Like

Tampilkan postingan dengan label Chiapas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chiapas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2014

XIII. 21. Mexico (20): Mengarungi Chiapas, Jantung Peradaban bangsa Maya (2)



1.      Cañon del Sumidero: berpetualang di tengah-tengah keindahan alam

Chiapas terkenal dengan keindahan alamnya. Mengunjungi Cañon de Sumidero yang terletak sekitar 102 km bagian barat San Cristobal de Las Casas adalah pilihan yang tepat. Perjalanan menyaksikan keindahan Cañon del Sumidero dengan berlayar di atas Sungai Grijalva dengan perahu kecil, tidak terasa membosankan dengan jarak tempuh 64 km selama 2 jam.


Pemandangan ini diambil dari perahu dengan kapasitas kira-kira 20 orang. 

Sepanjang melewati tebing-tebing tinggi yang dibelah sungai Grijalva, kami melihat keindahan alam flora dan fauna yang beragam. Tak ketinggalan burung-burung berkicau sampai buaya yang sedang berdiam diri di airpun bisa kami abadikan dari perahu kecil yang kami tumpangi.


Ini dia tebing alami yang berbentuk seperti pohan Natal.

Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati tebing tinggi yang jika musim hujan berfungsi sebagai air terjun dan tebing tersebut berbentuk menyerupai pohon Natal. Ini sungguh fenomena alam yang menakjubkan.

2.      Agua Azul,

Keindahan alam yang menakjubkan lainnya adalah perjalanan menuju Situs Palenque (situs tertua peninggalan Peradaban bangsa Maya yang pernah saya bahas beberapa waktu lalu di Daily Sylvia). Dari San Cristobal de Las Casas ke bagian arah utara sekitar 200 km, ada 2 (dua) tempat indah untuk dikunjungi, yaitu air Agua Azul, yang artinya air yang berwarna biru dan Cascada Misol – Há atau air terjun Misol – Há.

Agua Azul mempunyai daya tarik yang membuat pengunjung ingin segera ´nyebur´ berbaur dengan kebiruannya yang indah. Warna ajaib ini benar-benar kado dari alam. Penduduk setempat mengatakan bahwa bulan maret – mei adalah periode ideal untuk ´berendam´ di Agua Azul. Jika kami berkunjung di musim penghujan antara agustus – november, si air biru berubah warna menjadi air cokelat atau Agua Café.


Inilah air terjun dengan air yang berwarna biru, karena itu disebut Agua Azul (Air berwarna biru). 

Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk mengagumi keindahan Agua Azul ini, yang bentuknya berbukit-bukit, menyerupai air terjun yang tidak terlalu tinggi namun memanjang. Disini, nih, pentingnya membawa baju renang atau bikin karena jangan lewatkan kesempatan untuk berendam dan berenang, asal hati-hati terbawa arus yang cukup kuat.

3.      Cascada de Misol – Há, air terjun alami

Setelah berendam dan berenang menikmati Agua Azul, mengunjungi pemberhentian selanjutnya membuat kita semakin jatuh cinta pada alam Chiapas. Berjarak kurang lebih 1 jam dari Agua Azul, air terjun Misol – Há menawarkan berendam di sebuah kolam alam raksasa dengan percikan air terjun yang jernih. 


Ini dia air terjun Misol Ha..mirip seperti di Maribaya ya? hehe...

Di sekeliling air terjun, kami bisa menikmati keindahan alam lainnya berupa gua yang kecil dan bisa merasakan percikan air yang merembas melalui celah-celah dinding tebing. Hati-hati dalam melangkah, karena selain licin, jalanan setapak sekeliling air terjun cukup terjal.

4.      Palenque: Situs Tertua Peradaban Tertua bangsa Maya

Situs tertua peninggalan bangsa Maya ini menjadi akhir perjalanan kami di Chiapas. Terletak di tengah-tengah hutan Chiapas, Palenque benar-benar mempunyai daya tarik tersendiri. Cerita tentang Palenque, sudah dimuat beberapa waktu sebelumnya di DailySylvia (Menyelami Dunia Maya, part 1).


