Like

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2013

Rembang dan Lasem : Berkelana Tanpa Mesin Waktu


Teknologi canggih. Twitter. Napak tilas leluhur.

Tiga kalimat tersebut yang dapat menggambarkan mengapa saya menjejakkan kaki di Rembang dan Lasem, Jawa Tengah, Indonesia.

Jika bukan karena media sosial di mana seluruh umat manusia ini berinteraksi – Indonesia tanpa kecuali, secara tak sengaja bertemu Fahmi Anhar yang membawa perkenalan saya kepada Mas Pop. Beliau adalah pencetus ide, pendiri dan penggerak Rembang Heritage Society.

Perjalanan saya ke pesisir dan ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah untuk ziarah dan napak tilas jepara leluhur saya yang tersebar di tanah Jawa. Bermula dari Semarang, Jepara, lalu ke Pati berlanjut ke Rembang, Tuban sampai ke Surabaya, Yogyakarta dan Purwokerto.

Terpesona Rembang dan Lasem

Waktu berpihak kepada saya yang pada saat bersamaan saya tiba di Rembang, ternyata Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society mengadakan acara Malam Pusaka di desa Tariksono, Lasem. Jadilah saya bisa hadir di tengah-tengah mereka. 

Bersama Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society di Malam Pusaka Lasem di desa Tariksono.

Acara yang diprakarsai oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society adalah bertujuan mengumpulkan, mempresentasikan serta mengajak masyarakat untuk peduli dengan pusaka, yang tidak hanya berbentuk barang, tetapi juga tempat sejarah dan alam. Bahkan Pak Kepala desa pun hadir memberikan dukungan. Dari acara tersebut, saya mendapat banyak teman. Senang sekali bisa hadir di tengah-tengah mereka.

Keesokan harinya, Mas Pop menemani saya berjalan-jalan keliling Lasem yang dimulai dari ladang garam yang terhampar luas di pesisir pantai Lasem. Para petani garam yang bekerja tanpa lelah menunjukkan dedikasi atas pekerjaan mereka. Saya pun dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indah dari aktivitas yang ada pada siang menjelang sore hari tersebut.

Ladang garam di pesisir pantai Lasem.


Perjalanan dilanjutkan mengunjungi sebuah Klenteng tua yang masih terawat, yang menjadi saksi bisu serajarah Lasem yang pernah berjaya dimasanya. Seakan dimensi waktu tidak bergerak, saya masih bisa menyaksikan deretan bangunan tua yang tak peduli dengan perubahan waktu dan zaman.



Mereka yang hidup dalam harmoni dan ketentraman…

Potret Lasem yang saya tangkap kurang dari 48 jam adalah menawarkan kejujuran, sederhana dan apa adanya. Seperti kebanyakan potret penduduk Jawa yang nrimo keadaan, membuat Lasem mensyukuri karuniaNya dan tidak berambisi untuk melakukan perubahan. Yang membuat trenyuh adalah mereka masih bersedia berbagi dalam keterbatasan.

Hidup dalam harmoni dan kesederhanaan.


Contoh nyata yang saya alami adalah ketika mas Pop mengajak saya mengunjungi Rumah Oma-Opa dan Mbak Minuk di desa Karangturi. Mereka adalah salah satu potret penduduk Lasem yang tidak neko-neko. Ceria dan nrimo mengisi hari senjanya dengan bersyukur dan tidak mempunyai keinginan yang muluk. Sungguh damai, sejahtera dan legowo mengisi hidupnya.

Mengenal Batik Lasem

Ketika matahari sudah tenggelam, perjalanan selanjutnya adalah mengunjungi pengrajin batik yang juga penari tradisional di desa Sendangsari. Adalah Pak Parlan, seniman yang serba bisa: membatik, menari dan mengajar tari Jawa untuk melestarikan kesenian Jawa. Untuk melihat langsung apa yang dikerjakan pak Parlan, saya pun diajak untuk menyaksikan langsung pelatihan batik yang dibina olehnya di Desa Matingan, Bulu yang tidak jauh letaknya dari Makam Pahlawan Nasional RA Kartini.

Batik Lasem dan pelatihannya di desa Mantingan-Bulu binaan Pak Parlan.

Blusukan ke pasar tradisional dan wisata kuliner

Keesokan harinya, Mas Pop mengajak saya untuk mengenal semakin dekat masyarakat Rembang-Lasem adalah mengunjungi pasar tradisional serta berwisata kuliner.

Di pasar tradisional Rembang, kita bisa menyaksikan interaksi langsung antara penjual dan pembeli, yang rata-rata penjualnya sudah sepuh tetapi masih bersemangat mencari rejeki. Dari penjual sayur, makanan, ikan asin sampai kutang tradisional bisa saya temukan di sana. Ssttt...saya pun membeli beberapa kutang jawa yang biasa dipakai nenek-nenek ketika berkebaya, hehe..jarang, kan, kita jumpai lagi di pasar-pasar? Semog kutang-kutang dan kebaya-kebaya tidak punah dengan arus perkembangan zaman yang berganti gaya berpakaian. 

Potret kehidupan dan aktivitas masyarakat.

Setelah bluskan ke pasar dan membeli aneka jajanan, kami berwisata kuliner yang dikenalkan Mas Pop pagi itu adalah sate Srepeh yang letaknya tidak jauh dari pusat kota Rembang. Sangat lezat dan mengenyangkan sebelum saya melanjutkan perjalan menuju Surabaya dengan menumpang bus umum yang melewati pesisir Jawa.


