Like

Selasa, 13 November 2012

II. 1. Landing (lagi) di Paris!

Menara Eiffel, simbol kota Paris.


Mendarat di tengah-tengah cuaca dingin bukan hal yang mudah. Dan ini saya alami sewaktu mendarat untuk yang ketiga kalinya di bandara Paris. Pertama ketika Misi Budaya tahun 2000 di akhir bulan juli. Kedua, ketika menghadiri La Journée de la Litérature Indonésienne, yang diadakan oleh Asosiasi Prancis-Indonesia ´Pasar Malam´di bulan oktober 2004. Dan yang ketiga, saat ini, awal bulan februari 2005. Paris tidak bersalju waktu itu. Hanya dinginnya sampai masuk ke tulang.

Saya dijemput oleh keluarga yang siap menerima saya sebagai tamu homestay. Disambut dengan senyuman pada saat udara dingin, seperti menerima semangkok sup hangat di kala hujan turun. Mereka menyiapkan mobil besar yang siap mengangkut bagasi saya. Maklum, akan tinggal setahun, nggak mungkin bawaan hanya 1 rantang, eh, 1 gembolan.

Kami menuju rumah keluarga tersebut yang terletak di pinggir kota Paris. Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang, saya menikmati jalan bebas hambatan yang masih sepi, masih bersih dan udara yang segar dari balik jendela mobil. 

Ketika tiba di rumah keluarga tersebut, anggota keluarga yang lain menyambut saya dengan ramah, walaupun masih menganggap saya orang asing yang baru mendarat dari planet lain. Maklum, bentuk fisik memang beda. Keramahan mereka terlihat dari suguhan teh hangat, perbincangan tentang persiapan keberangkatan, perasaan meninggalkan tanah air dan tentu saja bertanya bagaimana reaksi keluarga saya ketika saya benar-benar angkat kaki dari tanah air dan meninggalkan semuanya. Serta bertanya, apakah saya siap mengarungi hutan belantara dan memulai hidup para sebagai petualang. Karena menurut mereka, jalan hidup yang saya pilih dan akan dijalani terbilang nekat dan saya akan memulainya dari nol. Maksudnya saya tidak akan pernah tahu, apakah itu akan berhasil atau tidak sampai saya mengalaminya.

Setelah acara perbincangan yang menggunakan bahasa prancis dasar dan sedikit terbata-bata akhirnya selesai, saya ditunjukkan kamar yang boleh saya tempati. Kamar bernuansa biru itu tertata rapi dan bersih. Lalu saya diberitahu tentang peraturan informal di keluarga tersebut, seperti waktu makan malam, waktu belajar dan segala peraturan lainnya. Juga saya diinformasikan jarak tempuh dari rumah ke sekolah, transportasi apa yang akan saya gunakan dan bagaimana caranya.

Saya menerima semua informasi dengan tatapan bingung namun tidak banyak bertanya. Lah? Baru juga landing, dan belum siap menyerap semua informasi. Mereka sepertinya paham dari raut wajah saya yang terlihat bingung dan lelah. Mereka mengatakan bahwa jangan sungkan untuk bertanya jika tidak mengerti.
Hari itu pun rasanya sangat panjang. Kemudian saya minta izin untuk beristirahat. Tidak tanggung-tanggung, saya tertidur sampai keesokan harinya. Efek perbedaan waktu.

(Untuk keluarga homestay yang berbaik hati)


Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/ii-2-orientasi-sekolah-bahasa-di.html


I. 5. Berangkat ke Paris!



Ketika kesemptan itu benar-benar datang, semua pintu-pintu yang tadinya tertutup, satu-satu membukanya untuk saya. 


Persiapan keberangkatan yang terbilang tidak mudah, saya jalani juga. Seperti mengambil kursus dasar bahasa Prancis di CCF Wijaya di sore hari setelah pulang bekerja (nah, saya jadi sering tidak hadir pada saat tea time, hihi..). Saya tidak ingin tidak mempunyai bekal apa-apa ketika menginjakkan kaki di Paris. Setidaknya bahasa dasar, bisa saya kuasai. 


Lalu, saya menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Lalu mengurus visa. Berkorespondensi dengan pihak sekolah, juga engan pihak keluarga di Prancis. Pastinya yang tidak memberikan pengertian terhadap orang tua, keluarga, teman-teman dan tentu saja tempat saya bekerja. 


