Like

Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Juli 2014

XIV. 5. (Prancis): Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1435 H

Para pembaca setia blog, apa kabar? 
Sudah sebulan lebih saya tidak update blog. Saatnya kembali lagi dengan beberapa cerita.

Bulan Juni dan Juli adalah bulan sibuk di dunia. Tidak hanya di Prancis yang ramai dengan pesta menyambut musim panas, seperti FĂȘte de la Musique (21 juni), lalu juga kegiatan tahunan yang mendunia: Tour de France (5 – 27 juli), lalu FĂȘte Nationale (14 juli). Di KBRI dan konjen perwakilan Indonesia di eropa dan di dunia juga melaksanakan Pemilu Presiden (6 juli).

Di Indonesia pun demikian, tak kalah sibuknya. Yang masih hangat dalam perbincangan adalah kampanye para capres di bulan juni dan Pemilu (9 juli), lalu dimulainya bulan suci ramadan di akhir bulan juni dan Hari Raya Idul Fitri (28 juli).

Menu Idul Fitri hasil masakan sendiri. Walaupun di perantauan dan jauh dari tanah air, saya berusaha untuk menyajikan makanan khas Idul Fitri, Soal rasa? jelas beda! yang ini lebih enak, hehe..


Tak hanya kegiatan penuh kegembiraan, pesta demokrasi dan pesta rakyat, keadaan dunia pun tak kalah genting. Ya, ramainya penyerangan di Jalur Gaza antara Israel dan Palestina adalah kejadian yang tak diinginkan oleh umat manusia tetapi masih terus berlangsung. Walaupun sudah dilakukan mediasi, diplomasi ataupun cara damai, kenapa perang secara fisik yang masih dipilih? Ini tentu menjadi pertanyaan kita semua.

Yang kalah mengerikan peristiwa di dunia adalah kecelakaan pesawat di bulan juli yang jaraknya hanya hitungan kurang seminggu. Pesawat Malaysia Airline yang diduga ditembak misil di perbatasan Ukraina, kecelakaan pesawat di Taiwan dan yang terbaru adalah kecelakaan pesawat di Mali.

Tour de France, yang melewati depan rumah. Kami pun ikut menyemangati para peserta secara langsung! 


Kembali lagi dengan semangat Hari Kemenangan Idul Fitri yang dirayakan oleh umat muslim sedunia, hendaknya kita memikirkan kembali apa makna Idul Fitri itu sendiri. Budaya Idul Fitri di Indonesia adalah silaturahmi, saling memaafkan antara saudara, teman, tetangga dan sesama manusia. Selain itu juga tak ketinggalan acara kuliner dan masakan khusus khas Idul Fitri, yaitu aneka kue kering, ketupat, opor, rendang, lontong sayur. Tak ketinggalan adalah menunaikan zakat dan membagikan/menerima THR atau angpao atau apalah istilahnya bagi sebagian besar yang merayakannya.

Bagi saya sendiri, Idul Fitri adalah titik balik dan refleksi apa yang sudah saya lakukan untuk kebaikan bagi diri sendiri dan keluarga serta bagi orang banyak. Selain tentunya silaturahmi dengan keluarga besar, antar tetangga dan antar teman, makna Idul Fitri adalah berbagi. Berbagi dalam kebaikan, berbagi keikhlasan dan menguji kesabaran.

Idul Fitri kali ini kami merayakan dengan sederhana berdua di Prancis. Kami tidak pulang kampung ke Indonesia seperti tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah pilihan. Walaupun demikian, tidak mengurangi niat kami berbagi dan bersilaturahmi dengan keluarga dan teman-teman. Kan, ada alat komunikasi canggih, mulai dari Skype, internet, telpon, whatsapp dan segala rupa jenis komunikasi langsung.

Yang saya rindukan adalah sungkem langsung kepada orang tua dan eyang putri yang masih hidup dan dalam keadaan sehat wal afiat. Itu saja.