Secuil goresan tentang Rembang-Lasem…

  • Mengutip kata mas Matoya dari Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem pada Malam Pusaka, sebaiknya tidak tinggal lebih dari 2 hari di Lasem? Mengapa? Karena akan jatuh cinta. Tidak perlu menunggu 2 hari sampai jatuh cinta. Kesederhaan, kejujuran dan apa adanya Lasem sudah membuat saya terpesona.
  • Jarak Rembang-Lasem kurang lebih 12 km, jadi tidak terlalu jauh untuk mondar-mandir.
  • Menyajikan harmonisasi dalam setiap nadi kehidupannya dengan berbaurnya kebudayaan Jawa, Arab dan Cina dalam kehidupan sehari-hari, berupa sisa peninggalan bangunan, budaya maupun ritme kehidupan sehari-hari.
Arsitektur favorit saya: pintu.
  • Beruntung bisa menyaksikan wayang kulit di salah satu acara resepsi pernikahan yang digelar tak jauh dari rumah Pak Parlan, sang penari dan pengrajin batik.
  • Kagum dengan para pemuda yang bergabung dalam wadah komunitas yang tergerak mengumpulkan pusaka yang berbentuk peninggalan budaya dan alam yang masih ada di Rembang-Lasem.
  • Sedikit pesan dari saya: jika Anda mempunyai waktu dan ingin mengenal tujuan plesiran yang agak berbeda, kunjungilah Rembang-Lasem. Dua kota di pesisir Jawa Tengah yang mempunyai daya tarik tersembunyi.


Matur nuwun Mas Pop, Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem, Rembang Heritage dan Fahmi Anhar serta para leluhur saya yang meninggalkan jejak di pesisir Jawa.






Minggu, 31 Maret 2013

X. 8. Mengunjungi Pegunungan Dieng

Masih ingat cerita perjalanan nyekar ke makam leluhur ke Yogyakarta, Prembun, Gombong dan Wonosobo? Nah, dalam perjalanan ke Wonosobo dan kami menginap semalam di kota sejuk ini, kami menyempatkan diri ke Pegunungan Dieng di pagi  hari, sebelum nyekar.


Kami memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali menuju Dieng dari Wonosobo dengan menumpang bus umum. Jarak tempuh tidak sampai 1 jam.

Menurut sejarah, Dieng adalah tempat berkumpulnya para dewa. Pada zaman dahulu, dataran tinggi dianggap tempat suci para dewa. Kebetulan sekali secara geografis, Dieng terletak di dataran tinggi, yang tingginya 2000 meter di atas permukaan laut.

Pegunungan Dieng ini dikelilingi oleh gunung vulkanik yang masih aktif, bertetanggan dengan gunung kembar Sindoro-Sumbing.

Candi-candi di Dieng. (Atas dan Kiri Bawah): Candi Arjuna. (Kanan Bawah): Candi Bima.

Cuaca Dieng di pagi hari cukup dingin dan menusuk tulang. Kami tidak siap pakaian hangat, tetapi tetap bersemangat mengunjungi beberapa kompleks candi, yaitu Candi Arjuna dan Candi Bima.

Dengan menumpang ojek di pengkolan di dekat halte bus, sang ojek mengantar kami ke Telaga Warna yang benar-benar apik. Karena kami mengunjunginya di pagi hari, kabut menyelimuti seakan baru bangkit dari telaga.

(Atas): Telaga Warna. (Bawah): Kawah.

Lalu kami mengunjungi salah satu kawahnya. Kawah ini cukup aman untuk dikunjungi. Dieng itu sangat luas dan banyak sekali kawah-kawah yang bisa dikunjungi tetapi ada beberapa yang berbahaya dan mengandung racun.

Karena kami tidak mempunyai banyak waktu, akhirnya kami harus kembali ke Wonosobo sesuai tujuan semula: nyekar ke makam leluhur yang letaknya tak jauh dari tengah kota dan terletak juga di dataran tinggi.

(Atas): Letak geografis Dieng. (Bawah): Landscape Dieng dan tanaman kentang.

Dalam perjalan menuju Wonosobo, kami melihat hamparan hijau di depan mata dan perkebunan kentang. Dieng memang terkenal dengan salah satu penghasil kentang terbesar.

Suat saat kami akan kembali lagi mengunjungi Pegunungan Dieng yang indah.

Dieng, awal tahun 2011

X. 7. Trip Solo dan Yogyakarta (Imogiri dan Merapi)


Lanjut lagi cerita tentang perjalanan pulang kampung. Selama tinggal lebih dari 2 minggu di Yogya, saya kedatangan tamu agung, Cindy. 

Adalah salah satu sahabat saya yang baru menyelesaikan sekolah S3-nya di Prancis dan memutuskan untuk kembali ke tanah air.
Ketika mengetahui saya berada di Yogya, Cindy langsung terbang menyusul saya dan kami pun menghabiskan waktu bersama selama 4 hari.

Berkunjung ke Solo dengan menumpang Kereta Ungu Cantik

Kedatangan Cindy ke Yogya tentu saya sambut dengan hati riang. Akhirnya ada teman pecicilan, hehe. Setelah melepas rindu, kami pun menyusul jadwal perjalanan. Akhirnya kami sepakat untuk mengunjungi Solo dengan menumpang kereta dari stasiun Tugu.
Sungguh kaget dan tidak mengira bahwa kereta menuju Solo ini berdandan cantik dan gerbong khusus wanita. Wah!

Perjalanan Yogya-Solo dengan menumpang kereta ungu cantik ;)

Seharian di Solo kami habiskan mengunjungi Museum Keraton, kemudian Pasar Klewer dan berakhir di café di dekat Keraton. Yang kami butuhkan adalah waktu mengobrol dan mengobrol.

Menjelang sore hari, kami kembali ke Yogya dan menumpang kereta yang sama.