Situs Palenque. Tulisan lengkapnya bisa dibaca juga di blog ini.

Yang menarik selama perjalanan kami di Chiapas:
1.       Mereka tabu dipotret

Hal unik yang kami jumpai selama mengarungi Chiapas adalah penduduk setempat menolak untuk dipotret, walaupun dengan izin mereka terlebih dahulu. Menurut kepercayaan orang-orang indian Chiapas, hal ini sama dengan kita mengambil jiwa mereka. Karena itu, jangan sekali-kali memotret tanpa izin karena pengaruh kebudayaan lokal dan aura mistis yang kuat dipercaya akan mempengaruhi hidup kita.

2.       Malu Bertanya = Jalan – jalan, dong..

Buku pedoman jalan-jalan atau pemandu wisata memegang peranan penting dalam penjelajahan di Chiapas. Tapi, kan, nggak selamanya kami didampingi oleh pemandu wisata. Kalaupun membawa buku, kami tidak membukanya di depan umum, takut ketahuan kalau kami adalah turis. Lah, padahal, sih, secara fisik jelas-jelas kami bukan ´bentuk fisik´ penduduk lokal. Cerita malu bertanya mari jalan – jalan ini terjadi ketika kami ini bermaksud menuju Templo de Guadalupe yang terletak di sebelah barat pusat kota San Cristobal de Las Casas. Terlalu percaya diri tidak bertanya kepada penduduk setempat membuat kami mblusuk ke jalan-jalan perkampungan yang tidak tampak di peta buku pemandu. Hasilnya ? Kami ´nyasar´ ke cafe kecil di pinggir jalan yang baru buka, yang belum tampak papan pengumumannya. Lalu mampir ke tempat penginapan warga setempat yang disulap jadi guest house ala homestay sampai mampir ke butik rumahan milik penduduk setempat.

3.       Sesama turis diperbolehkan langsung akrab

Beberapa penjelajahan Chiapas, ada yang kami lakukan secara mandiri dan menggunakan jasa tur dengan pemandu wisata, yang pastinya tergabung dengan turis-turis lainnya dari mancanegara. Sebagian besar dari mereka tidak berbahasa spanyol. Bahasa inggris dan prancis dominan pada waktu kami mengikuti tur. Yah, namanya juga orang Indonesia dan kami berbahasa prancis, jadilah langsung sok akrab dengan turis-turis prancis. Untungnya mereka juga welcome dan ramah. Jadi, perjalanan tur seharian penuh itu jadi penuh warna dan gelak tawa.

Letak Chiapas di jantung Mexico.

Penting, nih…

  1. 1.       Antara bulan maret sampai dengan bulan mei adalah waktu yang paling tepat mengunjungi Propinsi Chiapas. Tidak panas, tidak hujan. Alam Chiapas memanjakan kita dengan memamerkan kekayaan alam yang mereka miliki.
  2. 2.       Bawa perlengkapan perjalanan seperlunya. Yang jelas sepatu yang nyaman, topi, kacamata hitam dan sunblock tidak boleh ketinggalan. Kamera? Tentu saja, dong, tidak boleh ketinggalan.
  3. 3.       Siapkan uang tunai agak berlebih. Atau cari mesin penarik uang di tengah kota karena kita memerlukannya untuk membayar apapun secara tunai. Mulai dari penginapan, tempat makan sampai membeli cindera mata khas Chiapas. Simpan uang di beberapa tempat yang berbeda untuk keamanan kita sendiri.
  4. 4.       Sediakan waktu minimal 7 hari untuk menjelajah sebagian besar wilayah Propinsi Chiapas.
  5. 5.       Yang paling penting dari semuanya adalah mempunyai tempat seperjalanan yang menyenangkan dan mempunyai minat dan jiwa yang sama untuk menjelajah. Karena, Chiapas menawarkan banyak hal menarik dan penuh tantangan, yang mengundang rasa keingintahuan kita.