Jadi, Idul Fitri kali ini penuh dengan makna perenungan dan kembali ke fitrahnya sebagai manusia. Apa yang sudah saya lakukan untuk kebaikan diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat maupun orang banyak. Setidaknya tetap merenungi juga arti perdamaian dan toleransi yang tinggi untuk seluruh umat manusia di dunia agar terhindar dari kesalahpahaman, terjadinya perang atau hal-hal lain yang mengerikan yang tidak kita inginkan.

Yang terpenting adalah selalu menjaga sikap menuju kebaikan. Walaupun sulit dan banyak kekurangan, saya kira itu wajar kita sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Asalkan kita menyadari dan tidak menilai diri sendiri selalu lebih baik daripada orang lain.

Sekali lagi, Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Maafkan atas postingan yang kurang berkenan ataupun tulisan yang mungkin menyinggung perasaan para pembaca blog.

Salam damai!

Grenoble, Prancis, 28 juli 2014


Jumat, 29 Maret 2013

X. 2. Harta yang Paling Berharga adalah Keluarga*


Hal sakral yang membuat saya pulang kampung adalah berkumpul dengan keluarga, terutama sungkem kepada ayah dan ibu yang begitu berbesar hati mengikhlaskan saya melangkah jauh dari rumah untuk melihat dunia.

Seringnya memang saya pulang kampung tidak tentu. Paling parah cuma seminggu hanya karena menghadiri pernikahan adik saya. 

Lalu ketika ada pekerjaan dan perjalanan yang dibatalkan. Saya pun langsung ke airport dan membeli tiket ke Indonesia. Mungkin bagi sebagian besar orang, saya gila karena menghabiskan biaya yang sedemikian besar untuk bolak balik ke Indonesia dari negara di mana kala itu saya sedang berada. 

Keluarga besar dari pihak ibu berkumpul pada saat Idul Fitri. 

Terus terang saja, keluarga adalah harta yang paling berharga, seperti bait lagu Keluarga Cemara. Uang dan tiket bisa dicari, tetapi jika rindu orang tua? Saya hanya memikirkan sesering mungkin bertemu mereka dalam setahun. Jika waktu tidak memungkinkan, saya akan menelepon mereka sesering mungkin.

Balik lagi tentang pentingnya keluarga, beberapa tahun belakangan, saya selalu berusaha untuk pulang kampung menjelang Idul Fitri. Moment inilah yang paling penting untuk bertemu keluarga besar dari kedua belah pihak ayah dan ibu. Selain itu juga berkumpul bersama para sepupu dan keponakan.

Keluarga besar dari pihak ayah. Foto bawah: bersama sepupu-sepupu gila ;) berkumpul pada saat Idul Fitri.

Moment priceless ini tidak bisa saya dapatkan sepanjang tahun karena kesibukan masing-masing. Tetapi moment Idul Fitri adalah moment yang tidak bisa ditawar untuk berkumpul. Dan saya pun dengan rela pulang kampung bertemu mereka. Ditambah juga karena ayah saya paling tua saat ini, maka rumah kami ketempatan setiap tahunnya. Jadi, harus membantu mereka menyiapkan rumah untuk didatangi para tamu. Dan itu menyenangkan!

Selain itu, tentu aneka masakan lezat khas Idul Fitri yang saya tidak rela tinggalkan, hehe..

Di kemudian hari, saya tidak ingin menyesal jauh dari keluarga dekat dan tidak mengenal keluarga besar. Sayang banget, kan?

Walaupun langkah kaki saya sudah sedemikian jauh dari rumah, yang penting saya tidak lupa untuk melangkah kembali pulang ke tanah air...



Untuk bapak dan mama yang telah membesarkan dan mendidik saya akan pentingnya nilai-nilai keluarga.

*Bait lagu Keluarga Cemara.

Foto: Koleksi pribadi, Indah, Windy, Ima, Indra Q, Hari dan Adi.