Like

Selasa, 13 November 2012

II. 4. Four Weeks Paris Told Me


Beberapa minggu setelah sekolah bahasa dimulai, saya selalu berusaha untuk mati-matian belajar bahasa lokal agar bisa nyemplung di kehidupan masyarakatnya. Dibantu oleh keluarga homestay yang memang mendukung segala keperluan saya, maka selayaknya belajar keras agar bisa berbahasa prancis seperti mereka. Memang, sih, aksen tidak bisa dibohongi atau diubah karena memang dari ´sono´nya. Tetapi kalau kita berbicara dengan struktur bahasa yang benar, dijamin pasti mereka bertepuk tangan untuk kita.

Di minggu ke-4 saya bersekolah, kami duduk makan malam bersama di meja makan. Keluarga homestay mengundang keluarga prancis lainnya. Tentunya, karena hanya saya yang orang asing disana, mereka pastinya nge-test dengan bertanya ini itu. Pertanyaan yang sering mampir ke telinga saya (saking seringnya, mungkin telinga saya protes kalau dia mempunyai suara, hehe..), seperti: kapan tiba di Prancis? Mau ngapain? Tujuannya nanti? Berapa lama akan berada disini? Jujur saja, kalau punya tape recorder, lebih baik saya memasangnya agar tidak buang-buang suara untuk menjawabnya, hehe. Eh, ternyata tujuan mereka bertanya itu, untuk mengetahui kemajuan pembelajaran saya terhadap bahasa Prancis. Saya tidak tahu kenapa, saya cinta sekali dengan bahasa ini, tetapi tidak dengan sifat orang prancis itu sendiri, yang terkenal sombong dan sering mengeluh.

Selain telah sedikit menyelami bahasa setempat, saya juga mengenal sedikit demi sedikit budaya lokalnya. Misalnya jika kita diundang makan (siang atau malam) atau sekedar aperitif (ngemil) bahkan sampai makan di restoran. Yang menarik, tentu saja semuanya beda dengan budaya Indonesia. Misalnya ada teman yang ulang tahun, kadang mereka merayakannya di restoran atau di bar atau bahkan main bowling bersama. Untuk hal membayar, bukan yang punya ultah yang mentraktir, melainkan tetap bayar masing-masing sesuai dengan makanan dan minuman yang kita konsumsi. Agak aneh, sih. Tapi lama kelamaan maklum juga karena harga makanan dan minuman cukup mahal di eropa. Uniknya lagi, jika ada uang kembalian sesen pun tetap dihitung. Coba di Indonesia? Cingcay saja, lah, ya..

Untuk pertemanan, saya termasuk orang yang mudah bergaul dengan siapapun, tapi lama kelamaan seleksi alam yang menentukan kita cocok dengan dengan siapa atau mereka cocok bergaul dengan kita atau tidak. Hal ini, sih, tak perlu diambil pusing. Masalah pertemanan adalah hak asasi. Kita nggak bisa memiliki layaknya pacar. Mereka mau bergaul dengan siapapun, toh, itu urusan mereka. Demikian juga jika saya memilih berteman dengan siapapun, bukan urusan mereka juga.

Mengenai pertemanan, saya menerapkan tarik ulur. Maksudnya, tidak dekat juga tidak jauh. Hal ini saya pelajari karena kehidupan di kota besar seperti Paris, kita tidak bisa bergantung dengan siapapun karena semua orang juga sibuk berjuang dengan urusan masing-masing.

Kok, kesannya egois sekali. Percaya, deh, sekalinya benar-benar nyemplung dalam kehidupan kota besar dan sibuk seperti Paris, setiap orang mempunyai target sendiri-sendiri dalam menentukan masa depannya. 

Bukan apa-apa, karena setiap orang yang datang ke Paris, mereka pasti ada tujuan dan inginnya berhasil merealisasikan tujuan tersebut. Walaupun bisa beraneka ragam tujuannya, tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, mereka harus bisa bertahan demi mencapai tujuannya. 

