Like

Rabu, 01 Januari 2014

1 Januari 2014

Bonjour..Hai..Hola..Hello...

Selamat tahun baru 2014!
Meilleurs voeux..
Best wishes..

Ucapan-ucapan selamat tahun baru agar menjadi tahun yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya menjadi awal pembuka hari pertama di tahun 2014 ini.

Kami merayakannya dengan sederhana di suatu pedesaan di daerah pegunungan di tenggara Prancis bersama penduduk lokal, lengkap dengan masakan khusus untuk santap malam akhir tahun. Cukup seru untuk berganti suasana. Karena saat ini kami menetap di daerah Isère, Prancis yang memang dikelilingi pegunungan, kami ingin menikmati pergantian tahun ala penduduk lokal.

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar pegunungan. Semacam hiking tapi jalan santai. Tak disangka, kami berhasil mencapai ketinggian di 1290 meter dengan total hiking sejauh 9 km yang kami tempuh dalam waktu 3 jam 15 menit. 

Pemandangan yang tersaji di 1 januari 2014.


Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan alam yang menakjubkan. Udara yang sejuk (cenderung dingin, sih. Antara 7 - 9 derajat) dan sinar matahari yang royal menemani kami menikmati alam yang bersahabat. Selain itu, masih ada sisa-sisa salju yang turun minggu lalu, menambah cantik suasana pegunungan.

Resolusi tahun 2014 ini, saya tidak ingin muluk-muluk. Yang penting sehat, berkah dalam hidup berumah tangga, selalu terjalin silaturahmi yang baik antar keluarga dan teman, menjadi manusia yang lebih baik dengan menerima aneka kelemahan dan kelebihan orang-orang. Yang terakhir ini penting karena saya tinggal di perantauan yang tentunya sikap toleransi yang tinggi sangat diperlukan, mengingat saya bertemu dengan aneka macam sifat penduduk lokal dan penduduk dari negara lain juga. Selain itu, keinginan yang lain adalah meneruskan menulis blog dan berbagi tentang hidup nomaden. Kali ini tentang Prancis bagian tenggara. 

Sekali lagi...selamat tahun baru 2014!







Selasa, 31 Desember 2013

Our Big Project in 2013

Hai..hola..hello..

Lagi-lagi sudah lama saya tidak update blog, walaupun ada, sih, beberapa posting, tetapi tidak rutin.

Nah, ada alasannya mengapa saya kurang rutin update blog. Bukan karena bosan atau kurang bahan posting-an (ini justru banyak dan masih antri beberapa artikel tentang Mexico yang belum seluruhnya saya ceritakan, lalu ada cerita tentang musim panas di Paris, tentang penjelajahan ke tanah leluhur di tanah Jawa sampai cerita terbaru tentang perjalanan hidup saya yang akhirnya pindah dari Mexico ke Prancis, (tentunya mampir dulu ke Indonesia).

Memilih perjalanan hidup dan menjalaninya…

Saat memutuskan hidup nomaden, ada saatnya saya berlabuh. Bukan hanya berlabuh untuk menetap untuk hidup di suatu tempat, tetapi memilih hati untuk berlabuh. Inilah salah satu proyek besar saya di tahun 2013. Ya! Akhirnya saya memutuskan untuk menikah dengan pria pilihan. Bukan waktu yang sebentar untuk sampai pada tahapan pilihan ini. Tidak mudah. Karena kami berasal dari berbagai latar belakang yang serba berbeda: mulai dari negara, budaya sampai kebiasaan. Kalau bukan karena jalanNya dan karena cinta, manalah kami bisa mengatasi semua ini…

Dengan adanya proyek besar ini, maklum ya, kalau blog agak terbengkalai. Urusan hidup pribadi untuk hal ini tentu butuh fokus. Setuju, kan?

Kalau saya lihat kilas balik awal tahun 2013, keinginan saya adalah menulis blog dalam 4 bahasa: Indonesia, inggris, prancis dan spanyol. Terlalu ambisius ya, sebenarnya? Tergantung dilihat dari segi apa. Karena tujuan saya waktu itu adalah mengasah seluruh kemampuan bahasa yang saya pelajari agar menjadi sempurna. Tahapannya adalah tidak segan membaca dan menulis dengan tekun bahasa-bahasa yang saya kuasai itu. Tetapi, karena proyek besar ini menguras pikiran dan tenaga, akhirnya saya harus membuat prioritas di tahun 2013 dan untuk fokus dulu ke proyek besar ini, yaitu pernikahan.