Cerita tentang Chiapas bagian 2 juga ada di Dailysylvia

XIII. 20. Mexico (19): Mengarungi Chiapas, Jantung Peradaban bangsa Maya di Mexico (1)


Mexico adalah negara yang terletak di amerika utara, yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat di sebelah utara dan berbatasan langsung dengan Guatemala di bagian tenggara. Terkenal dengan banyaknya peninggalan-peninggalan Peradaban penting dunia, yaitu Maya dan Aztec, Mexico juga dikenal masih ´menyimpan´ suku-suku indian yang masih tinggal di pedalaman.

Penasaran untuk mengenal peradaban suku indian lebih lanjut? 

Datanglah ke Propinsi Chiapas! Propinsi yang dikenal dengan penghasil kopi terbesar di Mexico ini terletak di tengah-tengah negara Mexico, yang berbatasan langsung dengan Propinsi Oaxaca (yang sudah saya tulis beberapa waktu di ¨Talk About´ Daily Sylvia) di bagian barat dan berbatasan langsung dengan Propinsi Tabasco di bagian utara, berbatasan dengan Propincis Yucatan di bagian timur laut dan berbatasan langsung dengan Guatemala di bagian timur serta terltak di pinggir Lautan Pasifik di bagian selatan.

Keturunan bangsa Maya

Penduduk Indian yang mendiami wilayah hutan dan pegunungan yang tersebar di Propinsi Chiapas, dipercaya masih keturunan bangsa Maya. 


Suasana di pasar tradisional. Disini kita bisa melihat wajah-wajah asli penduduk Chiapas yang khas. Kami nemu rambutan nih.

Selain bentuk wajah dan fisik mereka yang memang sangat khas indian ala bangsa Maya, mereka juga masih menggunakan bahasa daerah berdasarkan masing-masing suku. 

Banyak di antara mereka yang tidak bisa berbahasa spanyol. Dari banyaknya suku indian yang masih mendiami Chiapas, saya hanya mendengar dan melihat langsung suku Tzotziles yang turun dari pegunungan ke kota San Cristobal de Las Casas untuk menjual barang dagangannya.

Karena didukung oleh alamnya, sebagian besar penduduk indian Propinsi Chiapas masih melakukan pekerjaan bertani, bercocok tanam dan berladang. Hasil bumi mereka adalah aneka macam cabai, kopi, jagung, ubi dan kacang merah. Untuk hasil kerajinan, mereka memanfaatkan sisa-sisa dari alam. Misalnya kulit jagung, biji-bijian dan dedaunan. Sangat kreatif. 

Sayangnya, sebagian besar wilayah Chiapas tidak mempunyai listrik yang memadai sampai ke daerah pedalaman. Gaya hidup mereka dikenal amat sederhana dan menurut cerita pemandu wisata yang tidak sengaja saya temui, Propinsi Chiapas termasuk propinsi yang paling miskin di Mexico. Miris, ya?

Banyak tempat menarik di Chiapas tapi kami hanya berhasil mengunjungi 6 (tujuh) tempat menarik. Apa saja?

1.      San Cristobal de Las Casas, kota cantik di jantung Chiapas

Yang menarik di San Cristobal de Las Casas adalah arsitektur kota yang unik, tertata rapi dan dengan cat berwarna-warni. Terletak di ketinggian 2100 meter dari permukaan laut, membuat hawa kota ini berubah brutal dari siang yang super panas ke malam hari yang super dingin. Disini, nih, para penduduknya populer menggunakan poncho dari bulu domba asli. Dijamin hangat.

San Cristobal de Las Casas dilihat dari ketinggian. Warna kuning, krem dan merah bata mendominasi arsitektur kota sejuk ini.
 
