Like

Tampilkan postingan dengan label Indonesia.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 November 2012

I. 4. Bekerja Sambil Sekolah (lagi): Jalan ke Paris Terbuka Lebar

Di tahun kedua bekerja, pekerjaan sebagai sekretaris redaksi majalah Cita Cinta tetap saya nikmati. Walalupun di lubuk hati terdalam masih menyimpan keinginan untuk mewujudkan impian ke eropa. Daripada manyun, saya memutuskan untuk melanjutkan jenjang pendidikan sarjana bidang akuntansi di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi yang letaknya dekat dengan tempat saya bekerja. Pertimbangan saya meneruskan pendidikan adalah untuk mengembangkan pola pikir dan meneruskan pendidikan sampai jenjang sarjana. Saya yakin, ilmu yang kita dapat tidak akan percuma karena mempengaruhi cara pemikiran kita di dunia profesi.


Sebelum kuliah dimulai, foto dulu, dong...

Kehidupan sekolah di sore menjelang malam hari membawa saya ke dunia lain yang menyenangkan. Walaupun bidang ilmu yang saya pelajari tetap tak semenarik dengan bidang ilmu yang saya tekuni dulu, tetapi saya berusaha melihat celah agar kuliah ini menyenangkan. Seperti bertemu teman-teman sekelas yang berasal dari berbagai macam profesi. Kebanyakan dari mereka memang ada hubungannya melanjutkan kuliah dengan profesi yang mereka jalani, yaitu auditor. Sepertinya hanya saya yang salah jalur: sekolah akuntansi tetapi berprofesi sebagai sekretaris redaksi majalah wanita. Dari mereka, saya tetap update berita seputar bidang ilmu yang saya jalani. Bingung? Tidak. Malah beruntung bisa menambah ilmu.

Berpose dulu sepulang kuliah sabtu pagi.

Dengan berjalannya waktu dan saya menyelesaikan bidang studi tepat waktu dan meraih gelar sarjana, membuat saya sadar bahwa bisa berkomitmen dengan diri sendiri dan menyelesaikan sesuatu sampai selesai telah menjadi pilihan saya.

Masih keep contact samapi sekarang. Ki-Ka: Saya, Ei, Echi, Deedee.

Niat melanjutkan sekolah ke eropa tetap tersimpan rapi dalam daftar masa depan. Cuma memang kuncinya harus sabar dan tidak boleh tergesa-gesa. Istilah dalam bahasa jawa adalah nggak ngoyo. Saya mempersiapkannya pelan-pelan sambil tetap bekerja dan menjalankan aktivitas lainnya.

Ketika di tahun ke-4 bekerja, kesempatan untuk sekolah ke Paris itu benar-benar nyata. Tuhan memang mempunyai rencana yang indah pada waktunya. Ya, saya sudah mengantongi pengalaman bekerja dan berhasil menggenggam gelar sarjana. Tugas dan kewajiban saya setengahnya sudah terpenuhi sebagai modal menapak masa depan dan melangkah lebih jauh untuk menimba pengalaman di negeri orang.

Saya juga merasa dilancarkan setiap langkah untuk persiapan ke eropa. Mulai dari mencari sekolah bahasa, lalu mendapatkannya. Kemudian ada satu keluarga yang bersedia menangggung semua biaya pendidikan selama setahun. Saya boleh kos di rumahnya dengan syarat saya harus benar-benar serius dan fokus dengan tujuan saya sekolah di Prancis, dan tentunya ilmu yang saya dapatkan akan berguna di kemudian hari.

Ketika kesempatan ini benar-benar datang, sempat linglung juga karena pada saat bersamaan, saya ditawarkan oleh big boss untuk mencoba posisi menjadi redaktur Mode dan Kecantikan dan menyelami dengan benar dunia jurnalistik. Tetapi saya lebih memilih melanjutkan pendidikan ke Prancis dan merasakan menjadi petualang di negeri orang. 

Teman-teman yang membuat hidup semakin berwarna. It´s hard to say goodbye!