Nyekar ke Imogiri

Di hari berikutnya, kami ingin menjelajah Yogya tetapi dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang berbeda. Borobudur dan Prambanan memang masuk dalam daftar, tetapi akhirnya kami memilih menjelajah Yogya bagian selatan.

Serunya ke Imogiri karena kami harus menaiki tangga yang jumlahnya lebih dari 300 anak tangga. Capek? Pastilah. Tapi dibawa enjoy aja.

Nyekar ke Imogiri, menikmati keindahan alam Yogya sekaligus wisata kuliner.

Di Imogiri, kami nyekar ke makam Sultan Agung, kemudian sempat berjalan-jalan di area makam yang memang daerahnya masih hijau dan asri serta bangunan dengan gaya arsitektur Jawa.

Yang serunya lagi, ketika kembali, kami tidak melalui jalan yang sama. Melainkan melalui perkampungan penduduk dan melalui hutan yang terawat. Alam Jawa memang indah sekali.

Sebelum pulang, kami menyempatkan jajan makanan Jawa di warung terdekat dan merasakan masakan lokal. Ini yang membuat rindu pulang kampung.

Menjelajah Merapi 

Yang menarik perhatian kami juga adalah mengunjungi daerah Gunung Merapi yang pada buulan Oktober 2010 meletus dan lahar panasnya memporakporandakan daerah sekitarnya. Bahkan, juru kunci Merapi, Mbak Marijan, meninggal di tempat dalam keadaan bersujud.

Kami melihat langsung daerah tersebut setelah bencana. Benar-benar berubah. Tuhan Maha Kuasa dengan segala isinya.

Menjelajah Merapi setelah Letusan.

Pada saat kedatangan kami itu, sedang dilakukan pembersihan dan mulai dibangun kembali satu demi satu infrastruktur yang rusak karena bencana tersebut.

Kalau dilihat dari dekat, Gunung Merapi ini seperti menyimpan suatu energi yang besar dan terkesan magis.

Akhir kunjungan Merapi, kami mampir ke warung makanan sekitar. Apalagi kalau bukan wisata kuliner kali  ini.


Terima kasih Cindy, Adi dan teman-teman.
Solo-Yogyakarta, awal tahun 2011

X. 6. Trip Yogyakarta: Belajar Membuat Tempe

Nggak bosan, kan, membaca pengalaman saya selama perjalanan pulang kampung? Cerita kali ini berlanjut untuk belajar membuat tempe.


Bagi Anda yang tinggal di Indonesia, terutama di tanah Jawa, tentu tidak pernah krisis tempe. Tinggal ke pasar, ke tukang sayur atau bahkan tetangga Anda menyediakan tempe dan Anda tinggal menikmatinya.

Nah, nasib saya tidak sama dengan yang tinggal di tanah air. Karena seringnya berkelana dan hanya pulang kampung setahun sekali, krisis tempe seringkali menerpa. Rindu sekali makanan yang satu ini.

Tak hilang akal, saya pun berinisiatif untuk belajar membuat tempe. Kebetulan sekali sedang berada di Yogya, jadi saya manfaatkan untuk belajar langsung.

Bahan baku tempe dan proses pembuatannya. Tidak mudah ternyata ;)

Saya beruntung dicarikan orang yang bersedia mau saya repotin untuk mengajari saya membuat tempe. Adalah sebuah desa di daerah Bantul di mana tempe memang populer sebagai industri rumahan. Sang ibu yang berbaik hati menerima saya, sebut saja namanya Ibu Ning, dengan sabar menjelaskan tahapan-tahapan pembuatan tempe.

Beliau menjelaskan bahan baku utama adalah kacang kedelai, lalu dicuci bersih, kemudian digodok di air panas sampai kulit kedelai mengelupas semua. Kemudian setelah kedelai tersebut dianggap matang, maka harus dicuci bersih lagi untuk menghilangkan kulitnya. Kulit kedelai ini memang harus dihilangkan agar ragi tempe bisa berkembang.

Setelah itu, kedelai dikeringkan dan diberikan ragi tempe. Pemberian ragi ini sedikit saja. Lagi diaduk dan kedelai siap untuk dibungkus ke dalam daun pisang. Ukurannya dan takaran sebenarnya terserah kita.

Setelah kedelai dibungkus rapi, diamkan di suhu ruangan selama 2 sampai 3 hari. Jadilah tempe.

Proses tidak sulit namun tahapan-tahapan yang harus dilakukan harus ditaati karena kalau tidak, tempe tidak akan jadi.

Nah, dengan demikian, saya mempunyai bekal tambahan di perantauan. Jika rindu tempe, tinggal saya buat saja. Untuk ragi? Saya beli di Pasar Beringhardjo dan saya bawa selama perjalanan perantauan. Kedelai? Banyak ditemukan di negara-negara amerika latin.

Siapa mau tempe bikinin saya?


Yogyakarta, awal tahun 2011

X. 5. Trip Yogyakarta: Belajar Menenun


Masih cerita tentang kegiatan pulang kampung ke Jawa. Setelah nyekar ke makam leluhur dan belajar teknik pewarnaan batik, kali ini ingin merasakan belajar menenun.

Masih ada seminggu tersisa masa tinggal di Yogyakarta, saya pun memutuskan untuk mengunjungi desa tenun seharian dan belajar menenun di rumah salah satu penduduk di daerah Moyudan, sebelah barat Yogyakarta.

(Atas): hamparan sawah hijau di sekeliling Moyudan. (Tengah): Berhenti sejenak untuk mengamati  seorang nenek yang sedang memintal kapas menjadi benang. (Bawah): Menenun tidak hanya menggunakan benang, tetapi juga daun pandan.