Kami banyak menjumpainya arsitektur bangunan bergaya barok yang memang dibangun di abad ke-17 oleh bangsa Spanyol, yang saat ini menjadi daya tarik kota kolonial ini. Di berbagai sudut, kami menjumpai berbagai macam turis dari seluruh penjuru dunia, para relawan asing yang tergabung pada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang membantu kehidupan dan keterampilan suku-suku indian sekitar kota San Cristobal de Las Casas ataupun suku Tzotziles yang turun dari gunung untuk menjajakan barang-barang dagangan mereka di pasar pusat kota.

Transaksi tawar menawar terbilang cukup unik disini karena penduduk indian Chiapas tidak berbahasa spanyol, jadi dengan bentuk fisik mata uang lokallah kami melakukan transaksi. 

Saat kami di pasar seni membeli hasil kreativitas penduduk setempat. Yang murah..yang murah...

Yang tidak kalah seru adalah, ketika mereka tidak setuju dengan harga yang kami tawar, mereka ngedumel dengan bahasa mereka sendiri, yang tentunya hanya diketahui oleh mereka sendiri artinya. Sebagian besar para pedagang ini cukup baik hati, misalnya kita hanya menanyakan harga dan tidak jadi membeli. Yang unik juga adalah mereka mengenakan pakaian tradisional masing-masing suku setiap turun dari pegunungan.

Tahun 1994, San Cristobal bergejolak dengan gerakan Zapatista yang dipimpin oleh Marcos. Hal ini sempat menjadikan kota kolonial cantik ini sempat tegang beberapa hari. Walaupun setelahnya kembali normal dan penuh turis dari berbagai penjuru dunia.

2.       San Juan Chamula, oase suku Tzotziles

Salah satu kota indian menarik yang berjarak kurang lebih 10 km ke arah barat laut dari San Cristobal de Las Casas manyajikan pemandangan kota indian tradisional yang masih menjaga ketat tradisinya. 

Di pusat kota kecil ini, yang menjadi daya tarik utama adalah Gereja San Juan Bautista dengan arsitektur yang sederhana dan cat pinggiran pintu yang berwarna warni. Sebelum mengunjungi gereja ini, kami diharuskan membayar tiket masuk untuk perawatan gereja dan izin memotret dari luar gereja. Sedangkan di dalam gereja, kami tidak diperbolehkan untuk memotret karena cara berdoa mereka terbilang unik dari kebanyakan gereja pada umumnya sebagai tempat ibadah.

Gereja yang menjadi daya tarik karena warna dindingnya yang berwarna warni.. 

Gereja cantik yang didominasi warna putih, hijau dan biru ini merupakan tempat ibadah perpaduan kristiani dan indian. Kami dipandu oleh penduduk setempat yang kebetulan berbahasa spanyol. Ya, karena mayoritas penduduk kota San Juan Chamula berbahasa daerah asli. 

Ini nih arsitektur dan warna dinding gereja yang berwarna warni unik.

Di dalam gereja ini, tidak ada bangku.  Mereka menggunakan semacam rumput yang menyerupai daun pinus untuk alas duduk. Kebanyakan yang mendatangi gereja ini adalah penduduk indian Tzotziles yang memohon kesembuhan dari penyakit dengan membawa aneka sesajen, seperti ayam hidup, lilin bahkan minuman coca cola sebagai pengganti minuman alkohol yang populer di Peradaban Maya.

Letak Chiapas yang memang di jantung Mexico.

Roda kehidupan penduduk asli setempat yang menarik adalah pasar kaget di hari minggu, yang diadakan di lapangan luas di depan Gereja San Juan Chamula. Para penduduk saling menggelar dagangan dan tentu saja pemandangan ini menarik perhatian turis yang datang dari berbagai macam negara di dunia. 

Foto: Ita, Herman