Walaupun tadinya keputusan ini disayangkan banyak orang karena berhubungan dengan karier yang kemungkinan besar menanjak, tetapi saya tidak menyesali keputusan ini. 

Saya ingin merasakan menjalani fase kehidupan lain di luar negeri saya sendiri. Saya ingin melancong. Saya ingin membuka jendela dan pintu dunia untuk masa depan. Saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu dan menjadi bagian dari masyarakat dunia.

(Untuk-teman-teman S1 Jurusan Akuntansi 2002 – 2004 (jadwal kuliah malam) STIE Perbanas Jakarta,  dan (lagi-lagi) teman-teman Cita Cinta. Dan tentunya doa Mama dan Bapak.

2 foto atas: Koleksi Ronald
Foto berempat cewek-cewek: Koleksi Echi.
Foto Cita Cinta: Koleksi Sri Haryanti.

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/i-5-berangkat-ke-paris.html

I. 3. Bergabung dengan Cita Cinta

Sepulang dari Misi Budaya dan mengantongi berbagai informasi mengenai pendidikan di Prancis, saya pun mulai melakukan persiapan mental dan menabung. Sayangnya, untuk melanjutkan pendidikan di eropa, tidak semudah membalikkan telapak tangan (kata pepatah). Untuk sekolah, lebih njlimet dan berbagai macam dokumen harus disiapkan. Disamping itu, tentunya biaya menjadi kendala karena biaya hidup disana yang sangat mahal, sementara biaya sekolah yang murah. Ini jadi dilema. Ditambah lagi kita harus menguasai bahasa prancis dengan baik dan benar.

Pada saat itu, saya tidak bisa melamar untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah Prancis, pemerintah Indonesia atau dari yayasan manapun, karena saya belum memenuhi syaratnya, yaitu ditujukan untuk para mahasiswa yang telah mendapat gelar S1. Sementara, saya baru menyelesaikan sekolah sampai tahap Diploma 3. 


Saya pun menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Saya memutuskan untuk mengubur sementara keinginan ini dan mulai berkarya di Indonesia. Lalu berusaha kembali menjalani hidup dan memulai mencari pekerjaan. Untuk hal yang ini, saya tahu apa yang saya mau: tidak ingin bekerja sesuai dengan bidang studi yang saya pelajari. Itu bukan bidang saya. 


Hidup terus berlanjut, saya terus mencari pekerjaan yang saya inginkan (setidaknya di perusahaan mana saya ingin bekerja) sambil tetap latihan rutin setiap minggu di Balai Mahasiswa UI Salemba.

Walaupun kami sudah lulus dari UI, tetapi kami mempunyai keterikatan tetap latihan rutin untuk menunjukkan masa bakti setelah Misi Budaya selesai.

Di sela-sela latihan rutin dan kami masih asyik berbagi cerita tentang perjalanan Misi Budaya kami dengan para anggota, muncul ide untuk menulis cerita perjalanan Misi Budaya lalu ke salah satu perusahaan majalah di Jakarta. Saya pun memberanikan diri untuk menyerahkan tulisan disertai foto-foto (waktu itu belum populer yang namanya flash disc atau kamera digital). Ketika memasuki kantornya yang sederhana namun menggambarkan dengan ciri kantor majalah yang dinamis, saya tertarik untuk melamar bekerja di perusahaan itu. Perusahaan itu adalah perusahaan majalah wanita pertama, Femina.

Nasib baik berpaling kepada saya. Setelah melalui proses tes dan wawancara, saya pun diterima bekerja di perusahaan tersebut. Dimulai dari staf di bagian umum, ´dipinjam´ sementara menjadi sekretaris pemimpin redaksi Majalah Femina sampai akhirnya saya ditarik menjadi sekretaris majalah wanita yang baru terbit beberapa bulan, Cita Cinta, untuk menggantikan posisi Mbak Riris.

Semua berawal dari sini, perjalanan karier kami.
Ki-Ka Atas Baris pertama: Santi, Jessica, Tina, Rani Fitri, Rani Anggraeni, Widi, Tussie.
Ki-Ka Baris kedua: Novia, Zornia, Riri, Mbak Poppy, Mbak Jane, Martha, Mariska.
Ki-Ka Bawah (duduk): Saya. Mira, Rully (duduk) , Mas Ujang (paling kanan, duduk).
Paling bawah jongkok: Adi.