Saya mendapat pelajaran dari hal ini bahwa dalam hidup kita tidak boleh bergantung kepada orang lain. Dan kehidupan kota Paris yang keras mengajarkan saya hal ini. Setidaknya, selama 4 minggu saya menjadi bagian dari masyarakat Paris itu sendiri.

(Untuk masyarakat kota Paris yang multinasional)

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/iii-1-lika-liku-selama-setahun-di-paris.html



II. 3. Orientasi Paris

Setelah selesai orientasi sekolah, saya menghabiskan waktu sesiangan berjalan-jalan di sekitar sekolah. Lokasi sekolah yang strategis terletak di jantung kota Paris. Butik-butik rancangan desainer ternama terpampang rapi. Yang tadinya hanya saya bisa saya lihat di majalah, saat ini saya berdiri tepat di depannya. 

Bangunan-bangunan tua yang berusia ratusan tahun berdiri kokoh dan terawat rapi dengan detil pahatan-pahatannya di setiap sudut. Halte-halte bus terjaga kebersihannya serta ketertiban para penumpangnya untuk antri tenang dan teratur untuk naik ke dalam bus. 


Saya memilih berjalan kaki menuju stasiun kereta bawah tanah yang terletak tidak jauh dari sekolah. Tetapi saya memilih 3 stasiun lebih jauh agar saya bisa menikmati sekeliling serta menyeberang ke kantor perwakilan rakyat Prancis yang terletak di pinggir taman yang sangat luas. Udara musim dingin yang menusuk tulang terlupakan oleh kekaguman di sekitar taman. Luxembourg yang luas dan tertata rapi dari segi arsitekturnya.

Meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju ke arah Sungai Seine saya lakukan dengan senang hati. Sungai anggun yang membelah kota Paris ini berhasil memisahkan arogansi bagian kiri dan kanan kota Paris.

Memisahkan pola pikir para bangsawan, seniman, filosof atau pun perancang mode dunia.

Di tengah sungai tersebut, ada sebuah pulau kecil yang dipercaya sebagai asal muasal kota Paris. Dari 0 km, yang merupakan titik nol di depan Katedral Notre-Dame. Jika kita menginjakkan kaki di titik Nol tersebut, menurut kepercayaan, akan kembali lagi ke kota cantik ini.

Jika ditelaah lebih lanjut, sejarah kota Paris ini sangat kaya dan berhasil mengubah pola pikir dunia.


Katedral Notre-Dame yang terletak di Île de la Cité  yang membelah Sungai Seine.

Siapa yang tidak mengenal kota cantik ini gumam saya dalam hati. Pusat kota mode dunia. Kota sejuta cahaya. Kota romantis tujuan utama bulan madu. Kota tempat menemukan tambatan hati. Kota karya seni para seniman dunia sampai kota demonstrasi sosial. Bahkan terselip sejarah islam yang menjadi inspirasi arsitektur dan sejarah kota indah ini.

Jujur saja, bagi kita yang belum pernah menginjakkan kaki di Paris atau di Prancis bagian mana pun, kota ini mempunyai daya tarik yang luar biasa. Coba tengok lagi film-film yang pernah kita tonton, yang memilih kota Paris sebagai latar belakangnya? Atau jika kita mengingat berbagai iklan kosmetik dan mode, semuanya berlatar kota Paris.

Museum Louvre yang menyimpan maha karya seniman dunia. Salah satunya adalah Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci.

Tak hanya memanjakan mata akan keindahan kotanya, Paris juga boleh dikatakan pusat museum dunia yang menakjubkan. Seperti halnya Museum Louvre, yang di dalamnya terpampang senyuman misterius Monalisa karya Leonardo da Vinci.

Paris benar-benar memanjakan kita dengan kehidupan seni. Saya yang baru beredar di kota sejuta cahaya saja, terpesona dibuatnya. Karena, sejauh mata memandang dan sejengkal kita melangkah, maha karya seni bersama kita.