Hal terberat bagi saya adalah berpisah dengan zona kenyamanan karena akan berpisah secara fisik dengan orang-orang yang kita cintai.



Lain cerita dengan orang tua yang memahami betul karakter anaknya yang ´ngotot´ dan akhirnya mengizinkan kepergian saya. Mereka tidak membekali saya dengan jumlah nominal yang besar, tetapi dengan wejangan dan nasihat bagaimana saya bisa berjuang dan bertahan hidup. Mereka membekali saya dengan doa yang tulus. 

Oleh karena itu, merupakan berkah sekali saya bisa melanjutkan sekolah, ke eropa pula. Kesempatan ini saya manfaatkan sebaik-baiknya karena itu untuk kebaikan saya dan juga untuk menghormati orang-orang yang telah memberikan kemudahan kepada saya demi mewujudkan keinginan yang saya mau.

Akhirnya, hari yang ditentukan tiba. Orang tua, kakak, adik, dan nenek ikut mengantar kepergian saya dengan doa. Dan nenek yang selalu baik hati, membuatkan cemilan arem-arem agar saya tidak kelaparan dalam perjalanan dan setibanya di sana.

Selamat tinggal tanah air! Untuk hal ini, saya paling benci airport. Jarak hanya dipisahkan oleh pintu yang angkuh dari tempat saya berasal dengan orang-orang tercinta menuju suatu tempat kehidupan baru yang sama sekali saya belum bisa bayangkan.  

Sedikit pesan untuk yang berminat melanjutkan sekolah ke Paris atau kota-kota lain di Prancis:

1. Pelajari dan kuasai dulu dengan baik bahasa Prancis dengan mengambil kursus di Indonesia. Hal ini untuk menghindari seperti ´orang hilang´ di negeri yang kebanyakan penduduknya tidak berbahasa asing lainnya.

2. Menguasai sedikit banyak bahasa prancis sangat membantu untuk pencarian informasi sekolah melalui internet atau website sekolah yang memang mayoritas menggunakan bahasa prancis.
3. Semangat dan sebaiknya tidak cepat putus asa jika bahasanya sulit dipelajari. Kesabaran akan berbuah manis.
4. Sebaiknya tidak segan mengumpulkan banyak informasi dari berbagai sumber, terutama untuk informasi sekolah yang bagus, kota yang nyaman serta tempat tinggal dan besarnya biaya hidup. Ngobrol dengan para alumni yang pernah menuntut ilmu di Prancis, menambah daftar informasi dan referensi yang luas.
5. Menabung dikit demi sedikit. Syukur-syukur bisa mendapat beasiswa yang full cover. Uang tabungan kita bisa dipakai untuk travelling weekend ke luar kota atau mengunjungi negara tetangga: Belgia, Jerman, Belanda, Spanyol dan Italia.
6. Meminta selalu doa restu terhadap orang tua. Dengarkan nasihatnya.
7. Perbanyak membaca mengenai sejarah Indonesia dan dunia serta perkaya wawasan dengan pengetahuan umum, diluar bidang studi yang ingin kita pelahari di Prancis.
8. Pelajari dan kuasai kesenian Indonesia, seperti bermain musik, menari tarian tradisional atau membatik atau kesenian Indonesia lainnya. Malu, kan, cuma bisa teriak-teriak giliran negara tetangga ´mengakui´ kesenian kita berasal dari negaranya. Sementara kita sendiri tidak mengetahui bahkan tidak menguasai kesenian tersebut..
9. Teguhkan niat dan semangat. Sebaiknya tidak usah masukin hati ketika mendengar kata orang yang sifatnya negatif atau menjatuhkan semangat kita. Ingat, ya, masa depan ada di tangan kita sendiri. Kita yang berhak memutuskan. Dan tentunya dengan jalan Tuhan.
10. Bersikap rendah hati dan terus berdoa karena memang banyak godaan menuju tujuan yang kita cita-citakan.

Bon Courage!

(Untuk semua keluarga di Indonesia yang telah mendukung)

I. 4. Bekerja Sambil Sekolah (lagi): Jalan ke Paris Terbuka Lebar

Di tahun kedua bekerja, pekerjaan sebagai sekretaris redaksi majalah Cita Cinta tetap saya nikmati. Walalupun di lubuk hati terdalam masih menyimpan keinginan untuk mewujudkan impian ke eropa. Daripada manyun, saya memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikan sarjana bidang akuntansi di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi yang letaknya dekat dengan tempat saya bekerja. Pertimbangan saya meneruskan pendidikan adalah untuk mengembangkan pola pikir dan meneruskan pendidikan sampai jenjang sarjana. Saya yakin, ilmu yang kita dapat tidak akan percuma karena mempengaruhi cara pemikiran kita di dunia profesi.