Ketika kami mengatakan ´bersedia….´

Rangkaian upacara pernikahan yang kami pilih adalah adat Jawa. Karena kedua orang tua dan para para leluhur saya berasal dari Jawa, ditambah saya adalah anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara (kakak dan adik saya laki-laki).

Sebelumnya, tentu ada perdebatan untuk melakukan rangkaian upacara yang seperti apa. Calon suami berasal dari Prancis, saya dari Indonesia. Tadinya kami ingin menikah secara sederhana ala prancis di daerah kastil di Prancis Selatan. Orangtua kami menyerahkan seluruh keputusan di tangan kami. 

Tetapi nasib berkata lain, akhirnya kami memutuskan untuk menikah dengan adat Jawa lengkap. Hal ini kami lakukan untuk menghormati orangtua, melestarikan budaya Jawa dan membahagiakan orangtua. Dan calon suami dan keluarganya pun menyetujui dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian upacara adat yang seluruhnya berlangsung selama 4 hari.

Kilas balik 2013 dan Resolusi 2014…

Bersyukur karena tahun 2013 ini berlimpah ruah nikmat yang saya peroleh. Selain proyek besar berjalan lancar, diberikan kesehatan dan saya bisa menghabiskan waktu lebih lama di Indonesia bersama orang tua, nenek, keluarga besar dan sahabat-sahabat tercinta. Tentu juga saya tidak sendiri lagi, hehe…sekarang ada suami yang siap berbagi suka dan duka.

Nah, waktunya saya memulai hidup baru, harapan baru, resolusi baru, dan bersyukur atas nikmatnya. Nah, bagaimana dengan Anda?

Selamat tahun baru 2014…
Happy New Year 2014..
Bonne Année 2014..
Feliz Año Nuevo 2014..



Selasa, 19 November 2013

Rembang dan Lasem : Berkelana Tanpa Mesin Waktu


Teknologi canggih. Twitter. Napak tilas leluhur.

Tiga kalimat tersebut yang dapat menggambarkan mengapa saya menjejakkan kaki di Rembang dan Lasem, Jawa Tengah, Indonesia.

Jika bukan karena media sosial di mana seluruh umat manusia ini berinteraksi – Indonesia tanpa kecuali, secara tak sengaja bertemu Fahmi Anhar yang membawa perkenalan saya kepada Mas Pop. Beliau adalah pencetus ide, pendiri dan penggerak Rembang Heritage Society.

Perjalanan saya ke pesisir dan ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah untuk ziarah dan napak tilas jepara leluhur saya yang tersebar di tanah Jawa. Bermula dari Semarang, Jepara, lalu ke Pati berlanjut ke Rembang, Tuban sampai ke Surabaya, Yogyakarta dan Purwokerto.

Terpesona Rembang dan Lasem

Waktu berpihak kepada saya yang pada saat bersamaan saya tiba di Rembang, ternyata Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society mengadakan acara Malam Pusaka di desa Tariksono, Lasem. Jadilah saya bisa hadir di tengah-tengah mereka. 

Bersama Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society di Malam Pusaka Lasem di desa Tariksono.

Acara yang diprakarsai oleh Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem dan Rembang Heritage Society adalah bertujuan mengumpulkan, mempresentasikan serta mengajak masyarakat untuk peduli dengan pusaka, yang tidak hanya berbentuk barang, tetapi juga tempat sejarah dan alam. Bahkan Pak Kepala desa pun hadir memberikan dukungan. Dari acara tersebut, saya mendapat banyak teman. Senang sekali bisa hadir di tengah-tengah mereka.

Keesokan harinya, Mas Pop menemani saya berjalan-jalan keliling Lasem yang dimulai dari ladang garam yang terhampar luas di pesisir pantai Lasem. Para petani garam yang bekerja tanpa lelah menunjukkan dedikasi atas pekerjaan mereka. Saya pun dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indah dari aktivitas yang ada pada siang menjelang sore hari tersebut.

Ladang garam di pesisir pantai Lasem.


Perjalanan dilanjutkan mengunjungi sebuah Klenteng tua yang masih terawat, yang menjadi saksi bisu serajarah Lasem yang pernah berjaya dimasanya. Seakan dimensi waktu tidak bergerak, saya masih bisa menyaksikan deretan bangunan tua yang tak peduli dengan perubahan waktu dan zaman.