(Untuk arsitek kota Paris yang jenius)

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/ii-4-four-weeks-paris-told-me.html

II. 2. Orientasi Sekolah Bahasa di Jantung kota Paris



Keesokan harinya, saya diantar ke sekolah bahasa yang terletak di daerah Paris 6 untuk mengikuti tes penempatan level bahasa. Bahasa prancis ini emang juara susahnya. Semua huruf tertulis terbuang percuma ketika kita membacanya. Sebelum mengikuti tes penempatan, saya sudah mengikuti kursus singkat di Pusat Kebudayaan Prancis beberapa tingkat demi mendapatkan tingkat yang lebih tinggi untuk melanjutkan sekolah bahasa di Prancis. Selain mahal biayanya, juga menghemat waktu karena tujuan saya setelah itu adalah melanjutkan pendidikan ke universitas negeri di Prancis.

Saya pun lulus tes penempatan di tingkat dasar menuju ke tingkat menengah. Not bad. Setelah itu bertemu dengan calon guru, yang ternyata sudah 15 tahun belakangan ini mengunjungi Indonesia setiap musim panas. Dia suka sekali dengan rokok kretek. Dengan percaya diri, dia bertanya kepada saya: “kamu menyelipkan sebungkus rokok kretek, nggak, di kopermu?” Saya: Hah? Ya, nggaklah. Saya tidak merokok”. “Rugi”, balesnya sambil terkekeh. Kami pun langsung akrab. Selama obrolan belasa menit, akhirnya kami berpisah dan saling mengucapkan kata selamat tinggal dan akan bertemu di kelas pertama minggu depan.

Setelah itu, pihak sekolah mengajak saya berkeliling memberikan orientasi lingkungan sekolah. Sekolah ini merupakan sebuah institut katolik yang juga setara dengan tingkat universitas. Mereka membuka program sekolah bahasa yang setara dengan standar kurikulum universitas. Jadi, sekolah bahasa di institut ini tidak bisa main-main seperti halnya kami mengikuti kursus bahasa di tempat kursus biasa. Insitut ini lebih membiasakan para murid belajar seperti menuntut ilmu di bangku kuliah.

Saya terpesona dengan ruangan kelasnya yang besar, bersih dan kokoh dengan bangku-bangku kayu yang terlihat tua tapi masih elegan, juga jendela yang berukuran panjang dan lebar menyerupai pintu. Saya rasa, saya pun bisa berdiri tegak di jendela. Asal tidak terjun, saja, sih.

Lalu ruangan perpustakaan yang memanjakan para mahasiswa untuk berlama-lama disana. Meja belajar yang terukir antik, dilengkapi lampu tempel yang usianya mungkin sudah belasan bahkan puluhan tahun tetapi masih terawat. Fasilitas komputer yang tersedia juga terbilang lengkap dengan printer dan scanner.

Kami menuju kantin yang terbilang modern dan bersih. Ketika menuju kapel, kami menyeberangi taman yang di tengah-tengahnya ada air mancur serta jenis bunga yang bisa tumbuh di musim dingin di sekelilingnya. Indah sekali. Sekeliling taman juga dipagari oleh pohon-pohon rindang dan bangku taman di antaranya. 

Arrggghhh..saya terpesona dengan lingkungan sekolah yang memberikan hawa belajar dan memanjakan para mahasiswa dengan segala fasilitasnya. Belum lagi saya terkagum-kagum dengan fasilitas dormitori yang terletak di kompleks universitas. Bangunan tua yang masih kokoh dan terawat ini rasanya sulit dipercaya bahwa usianya sudah ratusan tahun. Banyak hantunya, nggak, ya

Rasanya ingin cepat-cepat minggu depan memulai hari saya sebagai mahasiswa di sekolah ini.

(Untuk pihak sekolah bahasa Institut Catholique de Paris)

Cerita Lanjutan:
http://puruhita-journey.blogspot.mx/2012/11/ii-3-orientasi-paris.html