Karena menginap di tengah kota Yogyakarta, jarak yang ditempuh ke daerah Moyudan lumayan jauh. Sepanjang perjalanan sangat menyenangkan karena sekeliling saya adalah hamparan sawah hijau yang sangat luas dan hijau.

Ketika tiba di desa Gamplong, saya nekat saja bertanya kepada salah penduduk bahwa saya ingin belajar menenun seharian dan ingin mengetahui tekniknya. Si pemilik rumah yang baik hati dan ramah, cukup kaget juga atas kenekatan saya karena memang saya tidak menelepon atau membuat janji terlebih dahulu.

Tetapi itulah keramahannya orang Jawa, saya pun dipersilakan masuk dan diperkenalkan oleh para ibu menjelang usia senja yang masih giat bekerja menenun. Mereka ada sepuluh orang lebih. Saya yang tidak mahir berbahasa jawa (walaupun asli dari Jawa), juga mendapat kursus bahasa jawa secara tidak langsung dari percakapan kami seharian penuh itu. Kursus singkat tenun sehari itu diisi dengan canda, tawa dan guyonan khas jawa. Khas ibu-ibu versus anak muda. Seru..

Kegiatan sehari-hari para ibu di Moyudan, Yogyakarta, yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Seharian saya belajar menenun dari benang katun dan juga dari daun pandan. Ini yang sering kita lihat hasilnya, seperti tikar pandan.

Benang dan pewarnaan tenun juga ada prosesnya tersendiri dulu. Karena yang ingin saya pelajari adalah cara menenun, maka konsentrasi saya kepada teknik menggunakan mesin tenun yang masih dijalankan secara manual oleh tenaga manusia. Ya, tenaga ibu-ibu usia senja ini. Mereka adalah penduduk sekitar yang memang mempunyai keterampilan menenun secara turun temurun.

Di sepanjang desa tenun ini, kegiatan tidak hanya menenun tetapi sepanjang jalan saya melihat beberapa nenek yang tekun memintal kapas menjadi benang sambil menjaga toko kelontong miliknya. Hasil pintalan tersebut biasanya akan mereka jual ke tempat-tempat pengrajin tenun rumahan. Jadi, dalam satu desa, kegiatan satu sama lain saling menunjang.

Terharu saya menghabiskan seharian di desa tenun ini. Tidak hanya belajar tentang teknik tenun, tetapi jadi mengetahui kehidupan mereka sehari-hari dari menenun.

Untuk para ibu yang bekerja keras dan masih melestarikan budaya tenun.
Yogyakarta, awal tahun 2011.

X. 4. Yogyakarta, Membatik: Melestarikan Budaya Indonesia dan Memperdalam Teknik Pewarnaan


Setelah keliling nyekar ke makam leluhur di Yogyakarta, Prembun, Gombong dan Wonosobo, saya kembali ke Yogyakarta untuk memperdalam teknik pewarnaan batik. Hal ini saya lakukan untuk memperdalam pengetahuan tentang membatik. Sebelumnya memang saya sudah belajar dan bahkan beberapa kali memberikan presentasi dan workshop batik di Prancis dan di beberapa negara Amerika Latin.

Inilah peralatan membatik: dari canting. lilin, sampai kuas.

Saya tidak rela jika orang asing yang lebih menguasai tentang batik daripada saya sendiri sebagai orang Jawa dan juga warga negara Indonesia. Karena biar bagaimanapun, jiwa kita sebagai orang Indonesia akan berbeda penyampaian dengan pengertian batik dibandingkan orang asing belajar membatik. Tidak dapat ´rasa´nya.

Karena itu saya merasa harus belajar dan belajar lagi agar bisa menguasai lebih baik lagi dan bekal saya kelak untuk menjelajah negara-negara lainnya sambil memperkenalkan budaya negeri sendir, selain menari tradisional tentunya. Maka saya luangkan waktu selama seminggu penuh untuk konsentrasi belajar teknik pewarnaan batik dari pagi hingga sore.

Belajar tentang aneka teknik pewarnaan batik.

Selain belajar tentang teknik pewarnaan membatik yang berbeda, saya juga menyempatkan untuk belajar membatik di kayu. Ternyata prosesnya tidak serumit hasil buatannya.

Inilah hasil membatik dengan teknik pewarnaan seperti pembuatan kain lurik. Kanan atas: bersama kedua guru saya.

Selama seminggu konsentrasi belajar membatik lagi, baik di kain dan di kayu, semakin saya menyadari bahwa batik adalah kekayaan budaya yang sangat indah dan agung. Tidak hanya tentang teknik gambar, mencanting dan pewarnaan, tetapi ada cinta di dalam karya tersebut. Ada cerita tentang dalamnya budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari.


Teknik pembuatan batik kayu.

Untuk para guruku yang berbaik hati dan dengan sabar membimbing serta meluangkan waktu dan membagi ilmu yang pasti bermanfaat di kemudian hari.

Yogyakarta, awal tahun 2011

X. 3. Pulang Kampung: Nyekar Leluhur ke Tanah Jawa


Masih bercerita tentang pengalaman pulang kampung yang singkat, untuk bertemu dengan keluarga, teman-teman dan menikmati aneka kuliner nusantara yang membuat rindu.

Di awal tahun 2011, saya mempunyai kesempatan untuk pulang kampung lebih lama. Biasanya hanya punya waktu seminggu, kali ini sampai 2 bulan. Saya memanfaatkan mengisi kegiatan pulang kampung dengan berbagai macam aktivitas.

Keliling jawa pernah saya nikmati sewaktu saya masih kecil. Untuk mengunjungi tanah leluhur kakek dan nenek saya dari pihak ayah dan ibu. Selain itu, kami pernah juga melakukan nyadran atau nyekar leluhur sebelum bulan ramadhan tiba.