Cita Cinta: Cerdas, Ceria, Cantik…
Disini, saya menemukan dunia yang saya mau. Dunia dinamis, teman-teman bekerja yang usianya tidak berbeda jauh, kreatif dan mempunyai idealis yang tinggi dalam bekerja. Sesuai motto majalahnya: Cerdas, Ceria, Cantik. Dan saya tidak menyesal dengan keputusan yang saya pilih.

Bersama teman-teman di Cita Cinta, yang Cerdas, Ceria, Cantik ;)

Setelah Liga Tari, majalah tempat saya bekerja ini saya anggap sebagai tempat dimana saya merasakan kenyamanan. Disini saya mendapat ilmu non formal tentang dunia profesi, bertemu dengan berbagai jurnalis hebat, belajar memahami berbagai macam karakter orang serta mendapat kesempatan untuk menimba ilmu secara tidak langsung: mengetahui jalur hidup suatu majalah, mulai dari mencari ide tulisan, proses produksi sampai jatuh ke tangan pembaca.

Nggak salah, memang, akhirnya saya bergabung dengan mereka...

Girls Only!
Cita Cinta memang didominasi kami para wanita. Penghuni pria yang tetap hanyalah Mas Ujang, bagian artistik dan produksi. Pernah ada Yoshie, yang hanya bekerja beberapa bulan. Mungkin dia nggak tahan, ya, dengan jejeritannya kami. Lalu pernah ada Adi, yang magang selama 3 bulan. Selama saya bekerja selama hampir 5 tahun, pegawai laki-laki yang pernah singgah hanya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja.

Yoshie, ditengah-tengah sarang perempuan...*eh..

Bekerja disini banyak senangnya. Walaupun kami berisik setiap saat, tetapi kami tetap menghormati kapan waktu bekerja, waktu istirahat dan makan siang sampai kapan harus pulang. Nah, kalau waktu pulang, sih, seringnya lupa. Maklum masih banyak yang single waktu itu. Jadi kami tidak mempunyai kewajiban apapun untuk tiba di rumah sore hari. Apalagi sebagai besar tinggal di kos, seperti Widi, Jessica, Wulan dan saya.

Yang seru, pukul 5 sore adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Tea time! Bukan waktunya minum teh beneran, sih. Tapi kami mencari cemilan atau sekedar jajan bakso di depan kantor. Obrolan mengalir lancar. Tidak hanya masalah pekerjaan, cita-cita masa depan, tentang keluarga, film yang seru dan tentu saja tentang pacar.

Tak terasa hampir 5 tahun saya berbagi ruang emosi yang penuh suka, duka, canda dan tawa. Sangat sulit mengucapkan selamat tinggal ketika saya memutuskan untuk berangkat ke Paris, melanjutkan sekolah dan mencari tahapan kehidupan yang baru.

Polkadot in action!
Ki-Ka Atas: Mbak Jane, Rully, Wuri, Andri, Widi, Cesy, Mira, Zornia.
Ki-Ka Duduk: Tussie, Saya, Alice, Wulan.
Paling bawah jongkok: Regina

Walaupun saat ini sebagian dari kami sudah tidak bekerja lagi di majalah tersebut, pertemanan masih terjaga. Bahkan sampai saya berganti benua pun, komunikasi dengan mereka masih tetap terjalin.

(Terima kasih teman-teman tercinta di majalah Cita Cinta, Femina Group. You are the best!)

Foto Atas : Koleksi Jessica Huwae
Foto (CC Jiffest): Koleksi Rani Anggraeni

I. 1. Langkah Awal...

Berhasil menyelesaikan kuliah D3 Perpajakan FISIP UI dan wisuda bersama adalah salah satu pengalaman hidup yang berharga.
Ki-Ka: Allan, Andhini, saya, Sovi, Saskia, Eric.