Sebelum kuliah dimulai, foto dulu, dong...

Kehidupan sekolah di sore menjelang malam hari membawa saya ke dunia lain yang menyenangkan. Walaupun bidang ilmu yang saya pelajari tetap tak semenarik dengan bidang ilmu yang saya tekuni dulu, tetapi saya berusaha melihat celah agar kuliah ini menyenangkan. Seperti bertemu teman-teman sekelas yang berasal dari berbagai macam profesi. Kebanyakan dari mereka memang ada hubungannya melanjutkan kuliah dengan profesi yang mereka jalani, yaitu auditor. Sepertinya hanya saya yang salah jalur: sekolah akuntansi tetapi berprofesi sebagai sekretaris redaksi majalah wanita. Dari mereka, saya tetap update berita seputar bidang ilmu yang saya jalani. Bingung? Tidak. Malah beruntung bisa menambah ilmu.

Berpose dulu sepulang kuliah sabtu pagi.

Dengan berjalannya waktu dan saya menyelesaikan bidang studi tepat waktu dan meraih gelar sarjana, membuat saya sadar bahwa bisa berkomitmen dengan diri sendiri dan menyelesaikan sesuatu sampai selesai telah menjadi pilihan saya.

Masih keep contact samapi sekarang. Ki-Ka: Saya, Ei, Echi, Deedee.

Niat melanjutkan sekolah ke eropa tetap tersimpan rapi dalam daftar masa depan. Cuma memang kuncinya harus sabar dan tidak boleh tergesa-gesa. Istilah dalam bahasa jawa adalah nggak ngoyo. Saya mempersiapkannya pelan-pelan sambil tetap bekerja dan menjalankan aktivitas lainnya.

Ketika di tahun ke-4 bekerja, kesempatan untuk sekolah ke Paris itu benar-benar nyata. Tuhan memang mempunyai rencana yang indah pada waktunya. Ya, saya sudah mengantongi pengalaman bekerja dan berhasil menggenggam gelar sarjana. Tugas dan kewajiban saya setengahnya sudah terpenuhi sebagai modal menapak masa depan dan melangkah lebih jauh untuk menimba pengalaman di negeri orang.

Saya juga merasa dilancarkan setiap langkah untuk persiapan ke eropa. Mulai dari mencari sekolah bahasa, lalu mendapatkannya. Kemudian ada satu keluarga yang bersedia menangggung semua biaya pendidikan selama setahun. Saya boleh kos di rumahnya dengan syarat saya harus benar-benar serius dan fokus dengan tujuan saya sekolah di Prancis, dan tentunya ilmu yang saya dapatkan akan berguna di kemudian hari.

Ketika kesempatan ini benar-benar datang, sempat linglung juga karena pada saat bersamaan, saya ditawarkan oleh big boss untuk mencoba posisi menjadi redaktur Mode dan Kecantikan dan menyelami dengan benar dunia jurnalistik. Tetapi saya lebih memilih melanjutkan pendidikan ke Prancis dan merasakan menjadi petualang di negeri orang. 

Teman-teman yang membuat hidup semakin berwarna. It´s hard to say goodbye!

Walaupun tadinya keputusan ini disayangkan banyak orang karena berhubungan dengan karier yang kemungkinan besar menanjak, tetapi saya tidak menyesali keputusan ini. 

Saya ingin merasakan menjalani fase kehidupan lain di luar negeri saya sendiri. Saya ingin melancong. Saya ingin membuka jendela dan pintu dunia untuk masa depan. Saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu dan menjadi bagian dari masyarakat dunia.

(Untuk-teman-teman S1 Jurusan Akuntansi 2002 – 2004 (jadwal kuliah malam) STIE Perbanas Jakarta,  dan (lagi-lagi) teman-teman Cita Cinta. Dan tentunya doa Mama dan Bapak.

2 foto atas: Koleksi Ronald
Foto berempat cewek-cewek: Koleksi Echi.
Foto Cita Cinta: Koleksi Sri Haryanti.

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/i-5-berangkat-ke-paris.html