Suanana Makam Leluhur di Yogyakarta dan Alamnya.

Nah, kali ini, saya mempunyai waktu lebih banyak dan saya isi dengan napak tipas nyekar dan mengunjungi tanah leluhur dari pihak ayah di Prembun, Jawa Tengah.

Adalah Yogyakarta yang menjadi titik pergi saya sepupu saya yang kebetulan sedang kuliah di Yogya. Dialah yang menemani saya keliling makam leluhur. Mulai dari Yogyakarta itu sendiri dengan mengunjungi Makam Sri Sultan HB II, ke Prembun (makam kakek-nenek dari pihak ayah), Gombong (leluhur dari pihak ibu), sampai ke Wonosobo (leluhur dari pihak ibu).

Selama 3 hari 2 malam, kami road trip nyekar makam leluhur dengan menumpang kereta ekonomi, lalu lanjut dengan menaiki bus umum, angkot sampai ojek demi mencapai tempat tujuan. Petualangan seru menjelajah sekitar Jawa Tengah dengan cara kami sendiri.

Di rumah leluhur (saat ini ditempati paman dari pihak ayah) dan makam leluhur di Prembun dan Gombong, Jawa Tengah.

Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang saya hanya melihat hamparan sawah dan pemandangan yang hijau. Lebih kaget lagi ketika tiba di Prembun, rumah leluhur kakek-nenek saya dari pihak ayah, masih dikelilingi sawah dan tanaman hijau. Sejuk sekali. Suara kereta yang senantiasa melewati daerah rumah ini menambah melodi yang indah tentang alam pedesaan. Situasi alam tidak banyak berubah ketika saya mengunjungi tanah leluhur ini belasan tahun lalu.

Perjalanan berlanjut ke Gombong yang berjarak 2 jam dari Prembun. Kami kesini untuk menyekar ke makam leluhur dari pihak nenek. Letak makam yang berada di atas bukit membuat kami semakin kagum dengan keindahan alam sekitar yang sejuk dan damai.

Menjelang sore kami melanjutkan perjalanan dari Gombong menuju Wonosobo dengan menumpang bus umum. Serunya perjalanan ngeteng ini. Tiba di Wonosobo menjelang tengah malam dan kami mencari hotel kecil untuk bermalam. Udara sejuk yang menusuk tulang tetap tidak berubah seperti belasan tahun saya mengunjunginya. Langit malam yang bersih bertabur bintang selalu setia menemani langit Wonosobo yang sejuk.

Keesokan paginya, kami melanjutkan perjalanan menuju makam leluhur yang berusia ratusan tahun di kompleks pemakaman yang tidak jauh dari pusat kota. Kami berjalan kaki menuju kompleks makam yang terletak di atas bukit dengan pintu gerbang yang hijau pepohonan. Lagi-lagi sejauh mata memandang yang ada hanya pemandangan alam yang hijau dan indah. Di kompleks makam ini, para leluhur kami beristirahat dengan tenang.

Menjelang sore kami kembali ke Yogyakarta dengan menumpang bus umum dari Wonosobo. Perjalanan nyekar dan penuh dengan batin rohani yang penuh membuat saya berpikir bahwa saya tidak boleh melupakan leluhur. Minimal dengan mendoakannya dan mengunjungi dengan rutin makam-makamnya.

Seperti berkaca pada diri dan menjadi renungan sepanjang perjalanan kembali ke Yogyakarta, saya bisa mencapai dan menjejakkan kaki di negara-negara lain yang jaraknya sangat jauh dari negeri sendiri, menetap di sana dan berusaha untuk berbaur dengan penduduk dan memahami tradisi dan budaya mereka.

Karena itu, kebangetan yang amat sangat jika saya pulang kampung ke Indonesia tidak menyempatkan untuk menjejakkan kaki di tanah leluhur, yang pastinya punya andil atas jasa dan pengorbanan mereka sehingga saya bisa seperti saat ini.


Untuk para leluhur, juga untuk kakek-nenek dari kedua orang tua serta orang tua yang mengajarkan dan mengenalkan serta mengajak saya untuk tetap mengenang para leluhur.


Yogyakarta, Awal tahun 2011

Jumat, 29 Maret 2013

X. 1. Pulang kampung: Rindu Masakan dan Teman-teman Tercinta

Tahukah Anda bahwa hal yang paling menyenangkan dari berpetualang dan hidup nomaden adalah mempunyai waktu pulang kampung ke negeri sendiri?

Sakral bagi saya untuk bertemu keluarga dan teman-teman tersayang. Menghabiskan waktu tanpa stres memikirkan perjalanan, pekerjaan, beradaptasi dengan orang-orang baru serta harus bisa menempatkan diri di setiap keadaan adalah harga mati yang bisa saya dapatkan ketika pulang kampung.

Selain itu, pastinya, dong, menikmati kuliner negeri sendiri. Hal ini tidak bisa dipungkiri, selain rindu keluarga dan teman-teman, rindu masakan juga yang membuat saya menginjakkan kaki kembali ke negeri sendiri.

Setiap pulang kampung, saya menyempatkan bertemu teman-teman Cita Cinta, Femina Group, di mana kami berbagi ruang dan waktu selama hampir 5 tahun bersama. Walaupun saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan karena melanjutkan hidup ke Paris, komunikasi kami tidak putus begitu saja. Ikatan batin yang luar biasa, mengantarkan saya pada persahabatan ini.

Sahabat-sahabat yang membuat rindu.

Suka dan duka pun tetap kami bagi bersama. Kami tumbuh bersama dan akhirnya kami mengalami tahap hidup yang lebih bijaksana. Ceileee…hihihi. 

