara mereka bekerja dan bagaimana menghadapinya.  

Colombia, akhir desember 2007 - April 2010
Foto peta: google maps