Dalam kamus hidup saya, setiap beberapa tahun, saya ingin berganti pekerjaan, suasana dan pengalaman. Tidak ingin stuck pada satu tempat yang membawa saya pada kebosanan dan menyesali hidup yang saya jalani. Sebagian orang mengatakan bahwa hidup itu adalah suatu pilihan, ada benarnya. Tetapi, tidak sebatas hanya menentukan pilihan, tetapi bagaimana kita berbesar hati menerima pilihan itu dan dengan sukarela menjalaninya tanpa beban.

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup. Ingin menjadi apa, mau melakukan apa dan nanti akan bagaimana. Saat itu hanya berfikir bahwa saya sedang menjalani hidup. Contohnya saya berhasil menyelesaikan pendidikan dasar sampai menengah dengan tepat waktu. Setelah lulus sekolah, saya tidak tahu harus menlanjutkan bidang studi yang saya inginkan. Karena pada saat itu saya benar-benar tidak tahu. Orang tua berperan mengarahkan, tetapi lagi-lagi, kita sebagai orang yang akan menjalani kehidupan, harus mengetahui apa yang menjadi tujuan kita. Sialnya, saya tidak tahu.

Tidak lulus ujian UMPTN (sekarang apa, ya, namanya?), bukan akhir dunia. Lalu saya mencari alternatif fakultas dan jurusan yang menarik minat saya. Dan optimis mengikuti tes ujian masuk Diploma 3 Jurusan Perpajakan di FISIP Universitas Indonesia. Saya lulus tes dan mengikuti perkuliahan. Karena akhirnya harus dijalani, maka saya konsekuen menyelesaikan kuliah saya tepat waktu: selama 3 tahun.

Ilmu yang saya pelajari, toh, akhirnya berguna sampai sekarang dan ada hubungannya dengan pekerjaan yang saya tekuni pada akhirnya. Walaupun kurang sreg dengan bidang studi yang saya jalani, tetapi suasana kampus, teman-teman, dan mengikuti berbagai kegiatan yang saya ikuti sangat menyenangkan dan saya menikmatinya.

Girlfriends in D3 Perpajakan FISIP UI 1997 - 2000.
Ki-Ka Atas: Niken, Ade, saya, Andhini, Bintang, Saskia, Nike.
Ki-Ka Bawah: Mira, Sovi, Alia, Kiki.
Agar kebosanan keluar dari sarangnya, saya mencari kegiatan yang positif dengan bergabung di salah satu Unit  Kegiatan Mahasiswa (UKM) UI, yang bergerak dibidang tari. Disini saya menemukan keseimbangan antara belajar dan kegiatan yang menyenangkan sebagai kompensasi dan hiburan untuk bidang studi yang telah saya pilih.

Ternyata, saya tidak salah pilih kegiatan ekstra. Karena, berkat bergabung di Liga Tari ´Krida Budaya´ Universitas Indonesia, saya belajar banyak hal. Liga Tari tidak hanya mengajarkan teknik dan beragam tarian, tetapi juga tentang  cara berorganisasi, mengatur waktu, menumbuhkan rasa kebersamaan antar sesama anggota, rasa berbagi dan toleransi yang tinggi.

Bagi saya, kegiatan ini sebagai sekolah non formal, tentu selain pendidikan sopan santun yang diajarkan di rumah dan secara ilmu di bangku kuliah. Disini, saya bertemu banyak seniman hebat yang merupakan harta karun hidup budaya Indonesia. Malah, saya lebih banyak menghabiskan waktu di ruang latihan Balai Mahasiswa UI Salemba ketimbang wira wiri kuliah di Depok. Dan Liga Tari ini yang berperan dalam langkah saya ke depannya.
  • Untuk teman-teman angkatan D3 Perpajakan FISIP UI 1997 – 2000. You made my world so colourful.

Foto:
Koleksi Saskia (wisuda)
Koleksi Mira (cewe-cewek).

Cerita Lanjutan:
Liga Tari dan Misi Budaya tahun 2000
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/i-2-liga-tari-ui-dan-misi-budaya-tahun.html