Banyak di antara kami yang telah menikah dan punya anak. Setiap bertemu mereka, selalu saja banyak hal yang seru yang bisa dibagi. Kalau mereka mengagumi setiap langkah saya hingga jauh ke negeri seberang sambil mempromosikan kebudayaan Indonesia dari menari dan membatik, saya malah bangga dengan mereka yang memilih konsisten untuk berkembang di jalur jurnalis yang kritis serta tidak berhenti berkarya.

Karena itulah kami saling berbagi dan saling mengisi. Tak heran, acara temu kangen diisi dengan berbagai macam topik yang seru. Dari pekerjaan sampai cita-cita di masa depan. 

Saya pun juga menyempatkan bertemu sahabat-sahabat tercinta sejak kami duduk di SMA. Dengan berjalannya waktu, kami pun tetap mejalin persahabatan. Jarak tidak menghalangi. Yang penting tetap dekat di hati.

Begitu juga dengan teman-teman kuliah di Perpajakan UI dan teman-teman di Perbanas. Walaupun tidak setiap pulang kampung saya bertemu mereka, yang penting mereka tetap ada di hati saya.

Yang penting lagi untuk ditemui ketika pulang kampung adalah teman-teman di Liga Tari UI. Obrolan tidak hanya seputar tari, tetapi juga tentang perjalanan, misi dan cita-cita kami untuk terus melestarikan kebudayaan Indonesia melalui seni tari.

Jadwal pekerjaan dan perjalanan saya yang tak pernah pasti, seringnya tidak bisa memastikan waktu pulang kampung. Jika ada sedikit waktu, saya tetap meluangkan untuk pulang, meskipun hanya seminggu. Biaya tiket yang mahal tidak menjadi kendala sepanjang terbayar bisa pulang kampung bertemu keluarga dan teman-teman.

Seringnya sih, saya membuat kejutan ketika pulang kampung. Hehe..bukannya tidak ingin dititipin oleh-oleh, karena saya selalu ambil keputusan di menit-menit terakhir ketika jadwal pekerjaan dan perjalanan yang tidak menentu.

Untuk seluruh sahabatku tercinta..
Dari berbagai belahan dunia..2005 sampai kini dan nanti..

Foto: sebagian koleksi Jes, Rahma




Selasa, 13 November 2012

I. 2. Liga Tari UI dan Misi Budaya tahun 2000


Inilah kami! Lengkap dengan alm. Pak Sumarno dan Pak Ari.

Saya tidak salah memilih UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang ditawarkan di UI untuk kegiatan para mahasiswanya. Dan Liga Tari menyatu dalam kegiatan kehidupan saya. Latihan reguler yang dilakukan setiap hari minggu, show, latihan latihan tambahan selain hari minggu, membuat saya semakin akrab dengan seluruh anggota yang terdiri dari para mahasiswa dari berbagai angkatan, fakultas dan jurusan di Universitas Indonesia. 

Di Liga Tari, kami mempelajari berbagai tarian dari daerah Jakarta, Sumatera dan Jawa Timur. Kami berbaur dengan berbagai angkatan dan saling membantu. Bahkan rasa kekeluargaan dan kekerabatan semakin terasa ketika kami lulus dari UI. Masih saling kontak dan bahkan tetap diminta bantuan ketika mereka ada show besar.


Tak hanya itu, pertalian pertemanan dengan anggota Liga Tari UI membawa dampak luas secara internasional.

Menjelang kelulusan diploma 3 di pertengahan tahun 2000, saya mendapat kado terindah dari kegiatan tari menari: Misi Budaya ke Prancis dan Spanyol selama sebulan. Bagi saya, perjalanan misi budaya ini bukan puncak karier saya yang telah bergabung di UKM ini, tetapi menjadi titik balik bahwa sampai dimana kesetiaan  terhadap UKM yang telah memberikan banyak pengalaman dan membuka pintu melihat negeri di seberang sana.

Merasakan perjuangan untuk bisa berangkat memperkenalkan budaya Indonesia khususnya di bidang tari menari, bukanlah perkara mudah. Banyak hal dipersiapkan. Selain materi tari yang bermutu, fisik dan mental juga dipersiapkan secara matang. Ditambah harus bijak membagi waktu antara kuliah, keluarga, teman, diri sendiri, latihan rutin, dan mencari dana.

Ketika waktu keberangkatan, berbagai macam perasaan emosional datang bersamaan. Tidak hanya emosi yang bercampur gembira dan haru, tetapi juga merasakan kelegaan bahwa perjuangan kami –setidaknya— sudah berhasil sampai tahap keberangkatan mengikuti Festival Tari Rakyat Sedunia. Orang tua yang selalu mendukung dan memberikan semangat, dengan sabar mengantar kami sampai ke pintu keberangkatan. Pesan ibu hanya satu waktu itu: banyak berdoa.

Perjalanan panjang dengan transit di bandara Abu Dhabi dan akhirnya kami mendarat di bandara Paris dengan selamat. Setelah pemeriksaan dokumen dan mengambil barang, kami disambut oleh panitia festival tari yang mengundang kami.

Kami tiba di Bandara Paris, Charles de Gaulle
Kami tiba di Paris! Kota sejuta cahaya ini menawarkan berbagai suasana. Dimana Menara Eiffel menjulang serta aliran Sungai Seine yang mengalir tenang yang memberikan banyak inspirasi seniman seluruh dunia untuk karyanya atau istana-istana raja yang berdiri kokoh seperti yang ada di dalam dongeng.