Mereka yang hidup dalam harmoni dan ketentraman…

Potret Lasem yang saya tangkap kurang dari 48 jam adalah menawarkan kejujuran, sederhana dan apa adanya. Seperti kebanyakan potret penduduk Jawa yang nrimo keadaan, membuat Lasem mensyukuri karuniaNya dan tidak berambisi untuk melakukan perubahan. Yang membuat trenyuh adalah mereka masih bersedia berbagi dalam keterbatasan.

Hidup dalam harmoni dan kesederhanaan.


Contoh nyata yang saya alami adalah ketika mas Pop mengajak saya mengunjungi Rumah Oma-Opa dan Mbak Minuk di desa Karangturi. Mereka adalah salah satu potret penduduk Lasem yang tidak neko-neko. Ceria dan nrimo mengisi hari senjanya dengan bersyukur dan tidak mempunyai keinginan yang muluk. Sungguh damai, sejahtera dan legowo mengisi hidupnya.

Mengenal Batik Lasem

Ketika matahari sudah tenggelam, perjalanan selanjutnya adalah mengunjungi pengrajin batik yang juga penari tradisional di desa Sendangsari. Adalah Pak Parlan, seniman yang serba bisa: membatik, menari dan mengajar tari Jawa untuk melestarikan kesenian Jawa. Untuk melihat langsung apa yang dikerjakan pak Parlan, saya pun diajak untuk menyaksikan langsung pelatihan batik yang dibina olehnya di Desa Matingan, Bulu yang tidak jauh letaknya dari Makam Pahlawan Nasional RA Kartini.

Batik Lasem dan pelatihannya di desa Mantingan-Bulu binaan Pak Parlan.

Blusukan ke pasar tradisional dan wisata kuliner

Keesokan harinya, Mas Pop mengajak saya untuk mengenal semakin dekat masyarakat Rembang-Lasem adalah mengunjungi pasar tradisional serta berwisata kuliner.

Di pasar tradisional Rembang, kita bisa menyaksikan interaksi langsung antara penjual dan pembeli, yang rata-rata penjualnya sudah sepuh tetapi masih bersemangat mencari rejeki. Dari penjual sayur, makanan, ikan asin sampai kutang tradisional bisa saya temukan di sana. Ssttt...saya pun membeli beberapa kutang jawa yang biasa dipakai nenek-nenek ketika berkebaya, hehe..jarang, kan, kita jumpai lagi di pasar-pasar? Semog kutang-kutang dan kebaya-kebaya tidak punah dengan arus perkembangan zaman yang berganti gaya berpakaian. 

Potret kehidupan dan aktivitas masyarakat.

Setelah bluskan ke pasar dan membeli aneka jajanan, kami berwisata kuliner yang dikenalkan Mas Pop pagi itu adalah sate Srepeh yang letaknya tidak jauh dari pusat kota Rembang. Sangat lezat dan mengenyangkan sebelum saya melanjutkan perjalan menuju Surabaya dengan menumpang bus umum yang melewati pesisir Jawa.


Secuil goresan tentang Rembang-Lasem…

  • Mengutip kata mas Matoya dari Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem pada Malam Pusaka, sebaiknya tidak tinggal lebih dari 2 hari di Lasem? Mengapa? Karena akan jatuh cinta. Tidak perlu menunggu 2 hari sampai jatuh cinta. Kesederhaan, kejujuran dan apa adanya Lasem sudah membuat saya terpesona.
  • Jarak Rembang-Lasem kurang lebih 12 km, jadi tidak terlalu jauh untuk mondar-mandir.
  • Menyajikan harmonisasi dalam setiap nadi kehidupannya dengan berbaurnya kebudayaan Jawa, Arab dan Cina dalam kehidupan sehari-hari, berupa sisa peninggalan bangunan, budaya maupun ritme kehidupan sehari-hari.
Arsitektur favorit saya: pintu.
  • Beruntung bisa menyaksikan wayang kulit di salah satu acara resepsi pernikahan yang digelar tak jauh dari rumah Pak Parlan, sang penari dan pengrajin batik.
  • Kagum dengan para pemuda yang bergabung dalam wadah komunitas yang tergerak mengumpulkan pusaka yang berbentuk peninggalan budaya dan alam yang masih ada di Rembang-Lasem.
  • Sedikit pesan dari saya: jika Anda mempunyai waktu dan ingin mengenal tujuan plesiran yang agak berbeda, kunjungilah Rembang-Lasem. Dua kota di pesisir Jawa Tengah yang mempunyai daya tarik tersembunyi.


Matur nuwun Mas Pop, Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem, Rembang Heritage dan Fahmi Anhar serta para leluhur saya yang meninggalkan jejak di pesisir Jawa.