Dari bandara, kami mampir ke KBRI Paris untuk lapor diri dan menitipkan semua paspor kami. Pihak KBRI memberikan nasi kotak masakan Indonesia untuk rombongan kami sebagai bekal di perjalanan. Ya, kami tidak menari di Paris, tetapi di kota-kota kecil di tenggara Prancis dan di dua kota di Spanyol.

Inilah rute perjalanan kami selama di Prancis dan Spanyol.


Menuju Gueugnon: our heart stay there…
Setelah urusan lapor diri selesai, kami langsung menuju kota pertama tempat festival berlangsung, Gueugnon. Kota yang berada di bagian Prancis tenggara. Dengan menumpang bus yang disediakan oleh panitia festival, kami menempuh perjalanan hampir 4 jam.

Kami tinggal beberapa malam di kota Gueugnon dengan jadwal menari yg padat. Rombongan pun dipecah beberapa grup untuk dibagikan tempat tinggal. Sebagian besar tinggal di rumah penduduk lokal dan asrama sekolah. 

Keesokan harinya dan beberapa hari ke depan, kami menari di panggung besar yang didirikan di depan kantor walikota, di pasar kaget, di sekolah dan di Panti Jompo.

Makan pagi bersama anak-anak sekolah di Gueugnon

Karena rasa kekeluargaan yang erat dan berbaur dengan penduduk setempat, menjadi kendala ketika kami harus meninggalkan Gueugnon untuk melanjutkan festival di kota berikutnya. Mengucapkan selamat tinggal dan lambaian tangan diiringi mata berkaca-kaca mengantar kepergian kami.
Berpose di tengah-tengah menunggu giliran karnaval.
Ki-Ka Atas: Andhini, Diana, Inoy, Mia, Amatul, Dwi dan Saya.
Ki.-Ka Bawah: Kris (bersama sisingaan) dan Wayan.

Ourense: Kota Pertemuan di Ujung Barat Spanyol

Perjalanan tidak berhenti sampai disini. Kami melanjutkan ke kota Ourense, di bagian barat Spanyol yang nyaris berbatasan dengan Portugal. Di kota ini, kami dikunjungi oleh alm Pak Sumarno, salah satu alumni UI yang banyak memberikan dukungan untuk Misi Budaya ini. Dan juga Pak Ari, wakil Dekan FISIP UI yang juga Pembina Liga Tari UI.

Festival disini yang paling seru. Kami tidak hanya bertemu dengan teman-teman berbagai negara, tetapi juga kami tinggal di asrama sekolah dan dekat sekali dengan pusat kota. Jadwal festival yang padat setiap sore dan malam serta ada juga workshop bersama beberapa negara setelah makan siang, membuat kami sibuk dengan kegiatan baru ini. Tetapi bukan berarti kami tidak mempunyai waktu jalan-jalan ke pusat kota.
Tari Saman, salah satu tarian yang kami tampilkan di berbagai kota selama festival berlangsung.
Di Ourense ataupun sebagian besar kota-kota lainnya di Spanyol, toko-toko dan pusat perniagaan tutup antara jam 2 siang - jam 5 soreYa, olooohhh..ternyata tradisi ´la siesta´ (tidur siang) peninggalan nenek moyang masih terawat baik di kota ini. Sementara jadwal istirahat, makan siang dan tidak ada agenda parade dan jadwal pentas, ya, di jam yang sama ketika toko-toko pada tutup. Ih, kesel!. Tak ada jalan lain selain foto-foto di setiap sudut kota. Nggak bisa belanja. Dan hari terakhir di Ourense, seperti kejar setoran untuk membeli sekedar kenang-kenangan. Ini semacam pencarian harta karun dan berpacu dengan waktu. Seru!

Port-sur-Saone: Petugas Pendamping kami doyan Mi Instan!

Akhirnya festival di Ourense selesai dan kami kembali ke Prancis dan melanjutkan Festival di kota Port-sur-Saone, yang terletak di Prancis tenggara, dekat perbatasan Swiss. Di festival yang diikuti oleh 14 negara, kami meraih penghargaan. Betapa bangganya.

Di akhir festival, kami menerima penghargaan. 
Kalau pengalaman seru ada di Ourense, sedangkan yang lucu disini. Petugas pendamping yang mendampingi kami adalah sepasang anak muda asli penduduk kota tersebut. Mereka bukannya sibuk mendampingi kami, seperti memberitahu jadwal show atau sekedar mengajak orientasi festival, tetapi malah sering bertengkar. Berakhirnya, si cewek selalu mewek. 

Kami tidak mengerti bahasa prancis saat itu, hanya menebak-nebak sebabnya. Seperti orang Prancis kebanyakan, mereka tidak berbahasa inggris. Untunglah ada Cédric, pendamping kami yang setia mengikuti jadwal festival sejak awal. Cédric yang pernah tinggal di Indonesia dan bisa sedikit berbahasa Indonesia menjelaskan kepada kami mengapa mereka berantem. Sebenarnya bukan urusan kami mereka bertengkar, tetapi masalahnya waktunya sering tidak pas di saat mereka harus ´bekerja´. Misalnya ketika parade dimulai, pembagian waktu show atau ketika show akan berlangsung.

Pengalaman lucu lainnya adalah si cowok doyan banget mi instan. Kami memang membawa stok mi instan super banyak. Tengah malam setelah pentas, kadang-kadang kami menyantap mi instan. Tergantung situasi tempat tinggal, apakah memungkinkan untuk masak atau tidak. Nah, di Port-sur-Saone ini, kami tinggal di asrama sekolah yang ada dapur umumnya, jadi kami bisa memasak.

Suatu malam sehabis pentas, si cowok petugas pendamping itu ikutan menyantap mi instan. Eh, malam berikutnya dia datang lagi, untuk minta mi instan lagi. Lah? Haha..jelas, nggak dikasih lagi! Pelit, ya? Karena perjalanan kami masih lama dan itu untuk bekal di kota-kota selanjutnya.

Berbagi bus dengan Jepang
Setelah Port-sur-Saone, kami melanjutkan festival di kota-kota sekitarnya, seperti Vesoul, Remiremont dan Haguenau. Selama perjalanan ke beberapa kota tersebut, yang tadinya bus besar milik kami, harus berbagi tempat dengan rombongan budaya dari Jepang. Seru tapi rempong. Duduk sempit-sempitan nggak apa-apa, tapi barang bawaan mereka yang banyak banget dan makan tempat. Seperti topi lebar, bunga-bunga dan berbagai perlengkapan pentas lainnya.

Sempat berfoto dengan teman-teman dari Yugoslavia
Pengalaman yang menjadi kenangan adalah kami selalu menyempatkan berfoto dengan teman-teman berbagai negara. Negara-negara yang sering kami jumpai yaitu dari eropa timur, seperti Polandia dan Yugoslavia. Kami beruntung pernah berfoto dengan mereka yang waktu tahun 2000, negara tersebut masih kokoh berdiri. Dan sekarang negara itu hanya tinggal cerita. Berpetualang kemana, ya, teman-teman kami itu?

Berfoto bersama teman-teman dari Yugoslavia. 

Indonesia Raya berkumandang 
Dalam perjalanan ke salah kota setelah Port-sur-Saone, kami sejenak berhenti untuk mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menghormati Hari Kemerdekaan RI, 17 agustus 2000. Ide ini datang dari Ucuy, koreografer kami. Suasana haru pun dominan di hari itu. Karena kami berada di tempat yang jauh dari Indonesia, rasa nasionalisme dan perasaan bangga akan negara sendiri pun muncul dengan sendirinya. 

It´s finished but it´s not over (yet)

Akhirnya, festival tari ini berakhir di kota Haguenau di hari ke-29 kami menjelajah Prancis dan Spanyol. Waktu jugalah yang memisahkan kami dari pengalaman berharga ini. 

Pesan moral yang kami dapatkan dari perjalanan ini adalah membuat kami tidak hanya mempunyai rasa toleransi yang tinggi, namun juga melatih diri menjadi mandiri, menghargai orang lain, tidak egois dan tentunya bertambah bijaksana. 


Bisa dikatakan juga bahwa perjalanan Misi Budaya ini sangat berharga bagaimana menghadapi konflik antar sesama peserta, menahan emosi, mencari jalan keluar ketika ada masalah saat show atau di perjalanan serta menghilangkan sifat  egois. Juga tentunya tumbuh rasa kekeluargaan, rasa saling menghargai antar sesama penari, pemusik, pendamping dan orang-orang yang membantu kelancaran terlaksananya Misi Budaya ini.

Yang lebih pentingnya lagi adalah kebudayaan Indonesia yang sangat beraneka ragam, yang berasal dari berbagai propinsi dan daerah bisa kami perkenalkan. Walau tidak semua, tetapi kami berhasil membawa Propinsi Aceh, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali ke dunia internasional. Inginnya Budaya Indonesia yang lain juga dikenal di mancanegara. Suatu saat semoga saja cita-cita kami tercapai dengan dilanjutkannya Misi-misi Budaya selanjutnya oleh generasi penerus Liga Tari Mahasiswa UI 'Krida Budaya'.

Tari Glipang dari Jawa Timur ditampilkan oleh Dwi, Toby, Edhi dan Herman.


Cerita tersisa dari Misi Budaya...
  1. Pengalaman kami selalu seru setiap pindah negara. Entah itu masalah pembagian tempat tinggal dan kamar, tetapi juga sampai acara rebutan ke kamar mandi dan antrian makan siang dan malam yang cukup panjang. Apalagi jika kami menginap di asrama mahasiswa bersama peserta negara-negara lain. Kebayang, dong, antriannya? 
  2. Curi-curi pandang sesama peserta festival antar negara adalah hal seru. Tapi, kalau yang dicuri-curi pandang ternyata tidak suka perempuan? Langsung kami patah hati ;(
  3. Perjalanan di bus yang berjam-jam, seringkali membuat kami susah tidur atau mati gaya. Koreografer kami, Ucuy, memilih untuk tidur melantai di koridor bus. Dan...kejatuhan koper! Teganya kami bukan langsung menolong dengan mengangkat koper yang meniban dirinya, tetapi malah tertawa ngakak. Maaf, ya, Cuy...
  4. Telepon dan handpone masih menjadi barang langka dan mahal. Belum ada yang namanya facebook, twitter, blackberry messeger sampai line dan whatsapp. Tidak bisa update berita apalagi status, hihi...Oleh karena itu, melalui foto-foto dan video kami bercerita mengenai pengalaman berharga kami.



(Untuk teman-teman Liga Tari UI Misi Budaya tahun 2000: Lia, Andhini, Sovi, Inoy, Rama, Mia, Diana, Kris, Wayan, Dwi, Herman, Toby, Edhi. Dan juga Ucuy, koreografer. Para pemusik berbakat: Ntong, Da Nas, Da Wan, Da Samsir, Mas Wahyu. Sang fotografer handal, Amatul dan juga Cedric, LO yang setia mendampingi. Juga untuk alm. Pak Sumarno D dan Pak Ari yang mendukung kegiatan kami. Tak lupa juga untuk semua keluarga besar Liga Tari UI. Dan juga untuk Aan, ananda tercinta alm Pak Sumarno D, yang merelakan ayahanda menenguk kami jauh-jauh dari Indonesia ke Spanyol)

Foto: Koleksi Saskia dan Amatul
Foto peta: google maps